Curiga Dicurangi, Mantan Cawapres ini Minta Perhitungan Suara Diulang  Ferdinand Marcos Jr (Foto: CNN Philiphines)

MerahPutih.Com - Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menerima sebuah kekalahan. Apalagi kekalahan itu dicurigai karena kecurangan dalam perhitungan suara. Maka tidak ada pilihan lain, kecuali berjuang supaya proses perhitungan suara diulang. Hal inilah yang dilakukan Ferdinand Marcos Jr ketika kalah dalam pemilihan wakil presiden Filipina 2016 silam.

Hari ini, Senin (2/4) berdasarkan perintah Mahkamah Agung, lembaga pemilihan umum setempat melakukan perhitungan ulang suara secara manual. Perhitungan ulang itu demi membuktikan tuduhan Marcos Jr bahwa dirinya dicurangi habis-habisan sekaligus meyakinkan para pendukungnya bahwa dirinya memenangi pemilihan wakil presiden.

Ferdinand Marcos Jr, mantan senator dikenal dengan sebutan Bongbong, sangat marah karena kalah dari Leni Robredo dengan selisih 260.000 suara dalam pemilihan umum pada Mei 2016, yang disebutnya dirusak oleh kecurangan besar-besaran.

Banyak pengamat politik percaya bahwa Marcos memiliki ambisi menjadi presiden pada suatu hari nanti dan ingin menggunakan jabatan wakil presiden sebagai batu loncatan. Jajak pendapat menunjukkan ia menang dalam pemungutan suara, terpisah dari jajak pendapat kepresidenan.

Penghitungan ulang, yang diperintahkan Mahkamah Agung, dimulai dengan Marcos, yang mempertanyakan keadaan beberapa surat suara dari Kotabato di provinsi asal Robredo, Camarines Selatan.

Senator Bong dari Filipina
Putra Marcos menunjukan kertas suara yang disebutnya bukti kecurangan (Foto: Gettyimages)

"Di empat daerah di kota Bato, semua surat suara basah dan dengan demikian tidak berguna," katanya kepada wartawan sebagaimana dilansir Antara dari Reuters. Ia menyinggung tindakan kotor dan menambahkan bahwa surat suara tampaknya sengaja dibuat basah baru-baru ini.

Catatan audit untuk sebagian besar daerah itu hilang, katanya, dan ia telah melihat kotak suara dengan lubang yang ditutup dengan selotip.

"Kami tidak perlu takut karena kebenaran adalah apa yang kami perjuangkan," kata Robredo, seorang anggota kongres sebelum pemilihan 2016, dalam sebuah pidato setelah kebaktian massal yang diselenggarakan oleh para pendukungnya di negara yang sebagian besar beragama Katolik Roma tersebut.

Robredo, yang berasal dari satu pihak politik lama yang menentang Duterte dan membantu menggulingkan Marcos pada tahun 1986, telah mengajukan protes tandingan yang mempertanyakan hasi sekitar 8.000 suara di daerah pemilihan.

Meskipun bukan pasangannya, Marcos memiliki hubungan baik dengan Presiden Rodrigo Duterte yang telah membuat banyak konsesi bagi keluarga Marcos.

Duterte terus-menerus memuji kepemimpinan mendiang diktator, memicu kekhawatiran di antara beberapa orang Filipina bahwa dia mungkin akan terus berkuasa.

Ferdinand Marcos memberlakukan darurat militer pada 1972 dan memegang kekuasaan 14 tahun hingga penghentiannya dalam pemberontakan "Kekuatan Rakyat", atau People Power yang didukung militer.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH