COVID-19 Bermutasi di Malaysia, Ahli Patogen Tiongkok Redam Ketakutan Massal Ilustrasi virus COVID-19 mulai bermutasi. (Foto: pixabay/tumisu)

MerahPutih.com - Mutasi D614G dari virus COVID-19 teruji 10 kali lipat mudah menginfeksi pada seseorang di Malaysia. Untuk itu, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Malaysia Noor Hisham Abdullah seraya mengingatkan masyarakat negeri jiran itu agar lebih waspada.

Kasus mutasi serupa juga terjadi di India dan Jepang sehingga menjadi perhatian masyarakat internasional di tengah berlangsungnya uji coba vaksin COVID-19 dan kasus positif sudah mencapai angka 22 juta itu. Meski demikian, Pakar Kesehatan Tiongkok Yang Zhanqiu menganggap mutasi virus corona yang terdeteksi di Malaysia itu masih batas kewajaran.

Baca Juga:

Twitter Berantas Penyebar Teori Konspirasi 5G Virus Corona

"Karena virus itu beradaptasi dengan DNA warga dan lingkungan setempat," kata Wakil Kepala Jurusan Biologi Patogen Wuhan University itu, dikutip Antara dari media resmi Tiongkok, Selasa (18/8).

Menurut Yang, satu alur penularan bisa membentuk alur baru jika lebih dari 20 persen genetiknya bermutasi sehingga dapat menyebabkan vaksin kehilangan efektivitasnya. Namun dia buru-buru menyatakan kemungkinan tersebut sangat rendah.

Universitas Oxford mendapatkan hasil yang cukup mengejutkan dalam pengembangan vaksin corona (Foto: pixabay/geralt)

Pada 12 Agustus, sebuah hasil penelitian yang diterbitkan oleh Institut Penyakit Menular Nasional Jepang juga menunjukkan bahwa sejak akhir Mei, virus corona versi mutasi yang sebelumnya tersebar luas di Eropa merambah Jepang. Media Jepang melaporkan sebagian besar pasien yang baru-baru ini dikonfirmasi positif di Jepang diyakini telah terinfeksi virus akibat mutasi.

Satu tim peneliti genomik mengidentifikasi 73 jenis virus corona di Odisha, India, setelah melacak 1.536 sampel, termasuk 752 sampel klinis, seperti dilaporkan media India.

Para ahli Tiongkok berupaya menenangkan masyarakat dengan menjelaskan bahwa pertama, mutasi tidak serta-merta memengaruhi lokasi target vaksin dan kedua, vaksin eksperimental saat ini biasanya mencakup lebih dari satu lokasi target untuk memastikan kemanjurannya.

"Mutasi tersebut tidak akan mengubah kemanjuran sebuah obat," tutup Yang, yang juga Profesor di bidang Biologi Patogen itu. (*)

Baca juga:

Peretas Rusia Diduga Curi Data Vaksin Virus Corona


Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH