Corona Bikin The Fed 'Tembakkan Peluru Kendali', SBY: Situasi Sudah Serius Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Merahputih.com - Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai Pandemi Corona telah menimbulkan gejolak ekonomi yang serius terhadap ekonomi global dan juga Indonesia.

Tanda gejolak ekonomi yang serius itu, sudah ditunjukkan oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve, dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 0-0,25 persen dan juga mengaktifkan kembali program pembelian aset (Quantitative Easing/QE) senilai 700 miliar dolar AS.

“Yang mengerti ekonomi, kalau The Fed sudah “menembakkan peluru kendali” seperti ini, berarti situasi sudah serius. Berbagai bank sentral di seluruh dunia juga melakukan langkah-langkah yang serupa,” kata SBY dalam pernyatannnya di Jakarta, Selasa (18/3).

Baca Juga

Mahasiswa IPB Tertular Virus Corona di Jakarta

Gejolak ekonomi itu terjadi secara global dan juga Indonesia. “Simak rontoknya harga-harga saham, minyak dan nilai tukar. Juga berbagi pukulan yang menggoyahkan pilar dan fundamental perekonomian banyak negara. Termasuk Indonesia,” jelas SBY.

SBY menilai Indonesia perlu menerapkan respon kebijakan yang tepat dan tidak terlambat untuk menghadapi gejolak ekonomi global saat ini akibat pandemi virus Corona (COVID-19).

Di samping itu, ekonomi Indonesia masih memiliki sejumlah masalah fundamental yang perlu dibenahi. Namun SBY optimistis bahwa akan ada upaya untuk menghadapi kesulitan gejolak ekonomi global saat ini

“Saya termasuk orang yang optimistis, tapi juga realistis. Selalu ada jalan ketika kita menghadapi kesulitan. Setiap masalah selalu ada solusinya, yang penting jangan terlambat untuk berbuat. Pilih solusi paling tepat dan jalankan dengan segala daya upaya. Insya Allah berhasil," beber dia.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melambaikan tangan usai pidato pada Refleksi Pergantian Tahun Partai Demokrat di JCC, Rabu (11/12). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

SBY menjelaskan pengalaman krisis ekonomi global pada1998 dan 2008. Menurutnya, pada 1998, Indonesia harus menerima dampak signifikan dari krisis ekonomi 1998. Sedangkan pada 2008, sebagaimana dikutip Antara, ekonomi Indonesia bisa bertahan karena pemerintah mampu meminimalkan dampak krisis.

"Banyak pakar ekonomi, pemimpin dunia usaha, elemen pemerintah di banyak negara yang khawatir gejolak ini bisa membuat dunia jatuh ke resesi yang dalam dan panjang. Bahkan ada yang cemas kalau krisis ini jauh lebih berat dibanding tahun 1998 dan 2008 dulu," kata SBY.

Baca Juga

Di Tengah Wabah Corona, Pendatang dari Delapan Negara Ini Dilarang Masuk Indonesia

"Untuk meredakan badai ekonomi diperlukan penanganan bersama yang serius dan terus-menerus. Tentu termasuk kebijakan dan tindakan yang dilakukan secara nasional, di masing-masing negara," ujarnya. (Pon)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
40 Sampel DNA Keluarga Korban Sriwijaya Air Diterima Tim DVI Polri
Indonesia
40 Sampel DNA Keluarga Korban Sriwijaya Air Diterima Tim DVI Polri

"Dapat kami sampaikan sampai jam 09.00 pagi tim DVI telah mendapat 40 sampel DNA," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono

PT KAI Manfaatkan Kenaikan Presentase Penumpang Kampanyekan 3M
Indonesia
Kasus Corona Meningkat, PSSB Tangsel Dipastikan Diperpanjang
Indonesia
Kasus Corona Meningkat, PSSB Tangsel Dipastikan Diperpanjang

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang Selatan dipastikan bakal diperpanjang.

547 Industri Makanan di Cirebon Kantongi Sertifikat Halal
Indonesia
547 Industri Makanan di Cirebon Kantongi Sertifikat Halal

Fasilitasi sertifikasi halal secara kolektif oleh Pemkab Indramayu, akan lebih mudah dilakukan bila dibandingkan dengan pengajuan sendiri oleh para pelaku IKM.

PJJA Sebut Perluasan Ancol Bukan Reklamasi
Indonesia
PJJA Sebut Perluasan Ancol Bukan Reklamasi

"Ini perluasan daratan. kan nempel darat," kata Direktur Utama PT PJAA Teuku Sahir Syahali

Masjid Agung Keraton Surakarta Mulai Adakan Salat Jumat
Indonesia
Masjid Agung Keraton Surakarta Mulai Adakan Salat Jumat

MUI tetap meminta pada pengelola tempat ibadah agar waspada akan penularan virus corona.

Pandemi COVID 19, Pendapatan Negara Turun Rp60 Triliun
Indonesia
Pandemi COVID 19, Pendapatan Negara Turun Rp60 Triliun

Belanja negara yang lebih tinggi Rp125,3 triliun antara lain untuk menampung tambahan kebutuhan anggaran pemulihan ekonomi.

Update COVID-19 DKI Jumat (19/6): 13.598 Positif, 8.825 Sembuh
Indonesia
Update COVID-19 DKI Jumat (19/6): 13.598 Positif, 8.825 Sembuh

Ada penambahan kasus sembuh sebanyak 180 orang

Akun Twitter Tokoh Dunia Diretas, Pengguna 'Burung Biru' Diminta Waspada
Indonesia
Akun Twitter Tokoh Dunia Diretas, Pengguna 'Burung Biru' Diminta Waspada

Pemilik bitcoin ini seharusnya lebih melek soal siber

Lemahnya Kemenkes Jadi Lahan Bisnis RS Swasta Mainkan Harga Rapid Test
Indonesia
Lemahnya Kemenkes Jadi Lahan Bisnis RS Swasta Mainkan Harga Rapid Test

Menurut Trubus, harga rapid test sebesar Rp150 yang ditetapkan Kemenkes masih terbilang normal