Coffee Shop Bisa Manfaatkan Data BGI untuk Cari Barista Tetap Barista Asuh masih terus berjalan (Foto: Pexels/Porapak Apichodilok)

SAAT live instagram bersama @newsmerahputih, Sabtu (13/6) mengenai pembahasan 'Membangun semangat dan energi dalam barista asuh', Yudistira dari Barista Guild Indonesia (BGI) menjadi salah satu pembicara.

Dalam kesempatan ini, pria yang akrab disapa Yudis itu menyampaikan beberapa hal penting soal Barista Asuh, khususnya masalah data Barista yang menjadi korban PHK akibat pandemi virus Corona di Indonesia.

Baca juga:

35 Coffee Shop Siap Ikut Gerakan Barista Asuh

"Barista guild indonesia sejak Maret lalu melakukan pendataan sebanyak apa barista di indonesia yang terkena PHK atau dirumahkan, sekarang sudah lebih dari 1000 orang," ucap Yudistira.

Yudis berpesan kepada para barista yang belum dipanggil program Barista Asuh agar bersabar. Beberapa barista yang ada pada data BGI belum bisa mendapatkan kesempatan nge-shift karena keterbatasan slot dan Coffee Shop yang siap menampung.

Yudis ingin para barista yang belum mendapatkan kesempatan nge-shift bersabar (Foto: Pexels/Chevanon Photography)

Langkah BGI tak sampai disitu saja. Data para barista korban PHK yang telah dihimpun juga diteruskan ke Coffee Shop yang membuka lowongan pekerjaan dan sedang mencari barista untuk menjadi karyawan.

Data jumlah barista korban PHK tersebut dihimpun dari beberapa cluster atau wilayah di Indonesia. BGI juga mempunyai data Coffee Shop yang ada di sejumlah wilayah, khususnya di pulau Jawa dan Bali. Kedua wilayah tersebut menurut Yudis paling mendukung gerakan Barista Asuh.

Setelah mendapat data para barista tersebut, BGI pun memblast email kepada barista yang berada di wilayah Jawa dan Bali untuk mengirimkan data yang lebih detail. Data tersebut akan diberikan kepada Coffee Shop untuk menyaring kandidat barista yang akan mereka berikan kesempatan nge-shift.

Baca juga:

Barista Asuh, Bukti Industri Kopi Indonesia tak Pernah Cengeng dan Mengeluh

Kandidat barista yang paling mungkin terpilih untuk nge-shift ialah yang jarak tempat tinggal menuju Coffee Shop dekat. Keputusan diterimanya tergantung dari kebijakan owner Coffee Shop masing-masing. Para barista nantinya juga bisa mendapatkan apresiasi dalam bentuk uang maupun bingkisan.

85 persen barista yang ikut program ini berusia 19-25 tahun (Foto: Pexels/Ryan Horn)

Menurut Yudis, dari 1000 kandidat, sebanyak 85 persen usia barista berada di kisaran 19-25 tahun. Mereka juga masih lajang. Para barista lajang ini kata Yudis tidak terlalu memiliki beban finansial. Mereka masih mendapat sokongan orang tua.

Yudis juga mengatakan peran BGI dalam program Barista Asuh layaknya mak comblang. BGI harus menyesuaikan kandidat barista yang diinginkan Coffee Shop untuk diasuh.

Lanjut Yudis, program Barista Asuh cukup mendapat antensi yang luar biasa dari para barista. "Kalau sesi interview memang kita gak ada, tapi dari segi mendaftar mereka berminat itu banyak sekali," ucap Yudis.

Saat ini program Barista Asuh tengah dijalankan secara continue. Hal ini dikarenakan BGI dan seluruh pihak yang menggerakan Barista Asuh belum bisa memastikan kapan pandemi berakhir. (ryn)

Baca juga:

“The New Normal” Industri Kopi di Tengah Pandemi COVID-19 Menurut Mikael Jasin

Kredit : raden_yusuf


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH