Codex Leicester, Buku Termahal di Dunia Seharga Ferrari Langka Codex Leicester, buku termahal di dunia. (foto: business insider)

APA yang Anda lakukan dengan Rp 400 miliar lebih di tangan? Beli mobil mewah, rumah bak istana, atau mungkin sebuah pulau pribadi, itu bisa jadi pilihan Anda. Namun, nyatanya dengan uang itu Anda bisa mendapatkan sebuah barang yang amat berharga. Apa itu?

Codex Leicester, sebuah buku Leonardo Da Vinci, dihargai lebih dari Rp 410 miliar. Jumlah itu seharga dengan Ferrari 250 TR tahun 1957. Buku tersebut dipercaya sebagai yang paling terpenting dari rangkaian tulisan ilmiah yang pernah ditulis Da Vinci. Jamaknya karya Da Vinci lainnya yang jadi sumber pengetahuan, harga setinggi itu pantas.

Da Vinci ialah salah satu ilmuan jenius pada masa Renaissance. Dengan cover buku berwarna merah, Codex Leicester berbahasa Italia kuno dan merupakan hasil tulisan tangan Da Vinci sendiri, bukan sebuah cetakan.

Agaknya sedikit mustahil sepertinya ada seseorang yang menginginkan buku semahal itu. Anda sendiri pasti akan berpikir ribuan kali sebelum membelinya. Akan tetapi, buku tersebut sudah terjual. Orang terkaya kedua di dunia menurut versi CBS News, Bill Gates, ialah pemilik buku Codex Leicester.

Pendiri Microsoft itu membeli buku setebal 72 halaman pada sebuah lelang Christie pada 11 November 1994 yang diselenggarakan di New York, AS. Sebagai seorang miliarder, Gates memang gemar membaca dan peduli terhadap sesama. Salah satu bentuk kepeduliannya ialah terhadap bidang pendidikan.

Gates beberapa kali meminjamkan buku tersebut untuk keperluan pendidikan. Seperti misalnya pada 2015 silam, sang miliarder meminjamkan buku tersebut ke Minneapolis Institute of Arts. Selain itu, Phoenix Art Museum juga pernah menjadi tempat buku Codex Leicester itu dipajang. Beberapa museum di Eropa sempat menjadi persinggahan buku itu.

Gates memang kaya raya. Uangnya tidak berseri, tidak perlu ditanyakan lagi. Namun, bukan karena banyak uang pria kelahiran 28 Oktober 1955 itu membeli Codex Leicester. Ia terkagum-kagum dengan teori yang dikemukakan Da Vinci lewat buku tersebut.

codex leicester
Bagian buku Codex Leicester. (foto: fanpop)

Singkatnya, di dalam buku yang terbit pada 1510 itu mencakup teori ilmiah Da Vinci. Pria berkebangsaan Italia itu memfokuskan tulisan berdasarkan pemikirannya mengenai hal yang berkaitan dengan air, pasang surut, pusaran, bendungan, serta hubungan antara Bulan, Bumi, dan Matahari.

"Ini merupakan inspirasi bahwa dia terus mendorong dirinya sendiri. Bahwa dia menemukan pengetahuan itu sendiri sebagai hal yang paling indah," ungkap Gates seperti dikutip dari laman Fast Company.

Menurut Gates, sosok Da Vinci tidak pernah berhenti menuangkan pemikirannya demi ilmu pengetahuan. Reporter 60 Minutes memperkirakan bahwa Gates memiliki obsesi mengenai sistem kerja alam yang sudah diulik habis melalui tulisan-tulisan Da Vinci. Tidak mengherankan jika pengusaha seperti Gates tertarik dengan pemikiran Da Vinci yang tertulis seperti sebuah brainstorming.

"Ini bukan dokumen sederhana yang mencatat proses pemikirannya; itu merupakan dokumen yang sangat berantakan, tempat ia mengembangkan ide-idenya," kata kurator Alex Bortolot kepada Star Tribune, seperti dikutip dari Business Insider.

Membaca tulisan yang ada pada buku itu berbeda dengan buku lainnya. Tulisan yang ada pada Codex Leicester bergaya khas cermin ala Da Vinci. Dibacanya berbalik seperti membaca tulisan berbahasa Arab. Jadi membaca tulisannya dimulai dari kanan ke kiri.

Pemilik Codex Leicester sebenarnya turun-menurun. Gates bukan menjadi orang pertama yang memiliki buku yang juga nama alias Hammer Codex. Buku itu berpindah tangan dari nama-nama seperti Giovanni della Porta, Giuseppe Ghezzi, Thomas Coke, 1st Earl of Leicester, dan Armand Hammer. Akhirnya kepemilikan jatuh kepada Bill Gates dari 1994 hingga saat ini.

Gates memiliki setiap halamannya tanpa batas dan dipindai untuk membuat versi digital, bagian yang disertakan dengan produk Microsoft.

Naskah hasil pindaian itu sendiri terakhir ditampilkan di Italia pada 1995 di Venesia. Ada pula yang diterjemahkan dalam bahasa Italia modern dan bahasa Inggris. Tiga buku karangan Da Vinci yang sudah dipindai dipajang permanen di Italia, dua di Milan, dan satu lagi di Turin.

Jika Anda penasaran, Anda bisa melihatnya langsung jika berkesempatan berlibur ke Italia. Tahun ini, kabarnya buku tersebut akan dipamerkan di Galeri Uffizi di Florence, Italia. Pameran tersebut akan berlangsung pada Oktober 2018 hingga Januari 2019.(Ikh)

Kredit : digdo


Dwi Astarini