Mengenal Chrisye Si Anak Jail dan Hobinya Melempari Kereta Dari kiri-kanan: Vicky, Joris, dan Chrisye. (Foto: dokumen keluarga Chrisye)

SEDERET aturan dan jadwal baku menjadi irama hidup sehari-hari keluarga Rahadi. Hanna Rahadi, sang mami, mengatur pembagian waktu secara ketat kepada seluruh anggota keluarga, mulai dari bangun tidur, makan, hingga waktu belajar ketiga putranya. Mereka sangat patuh pada aturan maminya, tapi di luar rumah terutama Chrisye dan Vicky tetaplah anak-anak dengan kenakalan khas anak kecil seusianya.

Mereka berkawan akrab dengan anak-anak keluarga Nasution, Rayendra (Yeyen), Zulham Gadahar (Zu`am), Bamid Gauri (Gauri), Rada Krishnan (Keenan), Nauddin (Odink), dan Debymurti (Debie). Uniknya, semua laki-laki. Mirip seperti mes tentara. Bila sudah kumpul, mereka senang bermain badminton lengkap dengan wasit dan pemandu sorak.

Kalau sudah bosan main badminton, mereka beralih main layangan hingga muka Chrisye kemerahan dan rambut bau matahari.

“Menteng buat saya adalah surga bagi anak-anak kecil,” ungkap Chrisye dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal. Di tahun 1950-an, Menteng, menurutnya merupakan kawasan teduh, asri, dan kaya akan sudut-sudut area bermain. Banyak lapangan enak dipakai untuk dipakai berbagai permainan, main galasin, petak umpet, sampai sepak bola. Kali Menteng pun masih bening. Tak heran bila anak-anak sangat suka bermain sampan di situ.

Chrisye dan Vicky sudah hobi ‘nongkrong’ sedari kecil. Berbeda dengan kakaknya Joris nan pendiam dan paling betah di rumah, keduanya lebih ugal-ugalan. "Ibaratnya di rumah kami anak manis, di luar jangan ditanya,” kenang Chrisye.

Jalan Teuku Umar nan lebar dan sering dipakai ngetrack alias balap motor liar jadi tempat favorit Chrisye dan Vicky mengahbiskan sore. Tiap balapan berlangsung, keduanya ramai menjadi pemandu sorak nan liar hingga ke tengah jalan. Kesenangan di dunia otomotif nampaknya berbekas pada Vicky. Dia kelak hobi mengutak-atik mobil.

Kalau sudah bosan dengan semua permainan dan nonton balapan, keduanya bersama beberapa anak tetangga sering ‘nongkrong’ di dekat rel kereta api depan rumah. Kala itu kereta api Bogor-Kota belum melayang seperti sekarang. Chrisye dan Vicky hobi menaruh besi, paku, terkadang batu di atas rel. Seusai kereta lewat mereka langsung berhamburan mencari benda tersebut. Paku dan besi berubah menjadi tajam. Mereka mengoleksinya. “Makin banyak, makin bangga,” ujarnya.

Kian lama jadi anak pinggir rel, kenakalan dan kejailan semakin menjadi-jadi. Entah siapa memulai, saban kereta lewat, mereka akan menimpuki dengan batu-batu kecil. Makin hari malah menjadi hobi. Tiap kali kereta akan lewat, Chrisye sudah siap dengan setumpuk batu di tangan. Sementara Vicky setia jadi suporter.

“Ayo, Chris! Timpuk yang kenceng!” sorak Vicky. Satu per satu batu mengenai badan kereta. Dan satu timpukan..... Kena pintu depan kereta, ruang masinis. “Saya ngakak,.... Tapi tawa saya segera berhenti ketika kereta melambat dan berhenti. Disusul turunnya sang masinis dengan wajah marah,” imbuh Chrisye. Dia dan Vicky lantas mengambil langkah seribu.

Sang Masinis tak bercanda dan terus mengejar. Chrisye dan Vicky berlari sekuat tenaga. Keduanya bingung hendak ke mana. Masuk rumah tentu petaka karena ada papi, lari ke tempat lain pasti tertangkap. Mereka akhirnya bersembunyi di kolong mobil papinya.

“Itulah detik-detik sungguh mendebarkan. Jantung saya mpot-mpotan,” kenangnya. Mereka terus mengamati sekitar dan cemas kala melihat langkah kaki sang Masinis masuk ke rumahnya. Suara ketukan pintu semakin menambah kencang detak pacu jantung. Papi pun keluar menyambut suara ketukan pintu.

“Anak bapak ngelempar batu ke kereta,” lapor si Masinis.

“Bagaimana bapak tahu?”

“Dia lari ke rumah ini”

“Tapi, anak saya sedang tidak ada di rumah,” suara papi terdengar lemah.

“Saya yakin itu anak dari rumah ini. Tolong ajarin anaknya yang bener, Pak!” bentak sang Masinis. Dia pun berlalu meninggalkan rumah.

Papi langsung mencari kedua anaknya. Dia mendekat ke arah mobil. Pelan-pelan berjongkok dan menurunkan kepalanya. Nampak dua anak kurus meringkuk ketakutan. “Saya melihat kilat kemarahan yang belum pernah saya temui sebelumnya,” ungkap Chrisye.

Chrisye dan Vicky mendapat hukuman berdiri di dekat meja belajar. Papi ngomel menggunakan bahasa Belanda bercampur Indonesia. Dia setengah memberi nasihat kepada keduanya. “Jangan harap orang akan menghormati kamu kalau kamu merugikan orang lain! Papu sendiri enggak akan menghormati kamu”.

Setelah insiden pelemparan kereta, rupanya Chrisye tak kapok. Suatu ketika sang papi pergi sementara mobinya nganggur. Diam-diam Chrisye membawa mobilnya keluar. “Cara menggas dan mengerem saya sudah tahu”. Tapi mengendarai mobil Chrisye belum bisa. Dia kelabakan ketika mobil papinya mencium badan mobil tetangganya. Sudah bisa ditebak, Chrisye kembali kena ceramah papinya sepanjang malam.

Lagi-lagi Chrisye belum kapok. Ulah jailnya masih berkobar. Saat mobil Fiat tahun 1948 milik papinya hendak lansir sepulang kerja, Chrisye sering bergelayutan di bagian belakang. Dia selalu bersiap-siap di tepi jalan jelang petang menunggu mobil sang papi pulang. Begitu mobil Fiat berlalu, dia mengejar dan nemplok berpegangan di ban serep.

Suatu ketika lompatannya kurang sempurna. Dia pun terseret mobil hingga puluhan meter. Ibu-ibu di tepi jalan berteriak histeris. Papi sontak menghentikan mobil dan seketika mendapati anaknya dipenuhi luka sekujur tubuh. “Saya segera dilarikan ke RS Cikini, satu kamar dengan Joris yang saat itu sedang diopname karena sakit tifus”. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH