Christian Joshua Pale, Hanya Menyuarakan Kepiluan Hewan Christian Joshua Pale yang mendedikasikan hidupnya untuk hewan terlantar dan ditelantarkan. (Foto: MP/Gladys Yovanca))

BUKAN tentang superhero, hanya manusia yang tergerak untuk memperjuangkan kesejahteraan hewan (animal welfare). Christian Joshua Pale, berangkat dari aksi penyelamatan penyu di Bali tahun 2009, berlanjut hingga mendirikan rumah berlindung bagi satwa liar. Terkhusus untuk hewan yang tersesat, terbuang, teraniaya, terluka dan terlantar.

Mulanya, dia berprofesi sebagai pengajar bidang Ilmu Pengetahuan Alam di salah satu sekolah daerah Bandung, Yogyakarta, dan Gading Serpong. Pria kelahiran Sumbawa ini semakin dikenal sebagai satu dari animal rescuer yang ada di Indonesia. Meski, ia lebih senang disebut sebagai aktivis. Sempat melakukan aksi 1000 lilin di Bundaran HI dalam bentuk dukungan terhadap kasus Satinah, kini Nyai, demikian dia dipanggil, lebih fokus pada aksi memperjuangkan kesejahteraan hewan.

Baca Juga:

Pembunuh Sejumlah Anjing dengan Soda Api Ditetapkan Sebagai Tersangka

pale
Instagram media kegiatan kesejahteraan hewan. (Foto: instagram@christian_joshuapale)


Pemilik akun Instagram @christian_joshuapale yang aktif sejak 2014 ini seringkali membagikan foto, secuplik video, dan teks yang mendeskripsikan aksi penyelamatannya. Maraknya kasus animal abuse, mulai dari penyiksaan fisik hingga perdagangan daging anjing ataupun kucing. Memperoleh data dari laman the Jakarta Post, setiap harinya ada 1200 ekor anjing dikonsumsi oleh sebagian masyarakat di Surakarta, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Sulawesi Utara, dan sekitarnya.

Banyaknya penikmat daging anjing dengan dalih kebudayaan ataupun manfaat bagi kesehatan. Padahal, mengonsumsi daging anjing bukan tindakan tepat. Hampir 90 persen anjing yang dikonsumsi tak terjamin kesehatannya. Ada yang belum divaksin, ada juga yang memiliki riwayat penyakit. Bisa saja anjing yang dikonsumsi terinfeksi rabies. Hal ini mendorong Christian dengan mengkampanyekan koalisi Dog Meat Free Indonesia bersama Jakarta Animal Aid Network, Animal Friends Jogja, dan organisasi internasional lainnya.

"Di luar sana banyak manusia atau oknum-oknum yang sudah merencanakan aksi menyiksa hewan. Terutama, anjing. Sedangkan, hewan-hewan ini tidak bisa teriak meminta tolong. Kalau bukan kita sendiri yang punya kesadaran, mau siapa lagi?" ujar Christian, Pendiri Animal Hope Shelter, Yayasan Sarana Metta Indonesia, penampungan hewan terlantar.


Baca Juga:

Baru Pertama Pelihara Anjing? Ini Jenis Anjing yang Tepat

christian
Nyai merupakan sosok pahlawan di mata hewan rescuer (Foto: MP/Gladys Yovanca)


Merasa sebagai makhluk yang superior, manusia seringkali bertindak sewenang-wenang. Sayangnya, aturan dalam Pasal 302 KUHP tentang tindakan animal harassment hanya menghukum pelaku dengan kurungan penjara selama tiga sampai sembilan bulan. Tak sebanding dengan kerugian yang dialami hewan, baik secara fisik maupun mentalnya. "Saya itu hanya membantu menyuarakan penderitaan dan kesedihan mereka yang tidak bisa tersampaikan," tambahnya.

Aksi penyelamatan hewan-hewan terlantar diperkuat Christian dengan mendirikan yayasan berbadan hukum dan legal. Berdirinya Yayasan Sarana Metta Indonesia memudahkan pengurusan hewan yang telah diselamatkan dan dirawat hingga kembali sehat. Dan juga urusan administrasi lebih profesional.

Berawal pada tahun 2012, dia mencoba membantu merawat hewan peliharaan tetangganya. Selama beberapa tahun, Christian menyelamatkan hewan yang dibuang di jalanan sembari merawatnya. Berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah, Christian mencoba membagi waktu untuk mencari penghasilan dan merawat hewannya.

Pada tahun 2015, dia memberanikan diri untuk mengontrak rumah di daerah Catalina, Gading Serpong, Tangerang. Kala itu ia memiliki 16 ekor hewan liar yang didapatnya, semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Hingga, memutuskan untuk pindah ke daerah Gunung Sindur, Bogor. Tak hanya anjing dan kucing, shelter milik Christian juga menampung babi, monyet, dan beruang. Dilakukan pencarian donasi untuk meringankan biaya perawatan hewan yang telah diselamatkan. Tak hanya itu, juga dicarikan calon pengasuh yang tepat bagi hewan yang telah sembuh secara fisik dan mental.

Menurutnya, titik akhir dari tindakan rescue adalah mencari keluarga yang mampu merawat dan menyayangi hewan itu. "Enggak sembarangan milih adopter. Setelah seluruh pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya perawatan diberikan untuk menyembuhkan mereka, seleksi adopter tetap dilakukan. Enggak semuanya layak, ada juga yang saya tolak," tegas Christian.

Pemilihan calon pengasuh anabul (anak bulu) ditujukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan hewan. Banyak penjahat yang berdalih adopter untuk meraup keuntungan sepihak. Dampaknya, trauma anabul tak kunjung sembuh.

Baca Juga:

Buntut Kasus Penganiayaan, Polres Jakpus Dikasih Hadiah Anjing Herder

christian
Selama masa karantina, hewan rescue membutuhkan bantuan publik (Foto: MP/Gladys Yovanca)


Christian mengharapkan publik agar lebih kritis dalam menyelamatkan hewan. Terlebih pada hewan yang telah diselamatkan oleh animal rescuer. Setelah diselamatkan, Christian selalu membagikan informasi terbaru dan perkembangan terkait kondisi hewan tersebut. Meski begitu, shelter juga memiliki batasan kapasitas yang harus diperhatikan. Guna mempertahankan kualitas dan kesejahteraan hewan yang telah diselamatkan. "Jangan sampai kita tidak menyadari keterbatasan kita, rescue-rescue terus. Tapi, kesejahteraan anjingnya tidak terjamin," ujarnya.

Tak semudah yang dibayangkan, membentuk komunitas animal rescuer membutuhkan dukungan material dan non material. Hal ini dikarenakan kebutuhan dan keperluan dalam melengkapi rangkaian perawatan ratusan hewan yang sakit dengan biaya puluhan hingga ratusan juta. Setidaknya, dibutuhkan dana sekitar Rp220 juta setiap bulannya untuk biaya pangan, perawatan dan pengobatan anabul.

Christian selaku pendiri Animal Hope Shelter mengaku membutuhkan banyak dukungan dari publik. Selain donasi yang diperoleh, kesadaran masyarakat untuk merawat hewan peliharaannya dengan lebih baik lagi. Edukasi mencintai makhluk hidup satu sama lain. Bukannya menelantarkan, membuang, bahkan membunuhnya. Mengadopsi hewan rescue yang telah sehat menjadi salah satu bantuan yang sangat baik. Dengan begitu membuat pengelolaan shelter menjadi lebih teratur.

Keputusan memelihara hewan artinya kamu siap memberikan yang terbaik. Tak hanya kesiapan mental, finansialmu juga harus memadai. Beda dengan manusia yang bisa memiliki jaminan kesehatan atau BPJS. Perawatan hewan jadi tanggung jawab pribadi. "Hewan itu enggak bisa memilih, manusia yang memutuskan. Lebih baik hewan itu hidup di alam bebas daripada terkurung oleh manusia tak bertanggungjawab," ungkap Christian. (Dys)

Baca Juga:

4 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memelihara Anjing


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo