Cerita Wayang 'Slengean' Asal Pecenongan Ilustrasi pada teks Hikayat Sultan Tamburat salah satu keragaman naskah-naskah Pecenongan. (Foto: indonesiakaya.com)

DALANG Edan dan cerita wayang mbeling atau bergeser dari pakem bukan barang baru. Di masa lalu, cerita wayang di tangan Muhammad Bakir, penyalin dan penggubah naskah Melayu asal Pecenongan Jakarta, tampil slengean dan bergelimang humor.

Penggemar wayang kulit nan terbiasa mengikuti lakon cerita wayang sesuai pakem akan terkaget-kaget mendapati tokoh Rahwana, salah satu tokoh epos Ramayana, ditampilkan Bakir berpesta pora bersama para raksasa sembari menenggak brendi, konyak, arak, brem, dan sampanye. "maka sekaliannya mabuk... Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam pun diisi oranglah daripada minuman arak dan brem dan anggur sampanye dan brandi konyak," tulis Bakir pada Hikayat Sri Rama.

Bila di tempat penyalinan naskah (skriptorium) keraton-keraton Jawa Tengah tersohor dengan pujangga besar semisal Ranggawarsita, Yasadipura, KGPAA Mangkunegara IV, maka di Batavia (Jakarta) pada abad 19 pun terdapat sosok-sosok penyalin dan penggubah naskah terkemuka, salah satunya Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli.

Purasara beserta istrinya, Dewi Raramis dalam cerita Hikayat Purasara kreasi M Bakir

Bakir merupakan salah seorang dari beberapa penyalin dan penggubah naskah-naskah Melayu di Batavia pada abad ke-19. Naskah-naskah hasil gubahan maupun salinannya kemudian ditampung pada tempat persewaan naskah miliknya, di Kampung Pecenongan Langgar Tinggi, Gang Terunci (kini, Jalan Pintu Air V Pecenongan). Dari kegiatan penyalinan dan penggubahannya, Bakir telah menghasilkan 32 jilid naskah, dengan total lebih dari 6.000 halaman dalam kurun waktu 14 tahun.

Di antara beragam tema, cerita wayang kreasi Bakir, menurut Dewaki Kramadibrata, pengajar Program Studi Sastra Indonesia FIB UI peneliti naskah-naskah Pecenongan, memiliki ciri khas dengan memasukan acuan peristiwa dan hal-hal baru di masanya dan nama-nama tempat di Jawa seperti Bekasi, Pasar Baru, Gunung Gede, dan Banjarnegara ke dalam cerita. “Hal itu bertujuan untuk memberikan aspek realis dalam cerita fiksi karyanya,” ungkap Dewaki kepada merahputih.com

Keunikan itu selain ditemukan pada karya Bakir berjudul Hikayat Sri Rama, juga nampak pada karya lainnya bertajuk Hikayat Maharaja Garbak Jati (1892). Suwatama, dikisahkan Bakir pada Hikayat Maharaja Garbak Jati, kabur setelah mencuri sesuatu dari kepala Durna di istana Maharaja Garbak Jagat. Dia pun terbang. “lakunya seperti angin, lebih cepat dari kereta angin yang tempo ada di tanah lapang Gambir pada tahun 1890, serta menuju negeri Ngastina dengan terburu-buru adanya,” tulis Bakir.

Di cerita tersebut, lanjut Dewaki, Bakir menautkan kereta angin di tanah lapang Gambir untuk menggambarkan kecepatan Suwatama agar tercipta efek humor atau kelakar sesuai kebutuhan jaman. Kejadian-kejadian aktual memang menjadi ciri khas Bakir menampilkan humor. Hal itu pun tersaji pada teks Wayang Arjuna.

Dewa Surya dan tiga batara lainnya meminum air putih pemberian Semar. Seketika penyakit mereka sirna. Keempatnya pun pulih. Mereka amat girang bercampur kaget, “Maka heranlah dirinya keempat batara itu melihat air itu terlebih manjur dari pada minyak Sikwa yang datang di Betawi pada tahun 1892 pada bulan Juni, berbenturan bulan Hapit 1309. Maka inilah satu peringatan datangnya minyak itu," tulisnya.

Salah satu tokoh panakawan, Petruk dalam teks Hikayat Wayang Arjuna gubahan Muhammad Bakir

Di samping menautkan peristiwa aktual, kejenakaan cerita wayang Bakir, seturut Dewaki, juga terlihat ketika Bakir menampilkan tokoh dewa nan agung dibuat sangat komtras sebagaimana orang biasa dengan segala ketidaksempurnaannya.

Hal itu tercermin dalam Hikayat Sampurna Jaya, saat Pandita Durna yang tengah lelap tidur tiba-tiba dibangunkan oleh Ranggada. “Wak, wak, bangun marilah menangkap maling jikalau tiada uwak yang menangkap siapa lagi.” Lalu bangunlah Durna dengan mengucek-ngucek matanya yang riap-riap dan menggaruk-garuk rambutnya.

"Aspek kontas tersebut memeperlihatkan bahwa cerita wayang yang berasal dari tradisi Hindu tidak dipercaya lagi kebenarannya. Salah satu contoh yang terlihat adalah jatuhnya kekuasaan dewa dalam cerita. Tokoh dewa digambarkan seperti manusia biasa,” imbuh Dewaki.

Naskah-naskah cerita wayang Bakir di masa itu biasa dipinjam untuk disalin ulang atau dibaca seorang diri dengan uang sewa tertentu atau dibaca beramai-ramai via juru cerita. Tak heran unsur tiruan bunyi nan mengundang tawa juga disematkan Bakir di dalam cerita. Ketika juru cerita membaca lantang bunyi anak panah ketika dilepaskan "serawat-seriwit" dan bunyi tulang patah "kelatak, kelatik, kelatuk" tentu penonton semakin terbahak.

M. Bakir memberi warna baru dalam jenis cerita wayang. Dia adalah pembaharu dalam tradisi sastra Melayu Lama. “Dengan menggunakan dasar cerita wayang, dia menciptakan sesuatu yang baru, yang menyimpang dari konvensi,” tambah Dewaki. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH