Cerita Warga Afghanistan soal Pemandangan Mengerikan di Bandara Kabul Para warga berusaha memasuki Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Senin (16/8). ANTARA FOTO

MerahPutih.com - Warga Afghanistan yang tiba di Jerman menceritakan pengalaman mengerikan di bandara Kabul sebelum mereka dievakuasi ke tempat aman, dan menyatakan kekhawatiran atas kehidupan orang-orang terkasih yang mereka tinggalkan.

Sejumlah laki-laki, perempuan, dan anak-anak mengatakan mereka termasuk sedikit orang yang beruntung dievakuasi oleh tentara NATO setelah Afghanistan jatuh ke tangan Taliban lebih cepat dari perkiraan.

Baca Juga

Indonesia Tidak Perlu Buru-buru Akui Pemerintahan Baru Afghanistan

"Kami harus memaksa maju dan putra kecil saya jatuh dan kami takut, tetapi kami berhasil," ujar seorang perempuan di bandara Frankfurt pada Rabu (18/8).

"Kemudian seorang pria Amerika menunjukkan niat baik dan menyadari bahwa kami benar-benar kelelahan. Dia mengambil paspor dan berkata bahwa saya perlu memeriksa apakah ini asli. Kemudian dia berkata 'baiklah, Anda boleh masuk'. Yang lain di belakang menangis dan berbaring di tanah. Menakutkan."

Perempuan itu, putra, dan suaminya, berada di penerbangan pertama dari beberapa penerbangan yang dilakukan oleh Jerman untuk menyelamatkan para warga Afghanistan yang berisiko dari gerilyawan Taliban karena mereka telah bekerja untuk tentara-tentara NATO atau organisasi amal yang didanai Barat.

Seorang perempuan bercadar menyeka air mata, yang lain berbicara di telepon genggam dan para pria menangis saat mereka memeluk anggota keluarga dan para warga Jerman teman-teman mereka yang datang menyambut.

Taliban kuasai Istana Kepresidenan. (Foto: Al-Jazeera)
Taliban kuasai Istana Kepresidenan. (Foto: Al-Jazeera)

Tak satu pun dari sedikit orang yang berbicara kepada wartawan menyebutkan nama mereka atau apa yang telah mereka lakukan di Afghanistan. Di negara itu, banyak orang takut akan pembalasan berlangsung terhadap para anggota keluarga --yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat lagi.

"Semua orang ingin keluar," kata suami wanita itu, yang juga berbicara dalam bahasa Jerman sambil menggendong putra mereka.

"Setiap hari lebih buruk dari hari sebelumnya. Kami menyelamatkan diri kami sendiri tetapi kami tidak bisa menyelamatkan keluarga kami."

Kanselir Angela Merkel mengatakan pada pertemuan Partai Demokrat Kristen pada Senin (16/8) bahwa Jerman mungkin perlu memberikan suaka kepada sekitar 10.000 warga Afghanistan, yang bekerja untuk tentara Jerman dan badan-badan pembangunan, juga para aktivis hak asasi manusia dan pengacara.

Partai-partai oposisi di Jerman telah mengkritik pemerintah karena gagal memprediksi jatuhnya Kabul ke tangan Taliban, dan atas apa yang mereka katakan sebagai petualangan militer yang gagal sejak 2001 --yang menelan biaya miliaran euro dan nyawa 59 tentara Jerman.

Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) sayap kanan telah mendesak pemerintah untuk melembagakan moratorium permohonan suaka dan menjaga warga sipil Afghanistan di negara-negara tetangga, seperti Pakistan.

Di bandara Frankfurt, seorang pemuda Afghanistan yang mengenakan jaket merah dan putih berbicara tentang kegembiraannya berada di Jerman.

"Sangat cemas karena seluruh keluarga saya masih ada di sana. Tidak mudah untuk meninggalkan mereka dan datang ke sini. Sebagian dari diri saya masih ada di sana. Saya sangat terharu tetapi sebaliknya saya baik-baik saja, terima kasih Tuhan," ujarnya

Sementara itu, seorang gadis kecil yang berdiri bersama orang tuanya berkata dalam bahasa Jerman bahwa "ketika tentara melepaskan tembakan, itu tidak baik karena semua orang ketakutan dan mulai berteriak." pungkasnya. (*)

Baca Juga

DPR Minta Kemenlu Matangkan Rencana Evakuasi WNI di Afghanistan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Nobar Piala Eropa, Ketua DPD Ingatkan Patuhi Protokol Kesehatan
Olahraga
Nobar Piala Eropa, Ketua DPD Ingatkan Patuhi Protokol Kesehatan

Penerapan protokol kesehatan tidak bisa diabaikan. Apalagi sejumlah daerah sedang terjadi kenaikan kasus penyebaran COVID-19, seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Polda Bali Perketat Akses Keluar-Masuk Pascaserangan Mabes Polri
Indonesia
Polda Bali Perketat Akses Keluar-Masuk Pascaserangan Mabes Polri

Polda Bali memperketat akses keluar-masuk untuk kegiatan pelayanan pascaserangan teror di Mabes Polri pada Rabu (31/3).

Lebaran, Kota Bandung Siapkan Penanganan Sampah Secara Khusus
Indonesia
Lebaran, Kota Bandung Siapkan Penanganan Sampah Secara Khusus

Pemkot memetakan titik kumpul sampah di Kota Bandung pada malam takbiran dan lebaran, yakni terdapat 23 titik.

Umumkan Positif COVID-19, Said Aqil Siradj Lebih Gentle Ketimbang Rizieq Shihab
Indonesia
Umumkan Positif COVID-19, Said Aqil Siradj Lebih Gentle Ketimbang Rizieq Shihab

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, dinyatakan positif COVID-19.

Anies: Bila COVID-19 Tidak Terkendali, Kita Masuk Fase Genting
Indonesia
Anies: Bila COVID-19 Tidak Terkendali, Kita Masuk Fase Genting

Anies meminta seluruh jajaran Forkompinda dan anak buahnya untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh pihak bersama seluruh komponen masyarakat.

[HOAKS atau FAKTA]: Basahi Kepala Terlebih Dahulu saat Mandi Bikin Strok
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Basahi Kepala Terlebih Dahulu saat Mandi Bikin Strok

Akun Fiyud’s Wahyudi (fb.com/fiyoeds.djokam) mengunggah sebuah foto dengan sebagian narasi yang menyebutkan membahasai kepala terlebih dahulu ketika mandi sebabkan strok.

Wagub DKI Klaim Tak Ada Laporan Negatif Sekolah Tatap Muka
Indonesia
Wagub DKI Klaim Tak Ada Laporan Negatif Sekolah Tatap Muka

Pemprov DKI Jakarta mengklaim, tidak ada kendala yang dialami dalam penerapan uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah.

Ini Jumlah Harta Kekayaan Wamenhan Letjen Herindra
Indonesia
Ini Jumlah Harta Kekayaan Wamenhan Letjen Herindra

Presiden Joko Widodo resmi melantik Letnan Jenderal Muhammad Herindra sebagai Wakil Menteri Pertahanan.

Setahun Jokowi-Ma'ruf Amin, Buruh Tuntut Keluarkan Perppu Cipta Kerja
Indonesia
Setahun Jokowi-Ma'ruf Amin, Buruh Tuntut Keluarkan Perppu Cipta Kerja

Kelompok buruh kembali turun ke jalan untuk menggelar aksi tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja pada Selasa (20/10).

Senang Orang Tua Saat Anak Pergi Sekolah Setelah Hampir 2 Tahun Belajar Daring
Indonesia
Senang Orang Tua Saat Anak Pergi Sekolah Setelah Hampir 2 Tahun Belajar Daring

Para orang tua siswa hanya diperkenankan mengantarkan anaknya di depan gerbang sekolah. Setelah tiba di sekolah, siswa langsung disambut oleh penjaga sekolah.