Cerita Mistis di Museum Keris Karadenan Bogor (Foto: MerahPutih/Noer Ardiansyah)

MerahPutih Budaya - Benda pusaka leluhur, terlebih di Nusantara, selalu saja berkaitan dengan hal gaib. Bahkan, ada pula sebagian masyarakat Indonesia yang sangat percaya kekuatan benda tersebut sehingga memperlakukan barang-barang kuno itu dengan ritual khusus. Seperti kisah-kisah misteri yang ada di Museum Keris, Karadenan, Bogor.

Berdasarkan penelusuran merahputih.com di lokasi museum, Raden Suparta (53) selaku Ketua RT 04 Desa Karadenan menjelaskan beberapa kisah misteri yang menyelimuti kawasan tersebut. Seperti salah satu contohnya tentang keris yang berdiri sendiri.

Ihwal demikian, jelas Raden Suparta, dialami langsung oleh penjaga masjid yang pada malam hari mendengar suatu benda jatuh ke lantai. Dikarenakan bunyi yang cukup keras, sang penjaga masjid langsung bergegas menuju lantai dua museum. "Kaget tentunya. Kemudian ia turun lagi ke bawah untuk mengambil gambar keris itu. Namun, setelah mau direkam, tiba-tiba keris menghilang," jelas Raden Suparta di ruangan pusaka Museum Keris, Jalan Kaum I No. 41 Karadenan, Cibinong, Bogor, Selasa (23/2).

Dirundung rasa penasaran yang tinggi, penjaga masjid yang juga ditemani R Suparta, R Ahmad, dan RH Dadang pada pagi harinya meninjau kembali ruangan itu guna memastikan keberadaan keris yang diduga memiliki keistimewaan tersendiri.

"Pas kami lihat, semua keris tidak ada yang terlepas dari ikatan. Kemudian kami menghitung jumlah keris. Tidak ada satu pun yang hilang. Aneh sih memang," timpal RH Dadang.

Kejadian gaib di lokasi museum yang bergandengan dengan Masjid Jami Al Atiqiyah, tidak hanya keris. Bahkan ada waktu khusus, di mana akan timbul wewangian yang bersumber dari balik meja mimbar masjid. "Sangat wangi dan berbeda dengan minyak wangi yang pernah kami tahu. Waktunya pun tertentu. Biasanya terjadi menjelang zuhur. Setelah itu, hilang begitu saja," tutur RH Dadang.

Cerita lainnya seperti yang didaraskan oleh Raden Ahmad adalah sosok lelaki tua dengan jubah putih yang mengenakan udeng-udeng layaknya ulama. Untuk sosok lelaki tersebut, kerapkali mendatangi sebagian masyarakat di sana yang merupakan keturunan Pangeran Sanghyang.

"Beliau datang di dalam mimpi sebagian besar masyarakat di sini. Wujud dan keadaan lelaki itu, sama. Berjubah dan mengenakan udeng-udeng. Jenggotnya panjang sampai dada, menggunakan tongkat," ucap R Ahmad.

"Kalau menurut penuturan orang tua dulu, lelaki tua itu adalah Abah Raden Syafe'i, cucu dari Pangeran Sanghyang yang merupakan pendiri masjid ini. Kalau dari cerita dulu, masjid ini merupakan masjid tertua di Kota Bogor. Dibangun pada tahun 1667," jelas R Ahmad. (Ard)

 

BACA JUGA:

  1. Raden Adjeng Kartini Digunakan Sebagai Nama Jalan di Belanda
  2. Den Haag Belanda Resmi Miliki Nama Jalan "Munir"
  3. 4 Pahlawan Indonesia yang Dijadikan Nama Jalan di Luar Negeri
  4. Yuk, Rekreasi Sejarah ke Monumen Daan Mogot
  5. Mengingat Patriotisme Daan Mogot di Palagan Lengkong

Tags Artikel Ini

Ana Amalia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH