Cerita Megawati dan 3 Pidato Bung Karno yang Diajukan Masuk Warisan Dunia UNESCO Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat peluncuran dan peringatan 63 Konferensi Asia Afrika (KAA), pameran arsip KAA dan dokumenter pidato 'tiga tinta emas abad 20' yang disampaikan Soekarno dalam

MerahPutih.com - Bung Karno terkenal sebagai Singa Podium di Indonesia maupun dalam kancah internasional. Pidato Presiden RI ke-1 itu kerap mengguncang dunia. Namun, ada tiga pidatonya yang dianggap berpengaruh besar terhadap peradaban manusia dan tengah dipertimbangkan masuk dalam daftar Arsip Warisan Dunia UNESCO.

Ketiga pidato itu berjudul "Unity in Diversity Asia Africa" yang disampaikan Bung Karno saat konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung, "To Build The World a New" atau "Membangun Dunia Kembali" dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1960 dan pidato "New Emerging Forces" pada Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok di Beograd, Serbia I961.

Putri kandung Bung Karno, Megawati Soekarnoputri menyimpan kisah khusus terkait tiga pidato ayahnya yang dinilai merupakan pemikiran brilian pada masanya. Ketua Umum PDIP itu bercerita pidato yang diucapkan dalam sejumlah momentum itu merupakan peristiwa penting satu abad lalu, tepatnya di abad 20.

megawati
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat peluncuran dan peringatan 63 Konferensi Asia Afrika (KAA), pameran arsip KAA dan dokumenter pidato 'tiga tinta emas abad 20' yang disampaikan Soekarno dalam KAA, PBB dan GNB di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (17/4). (MP/Fadhli)

Menurut Megawati, ada tiga peristiwa penting dalam peradaban manusia dan bahkan disebut sebagai pemikiran yang mengubah dunia. Peristiwa itu adalah Pidato Bung Karno di Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung berjudul "Unity in Diversity Asia Africa."

"Saya berusia 8 tahun saat itu, hasil dari KAA melahirkan Komunike Dasa Sila. Sepuluh tahun setelah KAA ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaan di Asia-Afrika," kata dia, saat peluncuran dan peringatan 63 Konferensi Asia Afrika (KAA), pameran arsip KAA dan dokumenter pidato 'tiga tinta emas abad 20' yang disampaikan Soekarno dalam KAA, PBB dan GNB di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (17/4).

Sebagai putri Presiden Pertama, Megawati mengaku sangat mengetahui jelas bagaimana KAA itu melahirkan sebuah gagasan yang kemudian menjadi pendorong dunia ketiga untuk merdeka. "Ada 200 delegasi yang berasal dari 29 negara, yang menghasilkan gelombang semangat pembebasan yang sama terus mengalir hingga ke belahan dunia lainnya, seperti Amerika latin," tutur Presiden RI ke-4 itu.

Peristiwa kedua, lanjut Megawati, adalah peristiwa pidato Bung Karno di sidang umum PBB ke-XV tahun 1960 yang berjudul "To Build The World a New" atau Membangun Dunia Kembali. Pidato ini gamblang memaparkan pentingnya Pancasila sebagai landasan kesepakatan kerjasama antarbangsa. Sang Proklamator juga mendeklarasikan pentingnya pelucutan senjata dengan menentang pemakaian senjata nuklir, atom dan hidrogen dalam konflik apapun.

"Usia saya masih masih 13 tahun waktu itu, dalam pidato tersebut Bung Karno menyatakan tidak menginginkan dunia terbelah dalam dua blok. Bung Karno menginginkan adanya suatu tata dunia baru, suatu semangat 'to build the world new' dunia yang kokoh, kuat dan sehat. Dubai tempat semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan," tutur dia.

megawati
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat peluncuran dan peringatan 63 Konferensi Asia Afrika (KAA), pameran arsip KAA dan dokumenter pidato 'tiga tinta emas abad 20' yang disampaikan Soekarno dalam KAA, PBB dan GNB di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (17/4). (MP/Fadhli)

Terakhir, Megawati mengingat persis pidato ketiga Bung Karno bertajuk "New Emerging Forces" pada Konferensi Tingkat Tinggi Non Blok di Beograd, Serbia pada tahun I961. Saat itu dirinya masih berusia 14 tahun. Diakuinya, peristiwa ini juga yang membentuk karakter politiknya saat melihat bagaimana tokoh Gerakan Non Blok pertama berdebat dan berargumentasi.

"Saya saksikan, saya ikuti, dan saya catat langsung. Perdebatan penuh martabat, saling menghormati, rasional dan penuh belarasa," kenang satu-satunya Presiden perempuan Indonesia itu.

Hasilnya, GNB melahirkan sejumlah prinsip yang menjadi basis bernegara, yaitu saling menghormati integritas teritorial dan kedaulatan, perjanjian nonagresi, tidak mengintervansi urusan dalam negeri negara lain, kesetaraan dan keuntungan bersama, dan menjaga perdamaian. "Karena prinsip-prinsip inilah, Amerika-Rusia akhirnya memutuskan untuk tidak menggunakan senjata nuklir dalam konflik perang dingin," tandas Mega, sapaan karibnya.

Usulan mengajukan tiga pidato Bung Karno menjadi arsip warisan dunia UNESCO datang dari tiga lembaga negara, yakni Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Arsip Nasional RI (ANRI) dan Perpustakaan Nasional RI. Pengajuan ini sebagai wujud komitmen menjaga dan melestarikan kekayaan bangsa-bangsa di dunia dalam bentuk pusaka dokumenter (documentary heritage).

"Tujuannya untuk menjaga dan melestarikan kekayaan dalam documentary heritage secara bijak karena dokumen-dokumen tersebut memiliki nilai sejarah dan artistik yang tinggi," kata Pelaksana Tugas Kepala LIPI, Bambang Subiyanto.

Menurut Bambang, pidato Bung Karno telah memberikan perubahan signifikan dalam percaturan politik dunia. Semangat dalam ketiga pidato itu juga masih relevan dalam konteks kekinian mewujudkan cita-cita perdamaian masyarakat dunia.

"Pertimbangannya adalah Konferensi Asia Afrika maupun Gerakan Non Blok merupakan peristiwa bersejarah dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Namun, arsip tersebut belum berhasil Iolos penilaian International Advisory Committee dan akan disempurnakan serta dinominasikan kembali di tahun 2018-2019," tutup peneliti senior LIPI itu. (Fad)

Kredit : fadhli


Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH