Cerita Kembara Ganes TH Menggubah Si Buta Dari Gua Hantu Si Buta bersama Wanara (Kliwon). (Foto: Si Buta Dari Gua Hantu, Ganes TH)

SUASANA perbukitan Lembah Pangeran berubah sunyi. Lawan berguguran bahkan Maung Lugai semula memantik pertikaian justru balik meneladani Si Buta. Lugai bersama istrinya, Marni Dewianti, malahan menatap pilu kepergian Barda 'Si Buta' Mandrawata.

"Tapi, mau ke manakah Anda?" tanya Maung Lugai.

Baca juga:

Rahasia Senjata Si Buta Dari Gua Hantu

"Tuhan telah menciptakan jalan ini untuk kutempuh. Langit tempatku bernaung. Pohon untuk kumeneduh dari terik sang mentari dan hujan," jawab Si Buta. "Aku berada di mana-mana. Itulah duniaku. Berbahagialah kalian. Selamat tinggal".

Kepergian Si Buta meninggalkan desanya menjadi penutup jilid 1-2 atau edisi perdana Si Buta Dari Gua Hantu garapan Ganes TH. Si Buta memutuskan jadi pengembara menyinggahi Magelang, Bali, Sumbawa, Poso, Donggala, Tinombala, Larantuka, Sulawesi Tengah, Kalimantan, balik Pandeglang, Lampung, dan Indramayu.

si buta
Barda Mandrawata marah begitu tahu calon istrinya mati di tangan Mata Malaikat. (Foto: Si Buta Dari Gua Hantu, Ganes TH)

Kisah pengembaraan Si Buta menjadi mata bagi banyak pembaca melihat tak hanya keindahan daerah-daerah di Nusantara, pun ragam mitos, bahasa, dan tradisi.

"Pak Ganes enggak pernah pergi keluar kota khusus bikin Si Buta," kata Gienardy Santosa, anak sulung Ganes TH, menepis dugaan banyak orang berkait proses pengerjaan Si Buta. Tak sedikit pembaca, lanjut lelaki biasa disapa AA Gien, kecewa setelah mengerti Ganes malah menggunakan buku ensiklopedia, majalah, surat kabar, artefak, atribut adat, dan berbincang dengan orang daerah di Jakarta.

Baca juga:

Mengajak Barda 'Si Buta' Mandrawata Bicara Empat Mata

"Di Sarinah itu ayah saya lihat baju-baju adat, patung, ada juga buku kayak ensiklopedia banyak di rumah," kata AA Gien. Paling sering pula, lanjut Gien, ayahnya mengobrol dengan para perantau di Jakarta, seperti para pelayar baru berlabuh setelah berlayar di daerah Sulawesi, pendeta asal Larantuka, dan beberapa daerah lain. Dari mereka, Ganes beroleh gambaran tentang seluruh latar kultural masing-masing daerah di dalam cerita Si Buta. Namun, justru dari Amerika, Ganes Th beroleh inspirasi mengkreasi karakter Barda 'Si Buta' Mandrawata.

si buta
Si Buta kontra Mata Malaikat. (Foto: Si Buta Dari Gua Hantu, Ganes TH)

Si Buta, sambung Gien, terinspirasi dari sosok koboi buta di salah satu film asal Amerika. "Pada film tersebut, tokoh Si Buta bukan merupakan karakter utama. Kehadirannya cuma lewat, menolong sang jagoan sudah kepepet karena dikeroyok bandit," jelas Gien.

Namun, bangunan cerita Si Buta, lanjutnya, begitu beragam sebab menggambarkan pula kondisi pedesaan di tanah kelahiran Ganes TH termasuk suasana batin, dan persentuhan dengan dunia silat, serta identitasnya sebagai Peranakan Tionghoa.

Baca juga:

Menggali Kisah Runtah Si Mata Malaikat Serenta Kaki-Tangannya

"Ingat pas Si Buta enggak jadi membunuh Lugai, karena tahu di dalam perut Marni ada calon bayi, sebenarnya menggambarkan situasi batin Ganes terhadap almarhum anak pertamanya. Ia merasa kesepian sehingga dimunculkan Si Buta berkelana," kata Syamsuddin, kolektor Si Buta nan sedang menulis biografi tentang Ganes TH.

si buta
Barda berusaha memecahkan jurus membedakan suara. (Foto: Si Buta Dari Gua Hantu, Ganes TH)

Kelihaian menggambarkan pertarungan, menurut Syamsuddin, lantaran Ganes sering menyambangi tempat perguruan silat bahkan berkali-kali menonton pesilat bertanding. Tak aneh bila cerita silat begitu kentara pada cergamnya dan bukan cuma Si Buta, ada Djampang Djago Betawi (1967-1968), Tuan Tanah Kedawung (1969), Krakatau (1969), Tjisadane, (1969), dan Nilam dan Kesumah (1969).

Idetintas Ganes TH sebagai Peranakan Tionghoa di dalam komik, menurut Seno Gumira Ajidarma pada "Wacana Tionghoa Indonesia dalam Komik: Politik Identitas Ganes TH", dimuat di Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa, Volume 3, justru tenggelam-timbul, terhubung, dan memang konsisten dengan kondisi eksternal masyarakat Tionghoa Indonesia nan secara sosio-kultural tertekan.

si buta
Si Buta mengelak dari serangan Sapu Jagad. (Foto: Si Buta Dari Gua Hantu, Ganes TH)

Komik-komik Ganes TH menunjukkan, Sambung Ajidarma, bagaimana politik identitas demi legitimasi keberadaann Tionghoa Indonesia ternyata membentuk kebergandaan itu, jika dilihat wilayah penanda identitas telah dilaluinya; ekstrem keindonesiaan tanpa ketionghoaan sama sekali dalam seri Si Buta Dari Gua Hantu, menuju permunculan ketionghoaan secara sangat terbatas, meski di dalam wilayah asimilasi budaya Betawi, seperti di dalam Tuan Tanah Kedawung sampai Tjisadane.

"Kiranya tidak terlalu sulit untuk mengatakan pengembaraan Si Buta menunjukan terdapatnya suatu 'Wawasan Nusantara, nan semasa Orde Baru sering didengung-dengungkan Ali Murtopo," tulis Ajidarma. (Ryn)

Baca juga:

Kontradiktif! Mengapa Si Buta Dari 'Gua Hantu', Sementara Kontranya Mata 'Malaikat'?

Kanal
Tersihir Gundala Putra Petir
Indonesiaku
Aku Pemudi yang Mencintai Diriku Sendiri
Fun
Tersihir Gundala Putra Petir
Indonesiaku
Aku Pemudi yang Mencintai Diriku Sendiri
Fun