Cerita Chrisye Mengenang Dansa-Dansi Keluarga Rahadi Chrisye. (ik online)

RUMAH keluarga Rahadi makin semarak. Musik tak lagi menjadi teman pembuka pagi dan penutup hari, tetapi mampu menyihir seluruh penghuni terlibat dansa-dansi.

Joris, Chrisye, termasuk Vicky punya kesibukan baru saban sore. Setelah papinya, Laurens Rahadi, pulang kerja, mereka bertiga sibuk menggeser kursi dan meja ke tepi untuk lokasi arena dansa. Beres, ketiganya pun berpencar.

Joris dan Vicky langsung mengotak-atik perangkat turn table, sementara Chrisye asyik memilah dan memilih piringan hitam.

“Saat itu, naluri saya sudah cukup tajam memilihkan lagu-lagu enak untuk dansa, seperti waltz dan chacha disukai mereka,” kenang Chrisye seperti dikutip Alberthiene Endah pada Chrisye Sebuah Memoar Musikal.

Begitu lagu menghentak, papi dan mami mereka masuk arena. Keduanya bergerak kian ke mari meningkahi musik. Berpegangan dan berpelukan erat. “Kami cekikikan melihat kemesraan papi-mami,” ungkap Chrisye.

Bila ingin memanaskan suasana, pasangan pedansa tersebut memberi kode kepada DJ (Disc Jockey). Joris dan Chrisye langsung beraksi mengganti piringan hitam. Hentakan musik chacha kontan meriah. Gerekan dua sejoli itu pun makin menggila.

Kegemaran dansa-dansi keluarga Rahadi, bermula ketika Laurens dan Hanna, orang tua Chrisye, mulai gemar datang ke pesta-pesta keluarga Belanda. Di sana, mereka mendapati para tuan dan nyonya serta sinyo dan noni berdansa. Dansa merupakan nyawa pesta!

Tak tanggung-tanggung, demi melancarkan gerakan serta menguasai manners dansa, keduanya lantas mendaftar sekolah dansa HM Damsyik Dans School. Kala itu, banyak selebriti dan socialite berguru ke sekolah milik jagoan dansa, HM Damsyik, agar tidak ketinggalan jaman. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH