Kisah Datuk Batuah, 'Haji Merah' Penentang Kolonialisme Belanda Haji Datuk Batuah kedua kiri. (Foto/castrodelatoya.blogspot.co.id)

AHMAD Khatib Datuk Batuah beroleh perintah meninjau keadaan sekolah Thawalib di Aceh, pada 1920. Asisten Haji Rasul, ayah Hamka, mengajar di Sumatra Thawalib tersebut berjumpa seorang propagandis Serikat Buruh Kereta Api (VSTP) bernama Natar Zainuddin, berdarah Minang-India.

Mereka berbincang ragam pembahasan. Datuk Batuah dan Natar langsung akrab. Keduanya merupakan anak muda dengan semangat pembaruan nan berapi-api. Pada tahun 1923, mereka berangkat ke tanah Jawa jadi peserta Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Sarekat Rakyat (SR) di Bandung, Jawa Barat.

Di pertemuan itu pula, Batuah bertemu Haji Misbach, seorang anggota Sarekat Islam paling berpengaruh di Surakarta. Setelah keluar penjara, Misbach memilih bergabung dengan faksi Komunis pecahan Sarikat Islam. Sikapnya di hadapan kongres untuk bergabung dengan Komunis sebagai bentuk pembuktian kesilaman sejati, menurut, menurut Takashi Siraishi pada Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, sangat memperngaruhi Datuk Batuah.

Koran Djago Djago. (Foto/JPNN.com)
Koran Djago Djago. (Foto/JPNN.com)

Ia menjadikan pandangan Misbach sebagai buah tangan. Bersama Djamaluddin Tamin, Batuah menerbitkan dan mengelola koran Pemandangan Islam, sebagai corong ide-ide progresifnya selama di Thawalib. "Koran ini berhasil mempertemukan ilmu tentang pengaturan masyarakat demi mencapai kemaslahatan rakyat banyak dalam nestapa kemiskinan dengan tujuan-tujuan dan kewajiban-kewajiban dalam keyakinan Islam hakiki," tulis HJ Benda dan Ruth T McVey pada The Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia.

Segendangsepenarian, konconya, Natar Zainuddin, menurut Audrey Kahin pada Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatera Barat dan Politik Indonesia, 1926-1998, menyuarakan pemikiran serupa melalui korannya Djago-Djago, walaupun seruannya secara terbuka ditujukan kepada kaum 'proletar'. "Kedua surat kabar ini sama-sama menyuarakan kesamaan antara Islam dan Komunisme dalam perjuangan menentang kapitalisme dan kolonialisme," tulis Kahin

Putra Syekh Gunung Rajo

Datuk Batuah merupakan putra Syekh Gunung Rajo, seorang pemimpin Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Ia lahir pada tahun 1895 di Koto Lawas, dekat Padang Panjang. Batuah lulusan sekolah dasar Belanda, lalu melanjutkan menuntut ilmu di Mekah kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi selama enam tahun (1909-1915).

Sekembali berguru dari tanah suci, Batuah masuk perguruan Sumatra Thawalib. Di sana, ia bertemu dan sering berdebat sengit dengan Haji Rasul. "Dia dianggap sebagai salah seorang murid Haji Rasul paling pintar dan dinamis," tulis Kahin. Batuah pun diangkat menjadi asisten Haji Rasul mengajar di Thawalib.

Sebagai asisten pengajar pun, Batuah masih sering berdiskusi dengan Haji Rasul begitu sengit. Haji Rasul sangat otokratis dan konservatif. Ia menentang ide-ide radikal kesukaan murid-muridnya.

Merasa sudah matang dengan pergerakannya di Ranah Minang, pada 4 November 1923, Batuah mendeklarasikan Partai Komunis Indonesia cabang Padang Panjang dengan struktur, Ketua Haji Datuk Batuah, Sekretaris Djamaluddin Tamim, Anggota Natar Zainuddin dan Datuak Machudum Sati.

Sejak itu, Datuk Batuah menjelma menjadi propagandis Komunis. Ia mebumikan ide-ide Marxisme sesuai logat Minang menjadi "Ilmu Kumunih". Banyak pedagang tergoda “Islam Komunis” Batuah lantaran menurutnya Islam mengharamkan praktek riba dan melarang umatnya menumpuk harta.

Batuah membingkai ide-ide Marxisme ke dalam ruh keislaman dan lokalitas Minangkabau. "Konsep dasar Datuak Batuah pada dasarnya hampir sama dengan perlawanan yang dikobarkan kaum Padri, Siti Manggopoh, Teuku Umar, Cut Nyak Dien dan lain sebagainya," tulis Fikrul Hanif Sufyan dalam Menuju Lentera Merah: Gerakan Propagandis Komunis di Serambi Mekah 1923-1949.

Propaganda Datuak Batuah berhasil, rakyat pun berbondong-bondong menjadi anggota PKI.

Berumur Pendek

Kampanye dan propaganda Batuah lambat-laun membuat merah kuping Pemerintah Belanda. Mereka berbalik menuding Batuah bersekongkol dengan para penghulu adat untuk memberontak terhadap pemerintah dan membunuh orang-orang Eropa, termasuk asisten residen Padang Panjang.

Belanda pun berang. Mereka lantas mengirim satu detasemen polisi menggeledah International Debating Club (IDC), pusat propaganda PKI Padang Panjang, pada 11 November 1923.

Saat itu, aktivis IDC sedang melipat-lipat koran Djago-Djago Tiba-tiba datang Polisi bersenjata lengkap menggeledah tempat itu. Natar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap. Sehari kemudian, para aktivis PKI Padang Panjang dan anggota Redaksi Djago-Djago juga mulai ditangkapi oleh Belanda.

Datuk Batuah dan Natar Zaimuddin dibuang ke Timor (NTT). Natar Zainuddin dibuang ke Kafannanoe (Kefamenanu), sedangkan Datuk Batuah dibuang ke Kalabai (Kalabahi, Alor). Namun, meski di pembuangan, Datuk Batuah tetap aktif berjuang. (Zai)

Kredit : zaimul

Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH