CDC Merilis Pedoman untuk Membuka Kembali Sekolah, Apakah Kamu Setuju? CDC (Foto: Politico)

SELAMA beberapa bulan terakhir, kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dari rumah atau online. Menjadi hal yang baru bagi para guru maupun murid, namun cara ini terbilang paling ideal di tengah pandemi COVID-19 yang meresahkan seluruh masyarakat di seluruh dunia.

Pada 19 Mei 2020, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah merilis pedoman untuk membuka kembali sekolah. Pedoman-pedoman ini kerap menuai pro dan kontra dari seluruh dunia.

Baca juga:

Masyarakat tak Patuhi PSBB karena Kebijakan Pemerintah yang Inkonsisten dan Membingungkan

CDC juga memberi imbauan kepada para guru dan murid yang merasa tidak enak badan untuk tetap di rumah. Anak-anak juga disarankan untuk membuat kelompok kecil siswa di sekolah agar bisa membatasi interaksi.

CDC juga menyarankan untuk menjaga kebersihan seperti mencuci tangan minimal 20 detik, menggunakan hand sanitizer, dan bersin menggunakan tisu yang langsung dibuang segera.

Apakah kamu setuju jika sekolah dibuka kembali? (Foto: pixabay/engin_akyurt)
Apakah kamu setuju jika sekolah dibuka kembali? (Foto: pixabay/engin_akyurt)

Para guru, staf, serta anak-anak yang lebih tua juga didukung untuk menggunakan masker, apalagi ketika physical distancing tidak bisa dihindari.

Beberapa permukaan yang sering disentuh juga harus dibersihkan setiap hari dan hanya menyediakan mainan bersama yang memungkinkan untuk dibersihkan.

CDC juga mengimbau untuk meletakkan meja belajar dengan jarak dua meter yang menghadap ke satu arah, bukan berlawanan.

Baca juga:

Jika Tidak Diselenggarakan pada 2021, Olimpiade Tokyo Dibatalkan

Partisi juga bisa dimanfaatkan pada tempat cuci tangan dan meja resepsionis jika sulit membuat jarak sejauh dua meter. Usahakan untuk menutup kantin dan taman bermain dan menyiapkan bekal untuk anak-anak.

Meski begitu, CDC menyarankan bahwa sekolah harus bekerjasama dengan aturan negara dan pejabat kesehatan setempat untuk menerapkan pertimbangan ini, sambil menyesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan unik dari masyarakat setempat.

Di sisi lain, laman Business Insider mengatakan bahwa anak-anak memang dianggap tidak rentan terhadap COVID-19 dan berkemungkinan kecil untuk dirawat di rumah sakit akibat virus tersebut. Meski begitu, anak-anak menjadi carrier atau pembawa penyakit-penyakit tanpa gejala, termasuk COVID-19.

Jorn Klein, profesor di bidang mikrobiologi dan pencegahan infeksi pada University of South-Eastern Norway tidak setuju jika sekolah dibuka lagi.

"Setiap anak yang terinfeksi akan menyebarkan kepada dua sampai tiga anak per minggu, yang kemudian akan menyebarkannya ke orangtua dan kakek-nenek mereka," tegasnya ketika diwawancarai oleh Reuters.

Seorang guru dan murid di sekolah privat Prancis pada 12 Mei. (Foto: Reuters)
Seorang guru dan murid di sekolah privat Prancis pada 12 Mei. (Foto: Reuters)

Laman Business Insider juga melaporkan bahwa terdapat 70 kasus COVID-19 baru setelah Prancis memutuskan untuk membuka beberapa pre-school dan Sekolah Dasar (SD) meski tetap memberlakukan social distancing. (shn)

Baca juga:

Kiat Efektif untuk Para Guru dalam Memberikan Tugas Sekolah selama PSBB

Kredit : shenna

Tags Artikel Ini

Shenna

LAINNYA DARI MERAH PUTIH