Catatan Sejarah Musik Religi Tanah Air Grup band Gigi dengan album barunya "Mohon Ampun" saat ditemui di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (10/6). (Foto: MP/Muchammad Yani)

Ramadan identik dengan Bimbo. Tak hanya televisi yang menayangkan ulang lagu-lagu trio musik pop asal Bandung itu. Pusat-pusat perbelanjaan di berbagai kota pun turut memutar lagu-lagu bernuansa religi yang dibawakan mereka.

Yup, Bimbo bisa dibilang salah satu pelopor musik religi di Tanah Air yang popularitasnya tak pernah surut. Hitnya yang abadi, antara lain "Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya", "Sajadah Panjang" dan "Rasul Menyuruh Mencintai Anak Yatim". Keistimewaan Bimbo terletak pada kemampuan mereka memainkan musik pop bernuansa Flamenco, musik Andalusia yang menjadi budaya Spanyol, menjadi terasa ringan dan mudah dicerna.

Meski begitu, maknanya tetap dalam karena lirik lagunya kebanyakan ditulis bersama sastrawan Taufiq Ismail. Jika dihitung-hitung, ada sekitar 120 syair lagu Bimbo yang ditulis Taufiq.

Pelopor musik religi Tanah Air lainnya adalah kelompok musik underground AKA dari Surabaya. Pada 1974, mereka merilis album Pop Qasidah. Beda dengan Bimbo, AKA hanya merilis satu album. Di tahun sama, ada pula Koes Plus dengan album Qasidahan.

Jika Bimbo, AKA dan Koes Plus adalah kelompok musik legendaris, penyanyi seperti Ebiet G Ade, Trie Utami dan Chrisye merupakan solois yang piawai menyanyikan lagu pop religi yang syair-syair lagunya amat menyentuh.

Ebiet piawai menyanyikan syair religi dengan iringan musik folk yang didominasi petikan gitar akustik dan gesekan biola. Chrisye juga punya gaya sendiri. Anda bisa merasakannya saat mendengarkan lagu "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" yang dibawakan Chrisye.

Dengan karakter vokal khasnya yang tinggi, panjang dan lembut, Chrisye berhasil membuat para pendengar lagu "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" tersentuh. Untuk solois religi wanita, ada Trie Utami, Ita Purnamasari dan Novia Kolopaking.

Penyanyi-penyanyi solo pop Indonesia itu mulai bermunculan pada era 1980-an. Sebagian penyanyi solois memasukkan pula tembang-tembang religi pada album musik mereka. Di kalangan pencinta dangdut, nama Rhoma Irama juga amat dikenal sebagai musisi yang berdakwah lewat alunan musik dangdut. Haddad Alwi juga pernah mencetak sejarah menjadi penyanyi solo dengan penjualan kaset terlaris di Indonesia lewat album Cinta Rasul pada 1999.

Booming lagu religi di Tanah Air terjadi saat kelompok nasyid asal Malaysia, Raihan, masuk. Pada 2004 kebangkitan album religi dikawal oleh Gigi, Ungu, Nidji, D'masiv dan Wali. Solois Swedia asal Lebanon, Maher Zain, juga turut meramaikan perkembangan musik religi di Indonesia pada 2009.

Kehadiran musik religi Indonesia cenderung masih bersifat musiman. Hanya segelintir pelantun musik religi yang mampu bertahan. Grup musik legendaris Bimbo salah satunya. Bahkan, menjelang Ramadan 2017 ini, mereka sudah mulai disibukkan dengan kegiatan syuting video klip. Rindu musik religi? Nantikan kehadiran para pelantun musik religi Tanah Air selama Ramadan mendatang.

Baca album religi terbaru Gigi pada artikel Gigi Terinspirasi Bimbo Buat Album Religi.



Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH