Catatan Kecil Jurnalis dari Peristiwa Ledakan di Polrestabes Surabaya Para jurnalis peliput kasus ledakan di Polrestabes Surabaya (MP/Budi Lentera)

MerahPutih.Com - Peristiwa ledakan bom di Polrestabes Surabaya, Senin (14/5) kemarin menyisakan cerita seru tersendiri bagi para jurnalis. Di tengah kesibukan memburu perkembangan terbaru dan informasi terkini dari pihak kepolisian, para wartawan justru mengalami kejadian-kejadian menegangkan meski masih ada bumbu-bumbu kocaknya.

Berikut catatan kecil reporter merahputih.com saat berada di depan Polrestabes Surabaya:

Kopi hitam itu belum diaduk. Pedestrian jalan Veteran Surabaya masih kotor sisa-sisa debu kendaraan yang melintas. Ini terjadi beberapa jam setelah ledakan di Polrestabes Surabaya.

Heru, dari media TV nasional duduk di pedestrian samping pos sebuah bank. Komeng dari media online, tiba-tiba datang sambil menenteng bungkusan kacang. Semenit kemudian, muncul Budi, yang datang dari Gereja Pante kosta.

Para jurnalis di Mapolrestabes Surabaya
Para jurnalis tengah menunggu informasi depan Mapolrestabes Surabaya (MP/Budi Lentera)

Di bawah cerahnya langit, para reporter dari media yang berbeda-beda itu menikmati kopi yang tidak lagi panas. Segelas untuk tiga mulut. Heru terus bercerita. Komeng menimpalinya. Dan Budi hanya menyeruput kopi.

"Saat ambil video di belakang Polres, tiga anggota polisi bersenjata lengkap tiba-tiba muncul dan berteriak minggir. Saya terus roll gambar sambil jongkok. Jujur, setelah itu saya syok. Padahal polisi itu coba mengamankan orang tak dikenal di dekat saya." kata Heru.

"Ha..ha..tenang. ini resiko. Jujur, aku juga sempat takut dan harus sembunyi di tembok. Kuatir ada peluru nyasar." timpal Komeng.

Sementara Budi hanya terus mengunyah kacang, minum kopi, dan sesekali menghisap rokoknya. Keberadaan tiga wartawan ini mengundang para wartawan lain untuk nimbrung dan ngobrol berbagi pengalaman selama liputan teroris. Kini satu gelas kopi untuk banyak mulut. Masih tetap terasa nikmat.

Berjam-jam mereka duduk di pinggir jalan menunggu statmen dari Kapolri Jendral Tito Karnavian yang melakukan peninjauan di Gedung Polrestabes Surabaya. Maklum, paska ledakan, lokasi jalan Veteran benar benar steril. Dan awak media tak bisa mendekat hingga harus menunggu di jalan dengan jarak radius 250 meter dari Polrestabes Surabaya.

Di tengah ancaman bom para jurnalis tetap bekerja
Di tengah ancaman bom, para jurnalis tetap bekerja (MP/Budi Lentera)

Saat mereka asyik bercanda dan saling olok, muncul sebuah mobil Panther warna Silver dengan kaca gelap, dari jalan Gatotan dan masuk ke jalan Veteran. Seorang polisi bersenjata lengkap dari kejauhan berteriak agar pengemudi balik arah.

Mungkin karena tak mendengar, pengemudi mobil itu terus melaju pelan masuk jalan Veteran dan berhenti di depan para wartawan.

Sebagian wartawan nampak waspada. Bahkan di antaranya memilih lari, takut jika sampai-sampai ada bom yang dilempar. Rasa was was makin memuncak, ketika kaca mobil itu dibuka dan terlihat seorang berkerudung hitam mendongakkan kepala dari kaca jendela.

"Mas..mas, ditutup ya jalannya.." ujarya sambil senyum.

Wartawan yang sempat panik akhirnya lega juga.

"Alhamdulillah, bukan teroris." spontan salah seorang wartawan dan diakhiri canda tawa oleh yang lain.

Ya, setelah dua hari dipaksa meliput rangkaian ledakan bom dan informasi informasi hoak yang beredar terkait banyak tempat terjadi ledakan, membuat mereka letih dan mulai sedikit parno. (*)

Artikel ini ditulis berdasarkan laporan Budi Lentera, reporter dan kontributor merahputih.com untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Doa dan Duka dari Solo untuk Korban Bom Bunuh Diri di Surabaya



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH