Cara Masyarakat Betawi Sambut Bulan Suci, Syariat atau Tradisi? Tradisi Nyorog, bagi-bagi bingkisan makanan jelang Ramadan sudah mulai ditinggalkan etnis Betawi. (Foto: MP/Rizki Fitrianto)

MENYAMBUT bulan suci Ramadan, beberapa masyarakat Indonesia melakukan tradisi unik. Keragaman budaya membuat ritual keagaaman kadang bersentuhan dengan tradisi serta adat-istiadat. Tak heran, jika muncul tradisi-tradisi unik jelang Ramadan.

Orang Betawi, misalnya, kerap melakukan beberapa kebiasaan pada beberapa hari jelang menunaikan ibadah puasa. Tradisi tersebut telah turun-temurun berlangsung, bahkan seolah dianggap sebagai syarat Islam.

Berikut 3 tradisi turun-temurun masyarakat Betawi jelang bulan Ramadan:

1. Nyorog

Tradisi Nyorog, bagi-bagi bingkisan makanan jelang Ramadan sudah mulai ditinggalkan etnis Betawi. (MP/Rizki Fitrianto)

Istilah Nyorog mungkin terdengar asing di telinga masyarakat. Namun, bagi tokoh-tokoh Betawi tradisi tersebut merupakan leluri para leluhur dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi Nyorog tak jauh berbeda dengan tradisi Munggahan masyarakat Sunda, dengan mendatangi anggota keluarga lebih tua sambil memberikan bingkisan.

Biasanya bingkisan tersebut berupa bahan makanan mentah. Namun, ada juga berisi ikan, daging kerbau, kopi, susu, gula, sirup, dan beras. "Tujuannya untuk mempererat tali silaturahmi," kata salah seorang tokoh Betawi Depok, Buang Jayadi di rumahnya, Jalan Tanah Baru, Gang Empang III No 9, Depok, Selasa (8/5).

Meski demikian, Engkong Buang menyadari bahwa tradisi Nyorog sudah jarang dilakukan masyarakat Betawi. Apalagi, ucapnya, istilah Nyorog tak banyak dikenal orang-orang Betawi. "Tapi kebiasaan mengirim makanan sampai sekarang masih ada di kami," katanya.

2. Ruwahan

Ilustrasi tradisi Ruwahan Betawi. (https://budayajawa.id)

Banyak kebiasaan unik lainnya nan kerap dilakukan masyarakat Betawi. Salah satunya tradisi Ruwahan. Setiap memasuki akhir Syakban, mereka sering melakukan tradisi tersebut dengan mengundang tetangga dan tokoh agama.

Menurut kepercayaan masyarakat Betawi, Ruwahan penting dilakukan guna mendoakan arwah leluhur dengan mengaji bersama. Salah seorang sesepuh Betawi Depok, Buang Jayadi mengatakan Ruwahan merupakan akar kata dari 'arwah', atau roh leluhur. Sehingga di bulan ke-8 tahun Hijriah itu masyarakat Betawi mengumpulkan warga untuk mengaji bersama. "Biasanya disebut "mapagin bulan rowah"," kata Buang Jayadi di rumahnya, Jalan Tanah Baru, Gang Empang III No 9, Depok, Selasa (8/5).

Selain mengaji bersama, Engkong Buang mengatakan dalam menjalankan tradisi tersebut, si empunya hajat juga menyediakan beberapa makanan khas Betawi sebagai sajian. Penganan yang biasa disuguhkan di antaranya tape uli ketan, kue cincin, dan kue geplak. Sementara, tape uli ketan terdiri dari dua macam hidangan; uli atau gemblong, dan ketan hitam.

3. Nyekar

Ilustrasi tradisi Nyekar. (http://ekoajah.blogspot.co.id)

Ziarah makam atau yang lebih familier disebut Nyekar juga merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan masyarakat Betawi jelang Ramadan. Seminggu sebelum bulan puasa, komplek pemakaman akan banyak disambangi para peziarah. tradisi tersebut merupakan salah satu penghormatan kepada orang tua atau leluhur yang sudah tiada.

Salah seorang tokoh Betawi Depok, Buang Jayadi mengatakan, selain mengirimkan doa para peziarah juga membawa berbagai bunga seperti melati, mawar, minyak wangi, dan sebotol air kuburan. "Setiap makhluk hidup senantiasa berzikir. Selama melati dan mawar itu tidak mati, akan selalu mendoakan arwah leluhur," kata Buang Jayadi di rumahnya, Jalan Tanah Baru, Gang Empang III No 9, Depok, Selasa (8/5).

Ketika sampai di depan pusara, kata Engkong Buang, para peziarah langsung memberikan salam dan doa kepada arwah tersebut. "Biasa membacakan Al Fatiha dan Surat Yasin," katanya. Tujuannya adalah untuk memberikan penghormatan kepada jasad yang telah dikubur.



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH