Cap Go Meh Bogor 2018, Pesta Rakyat Indonesia Atraksi Langliong (dialek Hokkian) atau yang lebih dikenal liong (naga) saat Pesta Budaya Cap Go Meh 2018 Bogor di Jalan Suryakencana, Bogor Tengah, Jawa Barat. (Merahputih.com/Rizki Fitrianto)

"Kekeluargaan adalah suatu paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan suatu usaha, satu amal, satu pekerjaan.. satu karyo, satu gawe. Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagian semua," kata Ir Sukarno (1901-1970).

SEPERTI itu pula yang terjadi dan dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor dalam perayaan Pesta Budaya Cap Go Meh 2018. Terlepas dari suku, agama, dan ras tertentu, warga Bogor justru saling bahu-membahu menyukseskan acara tahunan tersebut

Dalam kegiatan itu, baik etnis Tionghoa maupun Sunda bersatu padu merangkai kegiatan yang nyatanya sangat dinanti dan dinikmati oleh masyarakat Bogor serta daerah lainnya.

Bahkan, di tengah derai rintik air hujan yang riang membasahi bumi Pasundan, tak sedikit pun mengendurkan antusias masyarakat, panitia, dan tamu undangan untuk tetap menyaksikan acara itu.

Tak hanya orang dewasa, ratusan bocah juga tampak khusyuk menyaksikan beberapa atraksi budaya yang dilakukan oleh beberapa sanggar seni.

Ketua Panitia Pelaksana Cap Go Meh Arifin Himawan mengatakan, inti daripada kegiatan tersebut adalah tentang kebudayaan lokal, kebudayaan Tionghoa, sanggar seni, komunitas, dan atraksi dari luar daerah yang menampilkan seni dan budaya.

"Kegiatan ini sebenarnya adalah tentang budaya, bukan hanya agama atau etnis tertentu. Yang ditampilkan nanti ada tari-tarian yang jarang dilihat. Semua ini bertujuan untuk menaikan nilai pariwisata Kota Bogor," kata Arifin kepada Merahputih.com di Jalan Suryakencana, Bogor Tengah, Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/3).

Selain itu, Arifin juga menjelaskan bahwa tujuan diadakan Pesta Budaya Cap Go Meh merupakan salah satu langkah orang-orang Tionghoa di Bogor untuk menjaga kebinekaan yang selama ini terjalin bersama masyarakat lokal.

"Kami ingin menjaga tradisi leluhur, yang di mana mengedepankan persatuan dan kesatuan. Jangan sampai kita dipisah-pisahkan karena agama atau karena etnis tertentu," katanya.

Perayaan Cap Go Meh, kata Arifin, sudah berlangsung selama belasan kali. "Dan untuk kegiatan Cap Go Meh ini, sudah yang ke-16 kali," katanya.

Salah seorang peranakan Tionghoa yang juga pemerhati budaya, David Kwa menuturkan, pada awalnya Cap Go Meh hanya dirayakan oleh orang-orang Tionghoa. Sebab, ujar David, acara tersebut merupakan penutupan Tahun Baru Tionghoa, yang dirayakan secara public affair.

"Namun, perkembangan di Kota Bogor lain. Hubungan antaretnis begitu baik, sehingga apa salahnya kalau orang Tionghoa turut berbagi dengan etnis lainnya, sehingga kegembiraan bisa dirasakan semua warga," kata David saat dihubungi Merahputih.com.

"Bogor memang sudah maju selangkah dan layak menjadi percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia terkait masalah kebinekaan atau persatuan," tandasnya. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH