Canggih, Dunia Kedokteran Manfaatkan Virtual Reality untuk Pengobatan

TEKNOLOGI virtual reality sudah lazim dikenal. Teknologi ini diperkenalkan kepada orang-orang sebagai alat untuk menyiarkan secara langsung tampilan dari komputer dalam sekejap mata. Awalnya sih, teknologi ini lebih banyak digunkanan sebagai sarana hiburan. Namun kini, dunia kesehatan juga mulai melirik manfaat virtual reality.

1. Virtual Reality dalam Kedokteran

Virtual reality
Dunia kesehatan kini makin maju dengan penggunaan VR. (foto: uploadVR)


Tahun lalu, rumah sakit di Jerman menggunakan virtual reality untuk praktik pembedahan. Dengan basis perangkat lunak yang dibuat Jualine Speidel, mereka bisa mempelajari anatomi dalam tubuh langsung melalui kacamata virtual reality.

Dengan mempelajari anatomi melalui teknologi tersebut, dokter bisa mengetahui bagaimana mereka melakukan operasi. Sebagai contoh, bagaimana jika mengangkat satu organ akan memengaruhi organ lain, apakah akan ikut terangkat juga. Selain itu, mereka bisa melakukan praktik operasi menggunakan model dan kacamata VR.

Bukan hanya sebagai alat untuk praktik, virtual reality juga bisa digunakan sebagai alat untuk menyiarkan info secara langsung kepada pasien yang mengalami gejala. Bahkan dokter bisa mengekspos lokasi tumor yang memerlukan operasi. Lebih jauh, ahli kesehatan bisa menganalisis tubuh pasien melalui 3D CT X-Ray yang dapat bisa dilihat secara langsung hasilnya melalui kacamata VR. Hal itu memudahkan dokter untuk merealisasikan rencana operasi mereka agar berjalan dengan baik. Hebat bukan?

2. Praktik Psikoterapi melalui Virtual Reality

virtual reality
Pasien dengan kecemasan bisa diterapi dengan virtual reality. (foto: loupventures)


Tidak hanya di dunia kedokteran, virtual reality juga bisa digunakan untuk mengobati gejala psikis yang dialami pasien. Dikutip Dazed, studi dari British Association for Behavioural and Cognitive Psychoterapies menyarankan untuk mencampurkan perilaku cognitive-behavioral therapy (CBT) dengan teknologi virtual reality untuk membantu menyembuhkan gejala kecemasan dalam kehidupan nyata.

Sesi dalam VR-CBT tersebut pasien dapat merasakan lingkungan sekitar, seperti trotoar, kafe, atau supermarket. Pasien akan diberikan kuesioner dari sesi tersebut, apakah mereka merasakan kecemasan atau tidak. Dengan terapi dua kali dalam sebulan, beberapa pasien yang bisa mengungkapkan hasil tindakan tersebut.

Hasilnya, 13 dari 15 pasien mengalami pengurangan gejala kecemasan. Kualitas hidup mereka yang melakukan psikoterapi menggunakan VR pun meningkat.

3. Virtual Reality untuk Rehabilitasi Penyakit Stroke

virtual reality
Pasien stroke bisa melakukan fisioterapi yang efektif dengan VR. (foto: nbcnews)


Dalam bidang fisioterapi, VR akan sangat membantu dalam rehabilitasi penyakit stroke. VR akan memberikan umpan balik motorik dari gerakan pasien dalam bentuk motion capture. Hal itu bertujuan agar pasien mendapatkan motivasi dan menstimulasi sirkuit saraf dalam sistem motorik untuk membantu penyembuhan.

Rehabilitasi strokedengan VR terbukti efektif. Seperti dikutip Medicalnewsbulletin.com, secara garis besar, perawatan yang berbasis VR menyediakan sesi latihan yang 86,3% lebih efisien. Perawatan ini bahkan lebih efisien daripada terapi secara konvensional.(ald)


Tags Artikel Ini

Dwi Astarini