Candi Cetho, Mengalami Pemugaran Era Soeharto Candi Cetho (foto: instagram.com/pingdafrog)

Merahputih Budaya - Candi Cetho sempat mengalami pemugaran pada akhir tahun 1970-an dilakukan oleh Asisten Pribadi Presiden Soeharto, Sudjono Humardani. Hal ini dilakukan mengingat kondisi punden perundak sudah tidak layak dan perlu dipertahankan.

Namun pemugaran ini banyak di protes dan mendapat kritikan pedas oleh pakar arkeologi. Alasannya, pemugaran dilakukan berdasarkan studi yang mendalam.

Beberapa bangunan hasil pemugaran nampak tidak orignal lagi seperti gapura megah di bagian depan kompleks, bangunan-bangunan dari kayu tempat pertapaan, patung-patung yang dinisbatkan sebagai Sabdapalon, Nayagenggong, Brawijaya V, serta phallus, dan bangunan kubus pada bagian puncak punden.

Saat bangunan Candi Cetho di renovasi, komplek candi pun berubah menjadi sembilan berundak. Sebelumnya, gapura besar hhanya berbentuk candi bentar, pengunjung hanya mendapati dua pasang arca penjaga.

Selain itu, aras pertama gapura masuk yakni teras ketiga merupakan bagian halaman candi. Selanjutnya, aras kedua masih dalam bentuk halaman. Sedangkan aras ketiga sebagai tempat petilasan Ki Ageng Krincingwes yang merupakan leluhur masyarakat dusun.

Bila memasuki aras kelima (teras ketuju), anda akan menemukan sebuah gapura di dinding sebelah kanan (tulisan pada batu), dengna aksara bahasa Jawa Kuno berbunyi pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397.

Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri (ruwat) dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi.

Pada teras ketujuh anda akan menemukan tataan batu mendatar di permukaan tanah serta menggambarkan kura-kura raksasa, diartikan sebagai simbol Majapahit. Simbol phallus memiliki arti sebagai alat kelamin laki-laki dan memiliki panjang 2 meter dilengkapi hiasan tindik (piercing) bertipe ampalang.

Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Terdapat penggambaran hewan-hewan lain, seperti mimi, katak, dan ketam. Simbol-simbol hewan yang ada, dapat dibaca sebagai suryasengkala berangka tahun 1373 Saka, atau 1451 era modern. Dapat ditafsirkan bahwa kompleks candi ini dibangun bertahap atau melalui beberapa kali renovasi. (Abi)

BACA JUGA:

  1. Candi Cetho, Nampak Megah Dibangun Pada Lereng Gunung Lawu
  2. Rute Perjalanan Menuju Candi Ngawen
  3. Candi Ngawen, Patung Singa Menjadi Ciri Khas
  4. Candi Ngawen, Situs Sejarah Belum Banyak Dikenal Wisatawan
  5. Wisata Alam dan Sejarah di Candi Miri

 

 

 

 

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Ini Tiga Alasan Konser Luar Ruang Jazz Gunung Hybrid Concert 2020 Bisa Terlaksana
Travel
Ini Tiga Alasan Konser Luar Ruang Jazz Gunung Hybrid Concert 2020 Bisa Terlaksana

Tiga Alasan Konser Luar Ruang Jazz Gunung Hybrid Concert 2020 sangat mengejutkan

Kampanye Wisata untuk Provinsi Gangwon Korea Selatan
Travel
Kampanye Wisata untuk Provinsi Gangwon Korea Selatan

Kampanye ini juga mengajak lebih dari 2.000 tempat wisata di ...

Bujuk Soebardjo Demi Menemukan Lokasi Penculikan Sukarno-Hatta
Indonesiaku
Bujuk Soebardjo Demi Menemukan Lokasi Penculikan Sukarno-Hatta

Begitu sosoknya muncul, Soebardjo langsung menegur keras

5 Destinasi Favorit Liburan Akhir Tahun, Ada Kotamu?
Travel
5 Destinasi Favorit Liburan Akhir Tahun, Ada Kotamu?

Setiap kota punya ceritanya masing-masing.

Serbadaging, Sajian Idul Adha Khas Berbagai Daerah Nusantara
Kuliner
Serbadaging, Sajian Idul Adha Khas Berbagai Daerah Nusantara

Satu hal yang pasti, semuanya nikmat.

Warga Yogyakarta dilarang Main Petasan Saat Malam Takbiran
Travel
Warga Yogyakarta dilarang Main Petasan Saat Malam Takbiran

Fokus penjagaan petugas adalah diobjek vital serta lokasi wisata favorit seperti Malioboro, Alun-alun dan Titik nol km.

Tempat Berburu Kerajinan Tangan di Yogyakarta
Travel
Tempat Berburu Kerajinan Tangan di Yogyakarta

Selalu dukung produk lokal dengan membeli kerajinan tangan khas Yogyakarta.

Raja Machmud Singgirei Rumagesan, Pahlawan Papua Melawan Pemerintahan Kolonial Belanda
Indonesiaku
Raja Machmud Singgirei Rumagesan, Pahlawan Papua Melawan Pemerintahan Kolonial Belanda

Raja Machmud Singgirei Rumagesan juga memperjuangkan Papua menjadi bagian dari Negara Indonesia.

Keindahan Peleburan Budaya di Kampung Muslim Pegayaman
Tradisi
Keindahan Peleburan Budaya di Kampung Muslim Pegayaman

hubungan antara masyarakat muslim di Pegayaman dan orang-orang Hindu di sekitarnya telah terjalin sejak abad ke-17.

Jangan Sampai Kain Songke Manggarai Punah
Tradisi
Jangan Sampai Kain Songke Manggarai Punah

Kain songke Manggarai menjadi tradisi nenek moyang yang terancam punah