Butuh Kesepakatan Antar Anak dan Orangtua Dalam Penggunaan Internet Buat perjanjian dengan anak (Foto: Pixabay/Peggy_Marco)

DI masa pandemi seperti sekarang, melakukan aktivitas di dalam rumah sangat disarankan. Tujuannya yakni mencegah penyebaran virus corona baru atau COVID-19. Beberapa kebijakan pemerintah juga dibuat untuk mendukung kediatan #DiRumahAja.

Kegiatan yang hampir seluruhnya dilakukan di rumah tentu membuat penggunaan internet semakin menjadi-jadi, termasuk bagi anak-anak. Oleh karena itu, Spesialis Perlindungan Anak, UNICEF Indonesia, Astrid Gonzaga Dionisio, mengatakan dibutuhkan kesepakatan bersama antara orangtua dan anak dalam penggunaan internet.

Baca juga:

Facebook Perluas Pasar Messenger Kids ke Lebih 70 Negara

"Sebaiknya orang tua membuat kesepakatan dengan anak, karena anak juga harus bersosialisasi dengan keluarga, melakukan kegiatan perilaku sehat bersih, waktu ibadah. Orang tua harus menentukan kapan anak dapat melakukan akses internet dan apa saja konten yang bisa diakses itu penting," kata Astrid dalam konferensi pers darling seperti dilansir Antaranews.com.

Perlu ada batasan penggunaan internet (Foto: Pixabay/fancycrave1)
Perlu ada batasan penggunaan internet (Foto: Pixabay/fancycrave1)

Astrid menjelaskan teknologi memang memberikan keuntungan terutama bagi anak terlebih di situasi seperti sekarang. Namun, di balik itu ada dampak yang perlu diantisipasi. Terlebih berdasarkan riset UNICEF tahun 2019, terdapat 98,3 persen anak dan remaja memiliki akses internet di perangkat seluler.

Baca juga:

Pandemi COVID-19 Bikin Snapchat Kebanjiran Pengguna

Riset tersebut juga menyebutkan jika 90,7 persen anak dan remaja menggunakan perangkat cerdasnya untuk mengakses media sosial, bermain game online atau menonton film streaming. Mereka rata-rata menghabiskan lima jam dalam sehari saat hari biasa dan tujuh jam sehari saat hari libur. Angka ini diyakini meningkat selama masa pandemi.

Anak-anak berkomunikasi dengan orang tua menggunakan Facebook's Messenger di Barcelona. (REUTERS/ALBERT GEA)
Anak-anak berkomunikasi dengan orang tua menggunakan Facebook's Messenger di Barcelona. (REUTERS/ALBERT GEA)

Mudah dan seringnya anak mengakses internet meningkatkan risiko agresi kekerasan terhadap diri sendiri. Anak juga bisa terpapar kekerasan, termasuk kekerasan seksual, yang berujung pada eksploitasi terhadap anak, baik eksploitasi untuk mendapat keuntungan hingga komersil seperti pornografi.

Perjanjian batas penggunaan aplikasi juga perlu dilakukan. Sementara penyedia platform juga seharusnya memberikan pengaturan waktu yang bisa digunakan orangtua untuk mengontrol aplikasi. Misalnya TikTok yang menghadirkan fitur Family Pairing yang menghubungkan akun orangtua dengan akun anak mereka.

"Bagi orang tua tidak ada kata telat, terlambat atau gaptek mari belajar internet agar bisa mendampingi anak, dan jadilah pendengar teman bagi anak remaja, baik itu online atau offline, baik cerita permasalahannya sehari-hari, atau yang menyenangkan," tutur Astrid. (Yni)

Baca juga:

Zoom Tingkatkan Sistem Keamanan pada Update 5.0


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH