Bung Tomo-Sulistina Cinta Bersemi di Pertempuran Surabaya Pernikahan Bung Tomo dengan Sulistina. (Foto: fokusjabar.co.id)

SULISTINA langsung merangsek mendekat radio begitu tahu Bung Tomo akan berpidato, 9 November 1945. Ia dan rekan-rekan di kantor Keisatsubu, Malang, acuh terhadap keberadaan orang-orang Jepang. Mereka lebih tertarik kabar teraktual di Surabaya ketimbang takut kepada atasan maupun tentara Jepang.

Di radio, Bung Tomo mengajak kepada rakyat Indonesia untuk tidak tunduk kepada Sekutu. "Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita. Kita bersemboyan, Kita Merdeka Atau Mati! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" hentaknya.

Sulistina terpukau pidato Bung Tomo. "Ada getaran aneh menjalar di dada. Ada keinginan berontak dan sekaligus berjuang untuk negara," kata Sulitina Sutomo pada Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu.

Seusai pulang kantor, Sulistina nan terngiang suara Bung Tomo, tak langsung ke rumah melainkan mampir ke markas Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) di Jalan Tangkubanperahu, Malang.

Di BPRI, Sulitina mengikuti latihan menggunakan pistol, karaben, granat, dan mitraliur, serta keterampilan Palang Merah di bawah bimbingan Dr Sumarno (kelak menjadi Gubernur DKI Jakarta) di Rumah Sakit Sukun, Malang.

Dari semua hasil pelatihan itu, Sulistina kemudian memilih menjadi Palang Merah Indonesia (PMI). Begitu Pertempuran Surabaya bergejolak, tiga gadis PMI, termasuk Sulistiana berangkat ke Surabaya pada 11 November 1945.

Tengah malam mereka tiba di Surabaya dan dititipkan di rumah keluarga Bandarkoem, pegawai DKA, di Tembol Dukuh. Esoknya, mereka bertugas di kantor BPRI. Tak lama, suara mortir menggelegar. Pesawat meraung di udara. Mereka bertiga langsung bersembunyi di kolong meja.

Sejurus kemudian terdengar suara tertawa keras. "Durung maju perang wis ndelik. Yo opo seh! (Belum maju perang udah bersembunyi. Gimana sih!" kata seorang pemuda BPRI. Mereka lantas hanya bisa menerima ejekan itu.

Namun, di antara ketiganya, Sulistina malah terpana pada salah seorang pemuda lain nan sedari tadi memperhatikannya.

Beberapa hari kemudian, pemuda bersetelan drill ala Jepang, mengenakan peci hijau tua bersemat emblem banteng merah putih itu menghampirinya. Pemuda itu mengajak Sulistina dan temannya pindah markas, mundur ke Jalan Mawar.

Sulistina terpana dengan tatapan pemuda itu. "Matanya seperti menancap di mataku. Entah mengapa hatiku bergetar. Aku tidak kuasa menjawabnya. Hanya mengangguk," ungkap Sulitina.

Belakangan ia baru tahu pemuda itu Bung Tomo, tokoh nan hanya didengar suaranya dan menjadi inspirasinya turun ke palagan menjadi PMI.

Saat menempati Jalan Mawar, Sulistina semakin sering menyaksikan Bung Tomo siaran radio menggelorakan semangat 'Arek Surabaya'.

Suatu pagi Sulitina mendapat tugas berangkat ke Rumah Sakit Simpang. Ia menumpang truk duduk bersama supir, sementara di bagian belakang berdiri beberapa pemuda.

Tiba-tiba ia merasa ada benda dingin menempel di tengkuknya. Sulistina menoleh. Ternyata benda dingin itu moncong pistol. "Eh Bung! Pistolnya jangan diarahkan kepadaku! Tapi pada musuh!" bentaknya. Pemuda itu kaget dan langsung memindahkan letak pistolnya.

Dari lubang di belakang sandaran kepala, ia mengintip sosok pemuda nan tak lain Bung Tomo. Di rumah sakit, meski sedang bekerja membantu korban luka, Sulistina terkadang mencuri tatap kepada pemuda idamannya.

"Aku memperhatikan Bung Tomo. Matanya bulat dan hitamnya besinar-sinar. Ia tidak tinggi, mungin hanya beberapa senti lebih tinggi dariku," katanya.

Semakin hari, keadaan perang semakin mengkhawatirkan. Para pejuang dipukul keras Sekutu sampai Sidoarjo hingga Malang. Kota Malang sesak dengan pengungsi. Keadan itu membuat Sulistina kembali ke rumah.

Saat sedang menikmati sore di depan rumah, tiba-tiba muncul seorang kawan BPRI. Manshur mengajaknya pergi karena ada kawan berulangtahun ingin mentraktir. Dari restoran, mereka mampir ke Jalan Wahidin, kediaman Mbakyu Kadi. Di sana ada beberapa teman lama, dan Bung Tomo.

"Aku cuma mengangguk ketika ia tersenyum menyambut," kenangnya. Mereka kemudian bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Mbakyu Kadi menarik tangan Sulistina mengantarnya masuk pintu belakang mobil. Tak lama Bung Tomo menyusul.

Di bangku belakang itu hanya mereka berdua. Sepanjang perjalanan Bung Tomo salah tingkah. Memakai kaos kaki, bolak-balik membersihkan kacamata, bahkan pura-pura memperhatikan jalan. "Aku diam saja memperhatikan jalan".

Mobil ternyata membawa mereka ke rapat BPRI. Tak ada kawan berulangtahun. Sulistina tertipu ajakan kawannya nan semula telah mengatur pertemuannya dengan Bung Tomo.

Dua minggu kemudian, kawannya mengajaknya menghadiri pertemuan di gedung KNPI. Di pertemuan itu Bung Tomo hadir dan berpidato. Usai acara resmi, Bung Tomo mengamini permintaan bernyanyi. "Hatiku bergetar. Aliran darahku mengalir kencang. Aku menunduk. Ketika mengangkat wajah, mata Bung Tomo masih menatapku seakan lagu itu khusus untukku".

Pertemuan mereka makin lama makin sering terjadi. Benih cinta telah bersemi. Bung Tomo, menurut Abdul Waid pada Bung Tomo, tidak hanya suka dan cinta terhadap sosok kekasihnya, namun lebih dari itu, dalam banyak hal ia juga mengagumi Sulistina karena sikapnya, sifatnya, cara berbicaranya, intelektualitasnya, dan keteguhannya. Ia kepalang cinta hingga pernah membuat puisi untuk buah cintanya saat perayaan Hari Kartini.

"Ini Hari Kartini, Dik! Terbayang wajahmu nan cantik. Penaku kini henti sedetik. Terlintas semua jasamu. Sejak kita bertemu".

Bung Tomo kemudian memberanikan diri mempersunting Sulitina pada 19 Juni 1947 di Malang. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH