Bukan Tindakan Egois, Bunuh Diri Bukanlah Sebuah Pilihan Kematian akibat penyakit mental tergolong tinggi. (Foto: Unsplash/fairytailphotography)

HARI pencegahan bunuh diri sedunia pertama secara resmi diinisiasikan pada 10 September 2003 dan dikelola oleh Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri (IASP). World Health Organization (WHO) juga mensponsorkan gerakan ini.

Sayangnya, walau sudah 17 tahun merayakan hari pencegahan bunuh diri sedunia. Penyakit mental tidak menerima simpati dan pengakuan yang sama dengan penyakit fisik.

Baca Juga:

Cara Mencegah Bunuh Diri: Datang, Duduk, Dengarkan

diri
Sama seperti COVID-19, depresi tidak memandang siapa dirimu dan bisa dialami oleh siapa saja. (Foto: Unsplash/kaimantha)

Ini dibuktikan dengan masih maraknya stigma-stigma negatif, kepercayaan, tanggapan mengenai kesehatan mental dan bunuh diri masih sangat tinggi. Terutama di negara-negara yang cenderung lebih konservatif dan religius seperti Indonesia.

Setiap ada kasus bunuh diri, bukannya bersimpati atau berempati, banyak orang malah menghakimi. Salah satunya adalah orang yang bunuh diri itu egois. Padahal, para korban pasti sudah mengalami banyak kesusahan, kesedihan, dan penghakiman selama hidupnya. Sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sudah meninggalpun, masih harus dibenci.

Seperti contoh kasus bunuh diri Robin Williams, walau banyak orang tentunya menyayangkan kepergian tokoh ikonik ini, banyak yang malah berkomentar negatif.

Melansir laman The Guardian, banyak yang berkomentar seperti, "sangat egois dan teganya kamu meninggalkan keluargamu seperti itu," atau "bunuh diri saat kamu memiliki segalanya adalah keegoisan maksimal," dan banyak lagi.

Tidak seperti manusia, depresi tidak memandang fisikmu, kepribadianmu, uangmu. Mengatakan bahwa Williams egois karena bunuh diri saat ia memiliki "segalanya". Jika dipikir-pikir adalah komentar yang sangat tidak masuk akal.

Williams tidak memiliki segalanya, apa yang tidak ia miliki? Kebahagiaan, rasa cinta terhadap diri sendiri, harapan, dan banyak lagi. Egois karena meninggalkan keluarga? kebanyakan, tidak semua, orang yang menderita depresi berat atau bunuh diri tidak merasa bahwa orang peduli dengan mereka. Atau mereka merasa menjadi beban di keluarganya dan mereka akan lebih baik tanpa dirinya.

Dean Burnett, seorang dokter ilmu saraf dan penulis, dilansir dari The Guardian, meminta orang-orang yang mengalami penyakit mental yang parah hingga berpikir untuk bunuh diri untuk berpikir logis sama seperti meminta orang dengan kaki yang patah untuk jalan dengan normal.

Baca Juga:

3 Kata yang Kerap Diucapkan Orang yang Ingin Bunuh Diri

diri
Jangan takut untuk mencari bantuan dan jangan menyerah. (Foto: Unsplash/dmey503)

Kita tidak bisa berekspektasi seseorang yang mengalami penyakit mental yang parah untuk berpikir seperti orang-orang yang tidak memiliki penyakit mental. Mungkin buat kamu pasti ada jalan, tapi bagi mereka sudah tidak ada jalan.

Sepertinya banyak orang lupa bahwa tindakan bunuh diri bukanlah hal yang sepele dan gampang. Manusia secara alami memiliki insting yang kuat untuk bertahan hidup. Bayangkan rasa sakit dan penderitaan yang korban bunuh diri alami sehingga ingin dan dapat mengakhiri hidupnya sendiri.

Orang yang meninggal akibat bunuh diri jugalah korban, sama seperti kasus kematian lainnya. Kenapa kita semua tidak bisa perlakukan dengan cara yang sama? Apakah seseorang yang memiliki kanker ingin memiliki kanker? tidak. Sama seperti orang yang memiliki depresi, mereka tidak ingin untuk menjadi depresi. Semua orang di dunia ini ingin bahagia.

Stigma negatif ini menjadi salah satu stigma yang paling berbahaya dan toxic bagi banyak psikolog dan aktivis kesehatan mental. Mengapa? dengan adanya stigma ini, tidak hanya seakan-akan membenci dan menyalahkan korban bunuh diri, tapi memperburuk stigma kesehatan mental yang sudah ada juga memperburuk kondisi orang-orang yang mengalami depresi berat.

"Jika seseorang benar-benar tertekan dan merasa hidupnya tidak berharga, melihat bahwa orang lain menganggap perasaannya egois pasti menambah rasa kebencian dan kesuraman terhadap diri mereka. Karena ini juga menunjukkan bahwa orang akan membenci mereka bahkan dalam kematian," tulis Burnett. (lev)

*Depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

Baca Juga:

Waspadai Copycat Suicide, Bunuh Diri Dipicu Figur Publik Dunia


Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH