Bukan Kutukan, ABK Butuh Kasih Sayang Orangtua Novi dan Tisna Chandra, dua Kartini di balik ABK.(foto: MP/Ikhsan Digdo)

"ADA lo anak (ABK) yang tidak boleh masuk rumah. Mereka dibuatkan rumah di luar."

Demikian Tisna Chandra mengenang pengalamannya saat menangani salah satu anak berkebutuhan khusus (ABK). Yang disebut anak berkebutuhan khusus ialah mereka yang mengalami autisme, asperger, hingga memiliki gangguan ADHD. Mereka memang memiliki kekurangan. Itulah mengapa masyarakat pun banyak yang memandang mereka negatif.

Padahal, di balik kekurangan para ABK tersebut, tersimpan potensi yang berbeda dari orang kebanyakan. Namun, sebelum potensi itu bisa muncul, dibutuhkan pengarahan khusus, bimbingan, dan yang terpenting kasih sayang yang tanpa batas. Sebagai awal, para orangtua harus menerima ketika anak mereka didiagnosis sebagai ABK. Orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus harus mau mengakuinya dan membawa mereka ke tempat pengobatan tepat.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah acara bincang-bincang yang digelar Spectrum Treatment and Education Centre, sebuah klinik yang menangani ABK dan anak normal bermasalah. Acara yang digelar untuk memeringati Hari Kartini tersebut mengangkat tema Kartini-Kartini muda di balik perjuangan anak berkebutuhan khusus (peran ibu dan wanita-wanita lain bagi anak berkebutuhan khusus) itu, Spectrum berbagi pengalaman tentang menangani ABK. Acara berlangsung di klinik Spectrum di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (21/4).

"Orangtua harus menerima bahwa mereka butuh bantuan," ungkap Dra, Psi, Tisna Chandra, pemilik sekaligus Direktur Utama Program Spectrum Treatment & Education Centre.

Menurut Tisna, penanganan, sehebat apa pun praktiknya, akan percuma jika orangtua ABK tetap lari dari kenyataan. Mereka tetap tidak menginginkan sang anak yang tidak normal seperti anak lain.

"Percuma treatment setengah mati, tapi orangtuanya malu," sambungnya.

Para orangtua seharusnya tidak memandang ABK sebagai kekurangan. Pasalnya, di dalam kekurangan mereka sebenarnya, ada kelebihan. Ya, bahkan kelebihan itu melampaui anak lainnya.

Salah satu kelebihanya yang dimiliki ABK ialah intuisi. Mereka memang sering berkhayal. Namun, khayalan mereka bukanlah semata-mata sebuah wacana ataupun main-main. Jadi jangan anggap hal itu aneh, khayalan mereka ataupun imajinasi ialah intuisi yang hebat.

Di samping itu, kelebihan lain ABK ialah kepekaan. Meskipun seperti tidak fokus, mereka menyimpan semua pengalaman dalam memori mereka jika ada seseorang yang benar mereka sukai. Bahkan, ABK bisa merasakan orang yang bermuka dua. Hal itu dilakukan dengan menggunakan kepekaan mereka yang melebihi orang biasa.

"Dia (ABK) tahu orang-orang yang benar suka sama dia," ujar Tisna.

Tisna Chandra ingatkan orangtua dengan ABK untuk menerima kondisi anak. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

Kelebihan ABK itu baru akan menjadi manis jika orangtua berperan aktif. Meskipun ABK memiliki penangan dari seorang terapis, tetap saja 80% potensi itu akan muncul dari peran orangtua. Sementara itu, 20% sisanya tugas orang lain, seperti terapis ataupun dokter.

Oleh karena itu, agar mendapatkan perkembangan lebih baik dalam penanganan ABK, pola asuh, dan kasih sayang yang tepat harus diberikan kepada mereka. Tentunya tidak lupa dengan latihan yang dilakukan terus-menerus. Dalam hal ini, orangtua jangan sampai bosan membawa buah hati mereka ke klinik penanganan ABK.

Tisna pun menekankan bahwa anak berkebutuhan khusus bukanlah suatu kutukan. Mereka tetap normal, tapi hanya memerlukan kebutuhan yang berbeda dengan anak lain. Ya, sangat khusus. Orangtua maupun terapis yang menangani mereka juga harus selalu bersabar.

Seperti yang dituturkan Novita Mutiara Syarif, salah seorang orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Dalam kesempatan itu, ia hadir untuk menceritakan pengalamanya merawat sang buah hati tercinta. Ibu yang akrab disapa Novi itu memiliki anak bernama Muhammad Pandu Radiansyah, usianya kini 19 tahun.

Novi tidak pernah menyerah merawat sang anak. Apa pun yang disukai anaknya akan ia turuti. Radiansyah memang sudah berbeda sejak lahir, baik secara fisik dan mental. Saat itu, usia Radian sekitar tiga tahun, dokter yang menanganinya pun menasihati Novi untuk menerima keadaan tersebut.

Menurut sang dokter yang berpraktik di salah satu rumah sakit di kawasan Jakarta Barat itu, kondisi Radiansyah tidak akan berubah. Ia tidak memiliki kemampuan dasar seorang bayi ataupun balita. Radiansyah mengalami kelainan yang bernama Dubowitz Syndrome.

Kondisi tersebut membuat Radiansyah tidak bisa tumbuh normal secara fisik seperti anak pada umumnya. Serta ia memiliki beberapa gejala yang cenderung mengarah ke autisme.

"Jadi dia sindromnya itu anaknya memang kecil, akan kecil dan tidak bisa setinggi anak lain. Terus punya beberapa kecendrungan autisme," papar Novi.

Namun, Novi tidak pernah menyerah. Dengan kasih sayang Novi yang sangat tinggi kepada sang buah hati, perlahan perkembangan sang anak pun meningkat. Jadi, menurut Novi, ABK bukanlah suatu diagnosis akhir. Segalanya masih bisa berubah dengan adanya latihan rutin.

Semua hanyalah masalah waktu. ABK tetap memahami apa pun yang dikatakan orang lain. Hanya saja masalah mencerna hal tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama daripada anak normal. "Dia itu kemampuan berkembangnya bertahap," tambah Novi.

Novita Mutiara Syarif tangani buah hati ABK dengan kasih sayang penuh. (foto: MP/Ikhsan Digdo)

Novi pun mencontohkan hal yang difavoritkan Radiansyah. Radiansyah menyukai cara kerja eskalator dan struktur bangunan. Rupanya kesukaannya terhadap sturuktur bangunan merupakan sebuah perkembangan signifikan dalam mencerna objek yang dikenalnya.

Beberapa tahun silam, Novi dan Radiansyah tengah berbelanja ke pusat perbelanjaan. Secara tiba-tiba, kata Novi, sang anak memahami segala struktur bangunan pada pusat perbelanjaan tersebut. Ia bisa mengetahui cara kerja sebuah pipa pendingin ruangan.

Novi terheran mengapa Radiansyah dapat mengetahui cara kerja pipa pendingin ruangan itu. Ya, bahkan secara mendetail. Rupanya, sang ayah pernah pernah mengajarkan proses kerja AC tersebut, beberapa waktu lalu.

Ya, meskipun lama mengerti, secara mengejutkan Radiansyah akhirnya mampu memahami perkataan dan ajaran sang ayah.

"Jadi kan kadang-kadang diajarkan hari ini belum paham. Tiba-tiba beberapa hari kemudian dia menunjukkan sudah paham," ujarnya lagi.

Selain itu, Novi juga mengingatkan para orangtua ABK untuk tak pernah berhenti memberikan pelajaran kepada anak mereka. Mereka memang terkadang susah memahami dan lama memberikan respon, tapi bukan berarti mereka tidak sanggup mencerna ajaran yang telah diberikan.

"Di balik mereka yang aktif, sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu. Bukan berarti kita tidak ajarkan dia sesuatu. Jadi kalau kita lihat dia tidak bisa, jangan jadi enggak ajarkan apa-apa," pesannya. (Ikh)

Kredit : digdo


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH