Bukan Enggak Makan Nasi, Melainkan Batasi Jumlahnya ilustrasi. (foto: pexels)

SEBAGIAN besar orang Indonesia makan nasi sebagai makanan pokok. Namun, banyak juga yang menjauhi nasi karena menganggap nasi ialah biang kerok kenaikan berat badan. Oleh karena itu, tidak sedikit yang benar-benar tidak makan nasi demi menurunkan berat badan.

Apakah hal itu sehat?

Karbohidrat yang terkandung dalam nasi diperlukan tubuh untuk membantu proses pembakaran kalori menjadi energi. Meskipun begitu, Anda memang tidak diharuskan untuk makan nasi setiap waktu makan. Tidak masalah juga jika Anda tidak makan nasi. Namun, semua itu dibolehkan selama Anda tetap menjaga kadar karbohidrat tubuh dengan mengonsumsi makanan lain yang mengandung karbohidrat.

Nasi bisa diganti dengan jenis karbohidrat lain seperti kentang, roti, bihun, atau ubi. Umumnya seseorang tidak makan nasi atau karbohidrat lain dalam melakukan diet untuk menurunkan berat badan. Namun, diet rendah karbohidrat bukan berarti tidak mengonsumsi karbohidrat, melainkan dengan mengurangi asupan karbohidrat dari biasanya.

Tidak makan nasi atau sumber karbohidrat lain membuat Anda tak bersemangat menjalani aktivitas, merasa kelelahan, dan tidak enak badan seharian. Kebiasaan ini juga justru akan merusak program diet Anda.

Telah dibuktikan bahwa sengaja tidak mengonsumsi karbohidrat sama sekali saat diet justru membuat Anda tambah sulit menurunkan berat badan.

Jadi enggak makan nasi tidak bikin masalah nuat tunuh dong? Belum tentu.

Pada umumnya, orang dewasa yang sehat dianjurkan mengasup sekitar 300-400 gram karbohidrat per hari. Saat menjalani diet, asupan karbohidrat dapat dikurangi setengahnya atau menjadi sekitar 150-200 gram.

Pengurangan karbohidrat harus disesuaikan dengan pola aktivitas Anda, dan dilakukan secara perlahan dalam hitungan mingguan maupun bulan. Hindari menurunkan asupan karbohidrat terlalu banyak jika Anda aktif bergerak dengan intensitas yang cukup tinggi. Hal itu bisa membuat Anda kekurangan karbohidrat.

Ketika kekurangan karbohidrat, tubuh akan lemas lalu mengambil protein dan lemak untuk dijadikan energi. Proses pecahnya lemak untuk dijadikan energi dapat menyebabkan terjadinya penumpukan unsur keton di dalam darah.

Jika dibiarkan terus berlangsung, kondisi itu bisa berlanjut jadi ketosis. Ketosis dapat menyebabkan pusing, lemas, mual, dan dehidrasi.

Selain itu, kekurangan karbohidrat berisiko membuat Anda kekurangan nutrisi lain yang penting untuk fungsi tubuh. Beberapa efek samping lain juga dapat timbul saat tubuh tidak mendapat asupan karbohidrat, semisal kelelahan, sakit kepala, bau mulut, meningkatkan gangguan pencernaan (sembelit, diare), kekurangan serat, vitamin, dan mineral, serta meningkatkan risiko penyakit kronis.

Jadi bukannya menghilangkan sama sekali nasi dari daftar menu Anda lo. Cukup batasi jumlahnya agar jarum timbangan enggak ke kanan.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH