Detik-Detik Proklamasi RI
Bujuk Soebardjo Demi Menemukan Lokasi Penculikan Sukarno-Hatta Sukarno berpidato di hadapan rakyat Indonesia. (Foto: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)

SETELAH bertemu Laksamana Maeda, Soebardjo langsung mengarah ke Jalan Prapatan Gambir 59 menemui Wikana dan para pemuda.

Soebardjo meminta Soediro memanggil perwakilan golongan muda, Wikana. Begitu sosoknya muncul, Soebardjo langsung menegur keras. "Apa yang telah kamu perbuat terhadap Sukarno dan Hatta?" tanyanya.

Baca juga: Merancang Proklamasi di Rumah Petinggi Militer Jepang

"Ini sudah menjadi keputusan kami dalam pertemuan semalam. Demi keselamatan, kami bawa ke suatu tempat di luar Jakarta," kata Wikana.

"Apakah akibat dari tindakan tersebut telah kamu pikirkan?" tanya Soebardjo lagi.

Tindakan itu, kata Wikana, bukan keputusan pribadinya, melainkan keputusan dari semua golongan pemuda. "Tugas saya membujuk Sukarno untuk memproklamasikan kemerdekaan pada malam kemarin dan kembali melapor," kata Wikana.

Soebardjo
Hatta, Sukarno, dan Soebardjo. (Foto: Kesadaran Nasional)

Mendengar pemaparan Wikana, Soebardjo memutar otak. Ia membujuk Wikana agar mendapatkan informasi terkait keberadaan Sukarno dan Hatta.

"Kita telah bekerja sama sejak lama dan saya kira tak ada alasan bagimu untuk merahasiakan kepadaku tempat mereka disembunyikan," bujuk Soebardjo.

Wikana gamang. Seketika bergeming. Kemudian memutuskan meminta izin kepada para pemuda lainnya. Wikana pun meninggalkan Soebardjo.

Tak lama kemudian, Wikana datang lagi. Kali ini, ia bersama Pandu Kertawiguna, rekan Adam Malik di kantor berita Jepang, Domei. Kepada Soebardjo, Pandu mengaku tak bisa mengatakan lokasi keberadaan Sukarno dan Hatta.

Ia sendiri juga tidak tahu, pihak Pembela Tanah Air (Peta) merahasiakan tempatnya dan tak mau ambil risiko memberitahu para pemuda. "Kita sekarang sedang menunggu seseorang yang akan membawa berita tentang itu," kata Pandu.

Baca juga: Fakta di Balik Penulisan Berita Proklamasi

Jawaban Pandu benar-benar mengecewakan Soebardjo. Penjelasan kepada para pemuda jelas hanya akan mengulang tarik urat seperti kejadian di rumah Sukarno. Juga tawaran diplomasi dan dukungan Kaigun atau potensi ancaman Rikugun tak digubris.

"Kami tidak takut sedikitpun untuk melakukan apa yang kami kehendaki," kata Pandu. Suaranya bernada keras dan mengejek sekaligus. "Biarkan mereka datang, kami telah siap menghadapi segala sesuatu."

Wikana dan Pandu segera meninggalkan Soebardjo sendiri di ruangan itu. Mereka bergabung dengan pemuda-pemuda yang lain, yang datang silih berganti. Kediaman Soediro siang itu benar-benar sibuk.

Sukarno
Pengibaran bendera Merah Puith saat proklamasi kemerdekaan RI. (Foto: Ipphos)

Menjelang sore, Nizhizima datang dan mengaku telah berbicara panjang-lebar dengan Wikana. Ia berhasil meyakinkan Wikana akan dukungan Kaigun. Ketika akhirnya si pembawa berita datang, sikap para pemuda berubah dan mengizinkan Sukarno dan Hatta kembali atas jaminan Kaigun.

Pandu, Wikana, dan Jusuf Kunto si pembawa berita kepada Soebardjo menjelaskan, tindakan menyembunyikan kedua pemimpin itu tidak lain dipicu kekhawatiran atas Sukarno dan Hatta akan dibunuh Rikugun atau paling menjadi sandera jika kerusuhan pecah. Itu juga untuk mempercepat proses proklamasi kemerdekaan.

Kepada para pemuda, Soebardjo meminta mereka menunjukkan persembunyian Sukarno dan Hatta. "Pak Bardjo tidak bisa pergi sendiri karena terlalu berbahaya, dan saya yakin mereka akan melarang Pak Bardjo menemui Sukarno dan Hatta tanpa ditemani orang yang mereka kenal dari pihak mereka. Jusuf Kunto akan menemani Pak Barjdo," ujar Pandu. (*)

Baca juga: Melongok Tarik-Ulur Kesepakatan Proklamasi di Rengasdengklok

Kanal
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
5 Nasi Goreng Khas Indonesia, Pas untuk Menu #DiRumahAja
Kuliner
5 Nasi Goreng Khas Indonesia, Pas untuk Menu #DiRumahAja

Selalu bisa kamu andalkan untuk menumpas lapar kapan saja.

Unik, Azan di Masjid Ini Dikumandangkan Tujuh Orang
Tradisi
Unik, Azan di Masjid Ini Dikumandangkan Tujuh Orang

Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di Alun-Alun Keraton Kesepuhan Kota Cirebon

Jangan Sampai Kain Songke Manggarai Punah
Tradisi
Jangan Sampai Kain Songke Manggarai Punah

Kain songke Manggarai menjadi tradisi nenek moyang yang terancam punah

Menelusuri The Great Asia Africa Bersama Travel Trip, Sensasi 7 Negara di Lembang
Travel
Menelusuri The Great Asia Africa Bersama Travel Trip, Sensasi 7 Negara di Lembang

Lembang hadirkan tempat wisata serasa berada di tujuh negara.

Pantai Selatan Gunungkidul akan Dibuka Kembali dengan Protokol New Normal
Travel
Pantai Selatan Gunungkidul akan Dibuka Kembali dengan Protokol New Normal

. Ditahap awal baru pantai Kukup dan Pantai Baron yang dibuka untuk para pelancong

"Sei Nell anima", Makan Malam Romantis Ala Al Gusto Italian Dining & Bar Di Hari Valentine
Kuliner
Haji Batal Akibat Wabah Menerjang Mekkah
Tradisi
Haji Batal Akibat Wabah Menerjang Mekkah

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sampai turun tangan mengklarifikasi isu penggunaan dana haji untuk penguatan nilai rupiah

Gua Liang Bua, Rumah si Hobbit dari Flores
Travel
Gua Liang Bua, Rumah si Hobbit dari Flores

Arkeolog dari Belanda, Inggris, dan Indonesia menjadikan gua ini sebagai tempat penggalian dan penelitian sejak 1930-an.

Gegara Corona, Yogyakarta Sepi!
Travel
Gegara Corona, Yogyakarta Sepi!

Okupansi hotel bintang hanya dikisaran 10 sampai 30 persen per hari

5 Spot Instagramable di Pulau Cipir
Travel
5 Spot Instagramable di Pulau Cipir

Ada beberapa spot foto menarik di Pulau Cipir