BPS Ungkap Komoditas yang Jadi Penyebab Utama Deflasi Hampir 1 Persen Pada Februari 2019 Ilustrasi (MP/Rizki Fitrianto)

Merahputih.com - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi pada 10 Februari 2019 dan penurunan komoditas bahan makanan menjadi penyebab utama deflasi Februari 2019 sebesar 0,08 persen.

"Komoditas yang berikan andil deflasi itu untuk bensin khususnya yang nonsubsidi, antara lain dari penurunan harga Pertamax, Pertamax Turbo," kata Deputi Bidang Statistik dan Jasa BPS Yunita Rusanti di Jakarta, Jumat (1/3).

Seprerti diketahui, 10 Februari 2019 lalu PT Pertamina menurunkan harga BBM nonsubsidi seri Pertamax dengan besaran penurunan yang bervariasi hingga Rp800 per liter. Penurunan harga BBM nonsubsidi ini mengurangi tekanan harga dari berbagai tarif kelompok transportasi.

Pasalnya, di kelompok yang sama, tarif transportasi angkutan udara dan transportasi mobil menyumbang inflasi masing-masing 0,03 persen dan 0,01 persen. Secara keseluruhan, pergerakan harga di kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan terjadi inflasi 0,05 persen dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

kios

Petugas bermotor pengantar BBM dari KiosK Pertamax SPBU Muri berkeliling jalur pantura di Tegal, Jawa Tengah, Rabu (30/5). Pertamina menyiagakan 60 titik Kios BBM Kemasan atau KiosK Pertamax sebagai salah satu alternatif bagi pemudik untuk mendapatkan BBM selain di SPBU. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Penyumbang deflasi lainnya pada Februari 2019 adalah kelompok bahan makanan. Pergerakkan harga di kelompok bahan makanan ini terjadi deflasi 1,11 persen.

Komoditas bahan makanan yang deflasi, kata Yunita, antara lain daging ayam ras, cabai merah, telur ayam ras, bawang merah, cabai rawit, ikan segar, wortel, dan jeruk.

"Tidak semua bahan makanan terjadi deflasi, ada juga yang terjadi inflasi antara lain, beras mi kering, mi instan, bawang putih, meskipun andilnya kecil 0,01 persen di masing masing komoditas," ujar dia.

Dengan dinamika harga kelompok bahan makanan menyumbang deflasi 0,24 persen.Sedangkan, kelompok pengeluaran lainnya yakni makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau tercatat inflasi 0,31 persen dengan andil 0,06 persen terhadap inflasi secara keseluruhan.

"Komoditasnya yang berikan andil inflasi antara lain nasi dengan lauk dengan andil 0,01 persen, rokok kretek filter dengan andil inflasinya 0,01 persen," ujar Yunita.

Kapas bisa menjadi bahan makanan jika dimodifikasi.(Foto: pixabay/slummis)

Kemudian, kelompok pengeluaran sandang terjadi inflasi 0,27 persen dengan andil terhadap inflasi keseluruhan 0,01 persen. Pada kelompok pengeluaran kesehatan juga terjadi inflasi 0,36 persen dengan andil terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,01 persen.

"Sedangkan untuk kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga inflasinya 0,11 persen dan andil terhadap inflasi secara keseluruhan 0,01 persen," ujarnya.

Selanjutnya, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar berikan inflasi 0,25 persen, dengan kontribusi terhadap inflasi secara keseluruhan 0,06 persen.

Dengan demikian, sebagaimana dikutip Antara, secara keseluruhan di Indonesia terjadi deflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan (mtm) pada Februari 2019. Pergerakan harga konsumen itu berbalik dari dinamika harga barang jika dibandingkan Februari 2018 yang infasi 0,17 persen (mtm) dan Februari 2017 yang inflasi 0,23 persen (mtm).

Dengan deflasi 0,08 persen pada Februari 2019, maka secara tahun berjalan terjadi inflasi 0,24 persen hingga Februari 2019 (year to date/ytd) dan secara tahunan 2,57 persen (year on year/yoy). (*)


Tags Artikel Ini

Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH