BPN Klaim Survei Litbang Kompas Bukti Jokowi Takkan Ulangi Sukses SBY Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin, Foto: ANTARA

MerahPutih.com - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membandingkan hasil survei elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) menjelang pemilu presiden 2019 dan elektabilitas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang pilpres 2009.

Dalam dua pilpres itu Jokowi dan SBY sama-sama merupakan calon inkumben. Perbandingan itu menanggapi survei Litbang Kompas yang menunjukkan keunggulan elektabilitas Jokowi sebagai capres petahana kian menipis.

Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi Suhendra Ratu Prawiranegara mengatakan, SBY selaku petahana berdasarkan survei saat itu elektabilitasnya berada di atas 60 persen. Sedangkan elektabilitas Jokowi saat ini hanya di kisaran 40 persen.

"Trend elektabilitas SBY juga naik terus. Sehingga hasilnya SBY menang hanya dengan 1 putaran Pilpres," kata Suhendra kepada MerahPutih.com, Rabu (20/3).

SBY
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. (ANTARA FOTO)

Kondisi SBY, kata Suhendra, berbeda dengan Pilpres 2019 ini, dimana Jokowi sebagai petahana trend elektabiltasnya cenderung menurun. "Dan bahkan elektabilitasnya sudah dikisaran 40 persen," imbuhnya.

“Kami sejak awal, melihat pemerintahan Jokowi ini berjalan, sepertinya sudah out of track, terutama dari janji-janji awal kampanye. Ketidakkonsistenan dalam membuat kebijakan, contohnya kasus impor dan masih banyak lagi," ujar dia.

Berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini lebih tipis dibandingkan survei Litbang Kompas Oktober 2018. Elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini hanya selisih 11,8 persen. Jokowi - Maruf mendapat perolehan suara 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Ma'ruf 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen masih merahasiakan pilihannya.

Foto: Survei Litbang Kompas

Sebelumnya pada Oktober 2018 lalu, Litbang Kompas juga telah merilis elektabilitas dua pasangan capres. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebanyak 52,6 persen sedangkan Prabowo- Sandiaga Uno32,7 persen. Sebanyak 14,7 persen masih merahasiakan pilihannya. Saat itu, selisih suara keduanya masih 19,9 persen.

Disebutkan pula, penyebab menurunnya elektabilitas Jokowi-Ma'ruf karena sejumlah hal. Seperti perubahan pandangan atas kinerja pemerintah, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Menurut Suhendra, penurunan elektabilitas petahana cukup berlasan. Sebab, kata dia, masyarakat tidak puas dengan kinerja Jokowi lantaran janji-janji pada kampanye Pilpres 2014 banyak yang belum terealisasi.

"Kami berkeyakinan, insha Allah 17 April 2019 rakyat mempercayakan kepada Prabowo-Sandi untuk memimpin negara ini," pungkasnya. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Wisnu Cipto

LAINNYA DARI MERAH PUTIH