Budaya
Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 Digelar secara Daring Borobudur Writers and Cultural Festival angkat tema cinta alam. (Foto: Pexels/Tomáš Malik)

PENIKMAT sastra bersiap-siaplah. Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) kembali hadir untuk para pencinta sastra, kesenian dan religi nusantara. Kali ini, Borobudur Writers and Cultural Festival mengangkat tema 'Bhumisodhana, Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara'.

Pemilihan tema ini didasari situasi pandemi dan berbagai bencana alam yang telah terjadi belakangan ini. Semua tragedi kelam itu terjadi akibat ketidakmampuan atau kurang pedulinya manusia menjaga ekosistem alam.

Baca juga:

Pertunjukan Wayang Daring Diganjar Rekor MURI

Ketika kepekaan dalam memaknai pertanda alam diabaikan, hukum alam akan bekerja. Siapa menabur keburukan maka akan menuai keburukan pula.

Pembabatan hutan menimbulkan petakanya sendiri mulai dari panas bumi meningkat, gedung-gedung kaca memantulkan cahaya matahari kembali ke udara, awan tak terbentuk, musim panas berkepanjangan, hingga kebakaran hutan terjadi di mana-mana.

Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 Digelar secara Daring
Pengrusakan Alam. (Foto: Pexels/Alemsey Kuprikov)

Tanah pun longsor karena tidak adanya akar-akar pohon yang mengikat tanah. Sudah terlalu banyak keburukan yang dihasilkan manusia terhadap alam atas nama ekonomi.

Semua itu diperburuk dengan wabah gizi buruk dan kelaparan yang melanda. Begitu ironis, padahal nusantara adalah negeri tropis yang memiliki sumber makanan sepanjang tahun.

Dengan berbagai derita yang dilakukan dan dituai dari alam karena perlakuannya sendiri, sewajarnya manusia perlu berlaku baik.

Selain itu sebagai mahluk yang paling banyak mengambil keuntungan dari bumi, maka manusia perlu mempersembahkan lebih banyak kepada bumi.

Dengan kata lain, kita wajib merawat bumi agar kehidupan dapat terus berlangsung. Salah satunya dengan Bhumisodhana.

Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 Digelar secara Daring
Pembabatan hutan (Foto: Daily Mail)

Bhumisodhana adalah upacara penyucian bumi (tanah) yang mulai dilakukan para pertapa sejak masa purbakala. Berawal untuk menentukan tempat berpijak dan hak bagi manusia, sampai untuk penyucian bumi dari aspek-aspek buruk yang telah ditimbulkan oleh manusianya sendiri.

Sebab bumi adalah yang memberi kehidupan pada manusia, sebagaimana hukum kehidupan. Sang bumi wajib memberi apa yang harus diberi dan meminta apa yang harus diminta.

Sedangkan dalam ilmu ekologi yang mempelajari ekosistem mahluk hidup, atau pengetahuan komprehensif hubungan antara mahluk hidup dengan lingkungannya.

Di mana terdapat interaksi, ketergantungan, keanekaragaman, keharmonisan dan kemampuan berkelanjutan. Maka manusia sangat berperan menjaga keseimbangan di tengah kebutuhan industri modern yang semakin tinggi.

Baca juga:

Digitalisasi Peninggalan Budaya Beraksara Jawa

Menjaga keseimbangan ekologi telah ditulis dalam manuskrip kuno nusantara, ragam pengetahuan telah dicatat. Seperti antisipasi dan peringatan akan terjadinya bencana, bagaimana menghadapinya, ketersediaan bermacam bahan obat-obatan dan pangan yang berasal dari tumbuhan juga hewan lokal, petunjuk untuk ladang serta perkebunan dan banyak pengetahuan ekologi lainnya.

Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 Digelar secara Daring
Hormati bumi dan kita pun dapat manfaatnya. (Foto: Pexels/ Luis Dalva)

Maka, dalam perhelatan BWCF ke-9 ini, para pakar multidisiplin ilmu akan memaparkan bagaimana mengelola dan melestarikan lingkungan dalam kekayaan tradisi nusantara.

Mengkaji dan menerapkan kembali kearifan-kearifan lokal dalam berbagai aspek yang telah terabaikan. Mulai dari tata cara bercocok tanam, pengadaan pangan lokal dan pengobatan herbal, upacara adat yang menumbuhkan penghormatan kepada bumi, sampai dengan pertunjukan seni musik, tari dan puisi-puisi yang menghormati bumi beserta segenap isi alam.

Gelaran BWCF ke-9 dilaksanakan selama lima hari, dari tanggal 19 hingga 23 November 2020. Karena situasi pandemi, acara ini dilakukan secara daring dari Studio Banjarmili, Yogyakarta.

Ketua Penelitian Paguyupan Tran Panéran Dipanegara Yogyakarta KRT Manu J. Widyaseputra akan membawakan pidato kebudayaan sebagai penanda dimulainya acara.

Para pembicara yang berpartisipasi di BWCF kali ini di antaranya adalah Dr. Destario Metusala, Drs. Handaka Vijjaananda Apt., Dr. Lydia Kieven, Prof. Dr. Peter Carey, Dr. Phil. Ichwan Azhari, MS., Prof. Agus Aris Munandar, dan masih banyak lagi.

Beragam program menarik bisa diikuti oleh para peserta seperti webinar, simposium, ceramah umum, baca relief, peluncuran buku, bedah buku, workshop yoga, morning meditation, temu penerbit, forum call for papers Bh?mi?odhana, penyerahan Sang Hyang Kamahayanikan award, dan seni pertunjukan berupa tribute to Suprapto Suryodarmo dan Ajip Rosidi.

Seluruh materi acara BWCF 2020 ini bisa disaksikan melalui YouTube dan Zoom. Jika tertarik untuk mengikuti diskusi, kamu bisa mendaftar terlebih dulu secara online di sini. (avia)

Baca juga:

Festival Layang Lakbok 2020 Digelar secara Virtual

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Fakta Menarik GWK Bali, Lokasi Welcome Dinner Kepala Negara G20
Travel
Fakta Menarik GWK Bali, Lokasi Welcome Dinner Kepala Negara G20

Digelar di Lotus Pond, kawasan GWK Cultural Park, Jimbaran, Bali.

Upacara Kematian Pangulu Suku di Nagari Taluk
Tradisi
Upacara Kematian Pangulu Suku di Nagari Taluk

Nagari Taluk yang berada di Provinsi Sumatera Barat masih menjaga tradisinya.

100 Tahun Bosscha, Status Cagar Budaya akan Diperluas
Travel
100 Tahun Bosscha, Status Cagar Budaya akan Diperluas

Menjadi bagian dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung.

Sambal Gami Bikin Ketagihan
Kuliner
Sambal Gami Bikin Ketagihan

memasak sambal secara langsung di atas cobek yang terbuat dari tanah liat.

Buat GeN Z, Bisa Jadi ini Cake Ultah yang Cocok
Kuliner
Buat GeN Z, Bisa Jadi ini Cake Ultah yang Cocok

Kue ulang tahun ini memiliki sisi cermin di bagian atas.

Hotel Episode Gading Serpong Raih Juara Pertama Hotel Terbaik Se-Provinsi Banten
Travel
Hotel Episode Gading Serpong Raih Juara Pertama Hotel Terbaik Se-Provinsi Banten

Penghargaan tersebut didasari oleh berbagai unsur baik dari segi pelayanan, bagunan dan lainnya.

Betawi Punya Kuliner Lezat dan Cocok di Lidah, Kudu Coba!
Kuliner
Betawi Punya Kuliner Lezat dan Cocok di Lidah, Kudu Coba!

Kuliner Betawi memiliki sejarahnya tersendiri.

Kemenparekraf Gandeng Pihak Swasta untuk Kembangkan 14 Desa Wisata
Travel
Kemenparekraf Gandeng Pihak Swasta untuk Kembangkan 14 Desa Wisata

Kerja sama ini diharapkan dapat mendorong geliat sektor desa wisata.

Ronaldo Persembahkan Perak Ketiga Indonesia di Final Silat SEA Games
Indonesiaku
Ronaldo Persembahkan Perak Ketiga Indonesia di Final Silat SEA Games

Ronaldo kalah dengan skor 42 dan 49 atas atlet Vietnam Nguyen Duy Tuyen.

Sulistyowati Generasi Kedua Pembuat Kue Keranjang di Yogyakarta
Kuliner
Sulistyowati Generasi Kedua Pembuat Kue Keranjang di Yogyakarta

Kue keranjang merk Lampion ini sudah diproduksi sejak tahun 1960.