Bonus Demografi Buat Pertumbuhan Penumpang Indonesia Tertinggi di Asia Pasifik ilustrasi traveling (pixabay)

Merahputih.com - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mencatat pertumbuhan penumpang Indonesia rata-rata pada 2018 diperkirakan tertinggi di antara negara-negara Asia Pasifik.

Pertumbuhan rata-rata penumpang Indonesia sekitar 100 juta orang per tahun, khususnya di kawasan Asia Pasifik sangat tinggi, yakni sebesar 9 persen pada 2015-2016 dan 10 persen pada 2016-2017.

"Indonesia di antara kawasan Asia Pasifik itu pertama, pada 2016-2017 sebesar 10 persen, terakhir 2018 akan ada sekitar 11 persen. Artinya, Indonesia akan menduduki tempat yang tertinggi," kata Dirjen Perhubungan Udara Kemehub, Agus Santoso Dalam diskusi "Industri Penerbangan Indonesia di Era ASEAN SAM" di Jakarta, Rabu (25/4).

Ia menjelaskan jumlah penumpang di lima bandara Indonesia yang ditetapkan sebagai Bandara Open Sky ke bandara ASEAN lainnya, mengalami peningkatan 9,8 persen pada 2017 atau sebesar 14.205.762 dari tahun sebelumnya sebanyak 12.936.258 penumpang.

Ada pun kelima Bandara Open Sky tersebut adalah Jakarta (CGK), Denpasar (DPS), Medan (KNO), Surabaya (SUB) dan Makassar (UPG).

Suasana di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Foto: ist

Dengan pertumbuhan rata-rata penumpang yang cukup tinggi, para maskapai penerbangan pun berlomba untuk meningkatkan jumlah pesawat, termasuk Lion Group yang melakukan ekspansi secara signifikan.

Menurut Agus, peluang industri penerbangan Indonesia di Era keterbukaan pasar udara antarnegara-negara ASEAN, atau yang dikenal dengan ASEAN Single Aviation Market, sangatlah besar.

Indonesia memiliki porsi pangsa pasar sebesar 50 persen karena didukung dengan populasi jumlah penduduk yang menguasai separuh ASEAN, juga bonus demografi yang memiliki kebutuhan berwisata.

"Indonesia mempunyai bonus demografi, yang di masa 'zaman now' ini remaja punya kebutuhan mendesak, yaitu traveling. Inilah yang menyebabkan pertumbuhan mencapai dua digit 10-11 persen," kata Agus dikutip Antara.

Ia menargetkan Indonesia bisa menguasai maskapai penerbangan di ASEAN dari saat ini pembangian pasar antara maskapai lokal dan asing, yaitu 48 persen dibanding 52 persen. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH