Bonita Ditangkap, Tim Terpadu Harimau Sumatera Tetap Dipertahankan Sejumlah petugas BKSDA Sumatera Barat mengevakuasi Harimau Sumatera di kawasan hutan Palupuh, Kabupaten Agam (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

MerahPutih.Com - Teror harimau Sumatera yang belakangan menyerang warga Riau dan Sumatera Barat, menuntut perhatian serius dari pelbagai pihak.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono mengatakan bahwa tim terpadu penanganan konflik harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) yang dibentuk untuk menyelamatkam Bonita akan tetap dipertahankan.

"Kami tidak akan berhenti pada saat penangkapan Bonita. Kami akan teruskan bersama TNI, Polri, dan pemerintah dalam pencegahan dan patroli," kata Suharyono di Pekanbaru, Sabtu (21/4).

Harimau Sumatera yang masuk perangkap petugas
Seekor Harimau Sumatera (Panthera tigris), berada dalam kerangkeng perangkap (BKSDA Sumatera barat (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Bonita adalah nama seekor harimau sumatra betina liar yang selama empat bulan terakhir berkeliaran di kawasan perkebunan sawit PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP) Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir.

Selama periode itu, Bonita yang diperkirakan berusia empat tahun itu menerkam dua manusia hingga meninggal dunia pada Januari dan Maret 2018.

Pada Jumat 20/4), Bonita berhasil ditembak bius oleh tim terpadu BBKSDA Riau, TNI, Polri, Pemkab Indragiri Hilir, masyarakat dan sejumlah aktivis pegiat lingkungan dan satwa. Kucing besar itu berhasil ditangkap dan direlokasi ke Pusat rehabilitasi harimau Dharmasraya, Sumatera Barat.

Menurut Suharyono sebagaimana dilansir Antara, meskipun pencarian Bonita telah selesai, namun tim terpadu diharapkan dapat terus dipertahankan.

Harimau Sumatera
BKSDA Sumatera Barat, memasang dua kerangkeng perangkap untuk menjerat Harimau Sumaterayang masih berkeliaran di sekitar kawasan itu.(ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Terlebih lagi, Haryono mengatakan terdapat beberapa ekor harimau lainnya yang berada di sekitar Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir dan Pulau Muda, Pelalawan yang merupakan lansekap Swaka Margasatwa Kerumutan itu.

Bahan pada awal April 2018, dua harimau sumatera dilaporkan menerkam hewan peliharaan warga di Pulau Muda, Pelalawan. BBKSDA Riau mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut dan menyatakan dua ekor harimau itu bagian dari lansekap Kerumutan.

"Dengan dukungan seluruh teman-teman, kita akan lanjutkan upaya sosialisasi, menenangkan warga dan juga berusaha mencegah konflik serupa," lanjuta Haryono.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir Wiratno berharap tim yang telah dibentuk dapat dipertahankan, serta dapat menjadi contoh bagi daerah lainnya dalam mengatasi konflik serupa.

"Antisipasi ke depan, tim terpadu jalan terus. Saya menduga masih ada konflik-konflik serupa yang akan terjadi dan sudah terjadi di daerah lain. Penanganan ini bisa jadi contoh daerah lain," ujarnya kepada Antara di sela-sela konferensi pers penangkapan Bonita di Pekanbaru.(*)

Baca juga berita menarik lainnya dalam artikel: Makin Ganas, BBKSDA Riau Tambah Personel untuk Relokasi Harimau Sumatera



Eddy Flo