Boleh Enggak Sih Mengkhayal Punya Kantor Seasyik Ini! Ilustrasi kerja asyik di kantor. (Pixabay)

SEGELAS jus dan beberapa potong buah sudah ada di atas meja. Sara Sulaksono, empunya meja, menyeruput jus lalu menyalakan komputer. Sejurus kemudian ia berselancar memantau online shop sambil menyantap buah potong. Kegiatan itu ia lakukan sebelum memulai kerja di salah satu Universitas Swasta di Jakarta. "Biasanya santai dulu lihat online shop dan youtube," kata Sara kepada merahputih.com.

Ritual itu menjadi pembuka pagi sebelum memulai seabrek kerjaannya. Ia seorang Research and Technology Transfer Officer (RTTO). Setiap hari harus mengedit jurnal-jurnal ilmiah berbahasa Inggris milik para peneliti. Bahkan Laras juga bertanggung jawab membuat seminar.

Universitas tempatnya bekerja selalu menerbitkan jurnal ilmiah untuk keperluan belajar para mahasiswa. "Seperti format tulisan dan grammar, itu aku semua edit," kata Sara.

Meski pekerjaannya memusingkan, hectic, dan monoton, perempuan asal Tangerang itu tetap bersyukur bisa bekerja sampai 2 tahun lebih. Kunci tetap setia bekerja di situ, menurutnya, tertantang memiliki rekan kerja dengan latar pendidikan tinggi sementara dirinya cuma anak kemarin sore. Terlebih universitas itu juga salah satu kampus favorit di Jakarta.

Di tengah kesibukan kerja, Sara sering mengkhayal kantornya punya fasilitas khusus untuk keperluan kaum hawa. "Gue mau ada ruang khusus untuk dandan. Ada kacanya, ada lampu, dan mejanya juga," pintanya. Selintas permintaan itu memang serupa khayalan. Namun, bila ditelusur fungsinya, justru mendukung kerjanya. Tampil segar dan menawan juga jadi nilai lebih seorang karyawan. Sara ingin agar performanya bagus, penampilannya prima agar lingkungan kerjanya baik.

Ilustrasi Kerja Asyik di Kantor
Ilustrasi kerja asyik di kantor. (Pixabay)

Berdandan biasanya dilakukan karyawan perempuan di toilet. Sementara, toilet, menurutnya, bukan tempat layak untuk berdandan karena tak ada kursi dan meja, cahaya kurang sempurna, dan memang toilet digunakan untuk membuang air kecil dan besar.

Selain ruang khusus untuk berdandan, ia berharap agar tata letak kantornya lebih menarik dengan adanya hiasan dinding bergurat kata-kata inspiratif, atau sofa warna-warni untuk bersantai. "Kan kerja capek, jadi kayaknya perlu nyender," tuturnya.

Jika Sara, ingin kantornya punya fasilitas unik seperti ruang make-up, karyawan perusahaan multi finance bernama Rudi justru tidak terlalu memikirkan fasilitas. Pada akhirnya, lanjutnya, sekeren apapun fasilitas kantor, tetap saja tidak bisa dinikmati karyawan ketika jam kerja masih berlangsung.

Sebagai staf IT termuda di perusahaan tersebut, tugasnya cukup rumit. Ia harus mengumpulkan data transaksi pengguna jasa perusahaan itu dengan teliti, sebelum dilaporkan kepada atasannya. Belum lagi untuk menunjang pekerjannya ia harus selalu menggunakan aplikasi canggih. "Mindahin datanya harus pakai aplikasi terupdate, jadi mau enggak mau gue harus pelajarin updatenya itu," ujarnya saat dihubungi merahputih.com.

Pria berdarah Batak itu malah berharap agar beban kerja di perusahaannya sesuai kapasitas masing-masing karyawan. Dengan begitu tiap karyawan akan punya kualitas waktu. Percuma, menurutnya, kantor punya meja biliar kalau tiap karyawan selalu sibuk ngurus pekerjaan. Alhasil meja biliar cuma jadi hiasan.

Selain beban kerja sesuai kapasitas, ia juga berharap agar ada kafe atau restoran kecil di dalam kantornya. "Enggak perlu gratis. Bayar enggak masalah asal enak," katanya. Kafe itu, lanjutnya, akan membuat para karyawan tak perlu jauh-jauh makan di luar kantor. "Kantor gue sekarang di lantai 58, ribet kan kalau harus turun ke bawah buat cari makan," tuturnya.

Saat sedang suntuk, ia dan beberapa temannya sempat terpikir untuk olahraga. Namun, lagi-lagi urung kesampaian lantaran kesibukan. Ia berharap agar ada pusat kebugaran di kantornya sehingga para karyawan bisa tetap bugar, sehat, dan segar. Bila ada pusat kebugaran, ia bisa memanfaatkannya di saat pulang atau sebelum masuk kantor. "Ya gue bisa berangkat lebih pagi demi ngegym," imbuhnya.

Ilustrasi Suasana Kerja Asyik
Ilustrasi suasana kerja asyik. (Pixabay)

Namun, terlepas memiliki kantor berfasilitas kece, Rudi lebih senang bekerja di kantor dengan rekan kerja bisa saling mendukung. Begitu pula dengan atasannya, ia ingin bekerja di bawah kepemimpinan seorang bos dengan kemampuan bisa mengembangkan anak buah. "Bagi gue tempat kerja enak itu bonus, terpenting gue punya bos dan temen kerja bisa saling mendukung," harapnya.

Lain cerita lagi dengan Mita. Ia bekerja sebagai Public Relation di perusahaan strat up berbasis teknologi. Beban kerjanya cukup berat. Ia harus melakukan media monitoring, membuat strategi perusahaan, hingga membuat sebuah media gathering untuk membangun citra baik perusahaannya.

Setiap hari ia menemukan tantangan baru di pekerjaannya, seperti mengatasi berita-berita negatif tentang perusahaannya. "Kerjaan gue nackle masalah-masalah itu," ungkap Mita.

Mita tetap bertahan di perusahaan itu dengan berbagai tantangan karena menjadi PR merupakan cita-citanya sejak dulu. "Apalagi gue kan kerja di Start-Up, gua pasti bertemu dengan orang-orang hebat," bebernya.

Berbicara soal kriteria kantor dambaannya, Mita hanya butuh sebuah kafe kecil dibangun di area ruang kantornya. Ia mengaku membutuhkan medan kerja lebih nyaman dibandingkan sebuah meja kantor.

Beberapa pekerja, termasuk Mita tidak bisa bekerja formal di atas meja kantor. Bagi Mita bekerja di sebuah kafe atau setidaknya spot unik di salah satu sudut kantor membuatnya lebih nyaman untuk menyelesaikan setiap tugas dari atasannya. "Kalau kerja di meja malah nambah kerjaan, nanti gua malah ngobrol sama temen semeja gue," tuturnya.

Walau bukan perokok, ruang khusus merokok (smoking room) juga tak kalah penting menurutnya. Bukan masalah agar dia tidak terganggu dengan rekan kerja kebanyakan perokok, justru smoking room untuk mempermudah kinerja pekerja perokok.

Di kantor Mita sekarang, smoking room letaknya cukup jauh. Rekan kerjanya harus berjalan jauh hanya untuk menghisap sebatang rokok. "Smoking room penting bagi gue supaya mereka (perokok) lebih produktif," paparnya.

Selain itu, dia juga tidak mau susah ngantor gara-gara kantor mengatur pakaian pekerja. Bagi Mita ngantor cukup berpakaian rapi, tidak perlu formal. (ikh)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH