Bob Marley Antara Musik dan Sepak Bola Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)

MerahPutih.com - Tak hanya sekadar 'No Woman No Cry', ada banyak bagian kehidupan Bob Marley yang belum jelas terurai. Ia memiliki perjalan hidup yang berliku, namun jauh dari kata kaku.

Menariknya, sisi kehidupan pria bernama asli Robert Nesta Marley tersebut tidak hanya berkutat pada dunia musik. Bila digali lebih dalam lagi, Bob Marley adalah penggila sepak bola.

Pada acara pemakamannya, Bob Marley dikuburkan bersama Alkitab, cincin, gitar Gibson Les Paul, tunas ganja dan bola sepak. Semua barang tersebut merupakan wikalat dari hari-hari Marley selama masih hidup.

Cinta pertama Bob Marley tentu saja adalah musik. Namun, pada bagian dalam hati lainnya, sepak bola berbisik. Ketika sedang bermain bola, Marley bak merangkai nada-nada menjadi pergerakan indah di dalam lapangan. Marley terus menikmati sepak bola hingga tak pernah terucap kata bosan.

Dari setiap foto yang beredar ketika Bob Marley sedang mengelola si kulit bundar, ia terlihat dengan wajah berbinar. Dengan memakai sepatu Adidas Copa Mundial plus padu padan topi khas musisi reggae, Marley terlihat modis saat bermain sepak bola.

Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)
Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)

Kemampuan Bob Marley ketika bermain pun tidaklah buruk. Ia punya kaki yang kuat sehingga bisa luwes ketika sedang menguasai bola. Marley terlihat sekilas seperti pesepak bola profesional, bukan penyanyi. Gerakan Marley yang transenden memungkinkannya untuk melewati hadangan para bek lawan.

Distributor Island Records UK, Trevor Wyatt, mencoba mengingat aksi Marley saat bermain sepak bola. "Mencoba melepaskan bola darinya? Tidak ada harapan. Sebab, Marley adalah orang yang membuat bola selalu datang kepadanya," ujar Trevor Wyatt seperti dilansir bolaskor.com.

Ketika sedang melakoni tur musik, Marley tidak kehabisan akal untuk tetap bisa bermain sepak bola. Ia memanfaatkan tempat parkir, pom bensin hingga bukit untuk memainkan bola hitam putih kesayangannya.

"Dia adalah jenderal di lini tengah, Anda akan suka dan mereka memanggilnya nakhoda. Ia sangat hebat seperti pemain Brasil," tutur Trevor Wyatt mengenang Marley.

Lebih dari sekedar hobi, sepak bola berada dalam setiap langkah kehidupan Bob Marley. Bahkan, ia pernah menunjuk Allan Cole untuk menjadi manajer turnya yang sebagian besar dilaksakan pada 1970-an. Menariknya, Allan Cole adalah mantan pemain Atalanta Chiefs dan Nautico Brasil, sebuah profil yang sangat jauh dari bidang musik.

Sebagai pecinta sepak bola, Marley juga punya tim yang ia idolai. Pilihan sang penyanyi dijatuhkan untuk Santos. Saat itu, Marley dikabarkan mengagumi Pele.

Hari demi hari terus dilewati Bob Marley dengan memainkan sepak bola. Tak pernah terbesit keinginan untuk menjauhi permainan 11 lawan 11 tersebut.

"Jika ingin mengenal saya, Anda harus bermain sepak bola melawan saya dan Wailers," kata Bob Marley kepada wartawan yang mewawancarainya.

Satu di antara gagasan utama Bob Marley dalam menulis lirik adalah soal melawan penindasan. Dalam Redemption Song, Marley berseru: "Emansipasi diri Anda dari perbudakan mental, tidak ada yang bisa membebaskan pikiran kita." Beberapa tahun berselang, di televisi Prancis, Marley mengatakan, "Sepak bola adalah kebebasan."

Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)
Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)

selama melakukan tur ke penjuru dunia, bus yang ditumpangi sang raja musik reggae dilengkapi televisi. Hal itu dilakukan agar sang superstar bisa menonton pertandingan.

"Saya menyukai musik sebelum saya mencintai sepak bola. Jika saya menyukai sepak bola terlebih dahulu, itu mungkin bisa berbahaya. Saya suka musik dan sepak bola," tegas Bob Marley.

"Bermain sepak bola dan bernyanyi bisa berbahaya karena sepak bola bisa menjadi sangat kejam. Saya bernyanyi tentang kedamaian, cinta dan sesuatu yang terjadi," imbuh Bob Marley.

Selain Pele, Bob Marley juga mengagumi Maradona. Kendati pencetak gol tangan Tuhan tersebut didepak dari skuat Argentina pada Piala Dunia 1978, Marley tetap memerintahkan turnya ke Amerika Utara dan Eropa disesuaikan dengan jadwal pertandingan kompetisi empat tahun tersebut. Hal itu sempat membuat menajer, agen,
penyelenggara dan media jengkel dengan sikap Marley.

Meski demikian, Marley tetap bergeming. Ia tidak ingin ketinggalan menyaksikan pertarungan yang pada akhirnya dimenangkan oleh La Albiceleste tersebut.

Karya Bob Marley dalam dunia musik juga masuk dalam sisi kehidupan sepak bola. Pada laga persahabatan antara Cardiff City kontra Ajax Amsterdam, kedua suporter mulai memanas dan saling ejek.

Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)
Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)

Situasi berhasil diredam ketika DJ Ali Yassine dari Cardiff yang memainkan lagu milik Bob Marley, Three Little Birds. Bahkan, hingga saat ini suporter Ajax Amsterdam masih menyanyikan lagu tersebut sebagai bentuk pesan toleransi.

Pada Juli 1977, Marley menderita sakit melanoma ganas di jari kakinya. Penyakit tersebut diperparah dengan cedera akibat bermain sepak bola. Meski begitu, hal tersebut tidak menghalanginya untuk tetap bermusik dan bermain sepak bola.

Marley kukuh merencanakan tur dunia pada 1980. Ia tampil di Dalymount Park, Dublin, di depan ratusan ribu penonton. Meski sakit parah, Marley tetap menghibur masyarakat Irlandia dengan menari dan bernyanyi.

Dua bulan berselang, Bob Marley menyadari bahwa kanker telah menyebar ke otaknya. Namun, karena pemahaman agamanya, ia menolak mengamputasi jari kakinya. Marley lebih memilih menjalani pengobatan alternatif berdasarkan diet di sebuah klinik di Jerman.

Setelah depan bulan berjuang sembuh, kondisi Marley mulai menurun. Ia memutuskan pulang ke Jamaika.

Dalam perjalan menggunakan pesawat, organ tubuh vital Marley mulai memburuk. Kemudian, ia mendarat di Miami untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Tak lama berselang atau lebih tepatnya pada 11 Mei 1981, Bob Marley dinyatakan meninggal.

Sepak bola jelas telah mewarnai kehidupan Bob Marley. Seperti gitar miliknya, bola adalah senjata Marley untuk menjalani hidup dengan tujuan-tujuan mulia.

Bob Marley adalah anomali dalam dunia musik Jamaika. Ia sering disebut sebagai "anak putih" lantaran memiliki seorang ayah berkewarganegaraan Inggris, Kapten Norval Sinclair Marley.

Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)
Bob Marley sedang bermain bola. (Foto/BobMarley120.weebly)

Kendati demikian, pria yang meninggal pada usia 36 tahun tersebut tidak pernah merasa berbeda. Melalui musik dan sepak bola ia ingin menyampaikan pesan perdamaian dan perlawanan terhadap penindasan.

"Saya tidak di pihak orang kulit putih, pun dengan orang kulit hitam. Saya berada di pihak Tuhan," ungkap Bob Marley.

Bermain sepak bola menjadi rumah bagi Bob Marley untuk menjernihkan pikiran. Itulah sebabnya, ketika berpulang ke Sang Pencipta, Marley juga membawa bola ke peristirahatan terakhir.

Meski bukan pemain profesional, Bob Marley punya kehidupan yang sangat beririsan dengan dunia sepak bola. Ia mengajarkan bagaimana sepak bola bisa dinikmati dengan cara sederhana. Tak melulu soal industri, karena sejatinya sepak bola hanyalah permainan.

Bahkan rasanya, sangat sulit mencari pemain yang mau membawa bola sepak ikut ke dalam kuburnya. (*)

Baca Juga: Rambut Gimbal, Bukan Sekadar Fesyen


Tags Artikel Ini

Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH