BMKG Sebut Tsunami Selat Sunda Berpotensi Terjadi di Maluku Ilustrasi tsunami. Foto: Stockphoto

MerahPutih.com - Tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Desember 2018 yang diawali erupsi gunung bawah laut berpotensi mengguncang Maluku. Hal ini disampaikan Kepala Pusat BMKG, Dwikorita Karnawati.

"Selama ini seluruh dunia melakukan pemantauan dan pengamatan dini tzunami berdasarkan kejadian gempa bumi yang ada di dasar laut, misalnya gempa dasar laut dengan magnitudo 7 bisa membangkitkan tzunami, dan seluruh dunia menggunakan sistem itu," ujarnya di Ambon, Selasa (26/3).

Kepala Pusat BMKG, Dwikorita Karnawati
Kepala Pusat BMKG, Dwikorita Karnawati

Menurut Dwikorita, peristiwa di Selat Sunda, di situ tiba-tiba ada tsunami tanpa ada gempa bumi dan kondisi seperti ini juga bisa terjadi di wilayah Maluku.

Lebih lanjut, dirinya menuturukan kejadian di Selat Sunda itu akibat ada gunung-gunung bawah laut yang dibangkitkan oleh erupsi gunung api bawah laut yang kemudian mengakibatkan lerengnya longsor.

"Kasus semacam ini juga bisa terjadi di sini sehingga kita harus mengingatkan atau menyampaikan kepada para nelayan dan masyarakat pesisir untuk mewaspadai hal seperti itu," ujarnya dilansir Antara.

Kemudian bisa juga terjadi seperti di Palu dimana gempa yang terjadi di sana, negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang tidak memberikan peringatan dini tzunami.

Sebab gempa Palu adalah patahan geser yang tidak mungkin mengungkit air laut ke atas dan terjadinya berpapasan dengan daratan, kemudian harusnya tidak terjadi tzunami tetapi fakta di lapangan berkata lain.

Penyebabnya bukanlah gempa namun ada longsor tepi pantai, dan itu bisa terjadi di sini, artinya tidak bisa tergantung pada peringatan dini tzunami.

"Di Palu malahan datangnya lebih cepat sebelum peringatan dini, maka kami mengajak masyarakat, nelayan, dan pemda untuk menggunakan kearifan lokal apabila dirasakan gempa yang kuat meski pun tidak ada peringatan dini, segera evakuasi mandiri ke arah yang datarannya lebih tinggi," tegas Dwikorita.

Para nelayan di pantai juga harus seperti itu dan yang sudah terlanjur berada di laut malahan jangan ke pantai, karena itu merupakan area paling berbahaya dan di tengah laut justeru lebih aman ketika ada tzunami.

Untuk erupsi gunung api, kan tidak ada gempanya namun caranya harus ditingkatkan monitoring terhadap erupsi gunung api dan pastinya ada pengumuman.

"Kalau terjadi erupsi maka ada pengumuman di bawah badan Geologi, jadi saya mohon BPBD dan Wali Kota melakukan koordinasi dengan Badan Geologi karena mereka yang selalu memantau gunug api," ucapnya.

Bila terjadi erupsi gunung api di bawah laut, para nelayan harus tahu dan nanti Badan Geologi yang akan memberikan arahan harus bagaimana dan langkah apa yang dilakukan jadi harus tetap waspada.

Ilustrasi tsunami. Foto: Net

Penerangan lampu malam hari ke arah laut itu juga harus ditambah, biar kalau ada gelombang tinggi yang datang maka semua orang lebih waspada.

Dikatakan, tzunami tidak dapat diprakirakan tetapi kalau cuaca yang dapat membangkitkan gelombang tinggi itu yang bisa diprakirakan dan BMKG bisa memberikan peringatan dini tiga hari sebelumnya.

Namun untuk tzunami tidak bisa sehingga caranya jangan menunggu prakiraan tetapi sewaktu-waktu di pantai merasa guncangan yang kuat maka segera lari ke arah perbukitan atau pegunungan. (*)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH