Bisnis Ritel Dalam Gempuran Gaya Hidup Serba Online Online Shoping. (Foto: Merchant)

MerahPutih.Com - Fenomena penutupan sejumlah gerai usaha offline belakangan ini oleh sebagian kalangan dinilai sebagai bukti menurunnya daya beli masyarakat. Para ahli dan pakar ekonomi terbelah pendapatnya.

Ada yang membenarkan bahwa saat ini daya beli menurun lengkap dengan data-datanya, tapi ada juga ekonom yang membantah, alasannya saat ini terjadi perubahan pola transaksi dari offline ke online. Mengapa?

Salah satu teknologi yang mengubah dunia bisnis adalah kehadiran "mobile internet" yang mengakibatkan pertumbuhan pesat di bidang perdagangan. Pertumbuhan kemajuan teknologi digital di Indonesia yang pesat bisa jadi mengarah negeri ini menjadi bangsa digital (Indonesia Digital Nation).

Indonesia sebagaimana dilansir Antara, Senin (30/10) sedang mengalami masa pergeseran gaya hidup, pola konsumsi dan produksi dari "offline" ke "online". Lembaga riset pasar, e-Marketer memperkirakan netter Indonesia bakal mencapai 123 juta orang pada 2018. Melihat begitu tingginya angka penetrasi pengguna internet di Indonesia, penerapan teknologi digital menjadi suatu keharusan bahkan kebutuhan bagi para pelaku bisnis.

Perkembangan ekonomi digital Indonesia juga memiliki pasar yang sangat besar karena jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa. Sekitar 93,4 juta orang saat ini merupakan pengguna internet dan terus mengalami peningkatan jumlahnya untuk masa-masa mendatang.

Peluang ini perlu direspons cepat oleh pelaku usaha nasional khususnya sektor industri kecil dan menengah untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan pendapatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Direktorat Jenderal IKM (Industri Kecil dan Menengah) Kementerian Perindustrian, jumlah IKM lokal mencapai 4,4 juta unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 10,1 juta orang pada tahun 2016.

Oleh karena itu, salah satu program prioritas Kementerian Perindustrian, misalnya, adalah pengembangan IKM dengan platform digital melalui e-Smart IKM, yaitu sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada. Tujuannya untuk semakin meningkatkan akses pasar IKM melalui internet marketing.

Kajian yang dilakukan oleh Google dan Temasek juga menunjukkan tren serupa bahwa pasar online di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh rata-rata sebesar 32 persen per tahun selama 10 tahun ke depan dan akan mencapai angka transaksi sebesar 88 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Dari data tersebut, Indonesia diperkirakan memegang peranan signifikan dengan penguasaan sekitar 52 persen pasar "e-commerce" di Asia Tenggara, di mana nilai transaksi akan mencapai 46 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Apa yang disampaikan Menteri Kominfo Rudiantara soal utilisasi digitalisasi benar adanya karena digitalisasi dapat memberikan pengaruh positif yang signifikan bila diarahkan untuk penguatan dan pemberdayaan UMKM termasuk dengan skema bisnis 'shared economy' (ekonomi berbagi). Selain itu mengangkat UMKM di wilayah terpencil juga dengan model bisnis yang disruptif. Untuk itu dibutuhkan penyediaan konektifitas yang mumpuni.

Studi kasus keberhasilan model bisnis digital Indonesia untuk menjadi bukti nyata dan praktik terbaik dalam meningkatkan perekonomian bangsa melalui kisah sukses Tokopedia dan Go-Jek. Keduanya dinilai telah berhasil menerapkan model bisnis disruptif yang mampu memberikan peluang bisnis dan lapangan pekerjaan.

Siapa yang mesti memelopori inovasi disruptif agar Indonesia tampil sebagai negara cepat maju? Tak salah bila perguruan tinggi sebagai pusat-pusat unggulan (centers of excellence) dapat terus-menerus berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH