Bioskop Hingga Resepsi Pernikahan Jadi Tempat Tertinggi Penyebaran COVID-19 Ilustrasi COVID-19. Foto: Pixabay

Merahputih.com - Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah memastikan bioskop jadi lokasi berbahaya karena potensi penularan COVID-19 yang tinggi. Pasalnya, bioskop merupakan ruangan tertutup.

"Orang berkumpul dalam satu waktu, udaranya juga berputar di situ saja," ujar Dewi saat mengisi Talk Show COVID-19 Dalam Angka di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Rabu (5/8).

Baca Juga:

Pandemi COVID-19 Berdampak Besar Bagi Perkembangan Industri Game, Ini Datanya

Selain nonton di bioskop, mengunjungi konser musik juga berisiko tinggi tertular. Kemudian mengunjungi pernikahan, tempat hiburan, mendatangi tempat ibadah dengan lebih dari 500 orang, tidak rutin menggunakan masker dan olahraga di gym.

"Olahraga di gym masih masuk risiko tinggi karena gym itu cukup padat orangnya, jaraknya juga masih dekat dan kalau di gym susah pakai masker," terangnya.

Sementara aktivitas yang berisiko sedang terpapar COVID-19 adalah ke mal, makan di restoran dan mendatangi salon atau tempat cukur.

Kemudian naik transpostasi umum bus, mengunjungi orang lanjut usia, pergi ke pantai, menginap di hotel dan bepergian dengan pesawat.

"Bepergian dengan pesawat juga ada risikonya di sana, memang tidak rendah tapi cukup sedang," sambungnya.

Ilustrasi (Foto: pixabay/geralt)

Ada juga enam aktivitas berisiko rendah terjangkit Covid-19. Yakni, bermain tenis atau badminton, isi bensin di pom bensin, berwisata alam, bepergian dengan mobil pribadi, belanja kebutuhan dan olahraga outdoor.

Saat ini kasus kematian di Indonesia berada di peringkat 103 dari 215 negara di seluruh dunia.

“Jadi kasus dengan jumlah jiwa sebanyak 19,38 per satu juta penduduk, kita ini peringkat 103 dari 215 seluruh dunia negara yang ada di dunia. Ini hanya kematian, kita fokus ke kematian. Kali ini, kita peringkat 103,” kata Dewi .

Meskipun begitu, saat ini Indonesia berada pada peringkat keempat dengan jumlah penduduk paling banyak di dunia dan tingkat kematian COVID-19 berada pada setengah dari jumlah negara di dunia.

Namun, tegas Dewi Indonesia harus bisa menurunkan angka kematian. “Meskipun berdasarkan fakta, kata Dewi Indonesia berada hampir di tengah dari jumlah negara di dunia sih sebetulnya. Tapi ini tetap menjadi PR (pekerjaan rumah), angka kematian itu tidak boleh kita ambil ringan lah. Kita enggak bisa ambil enteng,” tegasnya.

Baca Juga

1.601 Kendaraan Ditilang di Hari Kedua Operasi Patuh Jaya 2020

Dewi mengatakan, bagaimanapun juga pemerintah harus menargetkan agar bisa menurunkan angka kasus COVID-19 hingga sekecil mungkin.

“Memang sebaiknya kita mengambil angka kematian terkecil, karena sekarang sudah ada angka kematian bagaimanapun kita harus menurunkan angka sekecil yang kita bisa. Kalau bisa kita menurunkan angka sekecil persentase tadi dia bisa turun sampai dengan 3%, 2%, 1% bahkan kurang dari 1% itu yang paling kita cari,” tutup dia. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH