Bintang Emon Dibully Buzzer, Pengamat Minta Jokowi Turun Tangan Bintang Emon (Screenshot via instgram @bintangemon)

MerahPutih.com - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta menilai, serangan buzzer terhadap komika Bintang Emon, sebagai bentuk dari perlawanan. Hal ini karena ucapan Bintang yang menyindir tuntutan ringan penyerang Novel Baswedan.

"Jika itu buzzer bayaran bisa saja untuk mengalihkan isu, tetapi jika buzzer yang memang karena memberikan dukungan pada kelompok politik tertentu kecenderungan bukan pengalihan isu tetapi memang reaksi perlawanan," katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/6).

Baca Juga

Viral Bintang Emon Dilaporkan, Begini Klarifikasi Anak Buah PSI

Ia melihat, para penyerang ini bisa saja terbentuk dari lawan politik yang tidak terima atas video kritikan Bintang Emon terkait sidang kasus penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan para buzzer ini sengaja dibayar untuk menyerang komika tersebut.

"Terlepas dari akun buzzer tersebut real, palsu atau robot. Mereka menyerang lawan politik, bisa jadi terdorong karena kubu yang didukungnya diganggu sehingga membalas gangguan tersebut, atau bisa juga mereka adalah bayaran," kata dia.

Riynta
Stanislaus Riyanta

Dia menegaskan, serangan yang dilakukan sejumlah akun di media sosial itu merupakan tindakan yang memalukan. Pasalnya, Bintang Emon dituduh menggunakan narkoba.

"Serangan buzzer ini sangat tidak sehat, ada di mana-mana, menyerang lawan dengan keji melalui media sosial. Buzzer ini racun demokrasi harus ditertibkan," ujarnya.

Stanislaus menjelaskan, akun sosial media seperti itu memiliki motif yang berbeda-beda. Kehadiran para buzzer kata dia, dapat mengganggu demokrasi.

"Ada bermacam-macam motif, namun yang jelas perilaku buzzer tersebut tidak baik dan menjadi racun dalam demokrasi. jika tidak setuju atas penyataaan seseorang sebaiknya lakukan diskusi secara sehat, tidak perlu melakukan serangan apalagi jika yang diserang adalah ranah pribadi termasuk pembunuhan karakter," ucap dia.

Baca Juga

Anggota DPR Ungkit Tuntutan 1 Tahun Bui Apa Sebanding Cacat Novel Seumur Hidup

Stanislaus meminta kepada pemerintah untuk segera menindak para buzzer tersebut dan menyarankan agar Bintang Emon melaporkan para akun tersebut.

"Pemerintah harus tegas dan menertibkan para buzzer terutama yang sudah melakukan serangan-serangan hingga ranah pribadi, korban juga harus proaktif lapor ke penegak hukum. Tapi paling penting para elit politik dan penyelenggara negara perlu membangun kesepakatan untuk berdemokrasi secara sehat dan menertibkan para pendukungnya," kata Stanislaus.

Seperti diketahui, stand-up komedian Bintang Emon diduga mendapat serangan di media sosial usai mengomentari kasus penyiraman air keras ke wajah penyidik KPK Novel Baswedan melalui tayangan video.

Dalam video yang diunggah ke akun medsos pribadinya, Bintang menyindir alasan ketidaksengajaan di balik tuntutan satu tahun penjara pada terdakwa penyiram Novel. Ia mempertanyakan alasan penyiraman air keras yang tidak sengaja namun justru mengenai mata Novel.

View this post on Instagram

A post shared by Gusti Bintang (@bintangemon) on

Imbasnya, muncul serangan di medsos pada Senin (15/6) kemarin berupa meme berisi keterangan Bintang menggunakan narkotika jenis sabu. Meme itu diunggah sejumlah akun anonim dengan narasi yang seragam, menuding Komika itu mengonsumsi sabu.

Peristiwa itu sontak mengundang reaksi dari warganet. Bintang pun sempat mengunci sejumlah akun medsosnya, meski belakangan telah dibuka kembali.

Buntut dari peristiwa tersebut, DPR meminta pemerintah turun tangan menertibkan buzzer yang diduga menyerang Bintang. Sebagai warga negara, Bintang dinilai tak boleh mendapat ancaman hanya karena mengkritik pemerintah.

Baca Juga

Eks Bos KPK Anggap Sindiran Bintang Emon Wakili Suara Publik di Kasus Novel

Tak cuma Bintang, serangan berupa peretasan akun medsos juga sempat menimpa sejumlah aktivis secara masif. Terutama mereka yang selama ini vokal mengkritik RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

Korban peretasan yang dimaksud antara lain Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fajar Adi Nugroho, dan peneliti SAFENet Damar Juniarto. (Knu)


Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH