Abdikan Hidup untuk ADHA, Bidan Ropina Tarigan: Pembunuh Utama Orang dengan HIV AIDS ialah Diskriminasi Bidan Ropina Tarigan mengabdikan hidupnya untuk merawat anak-anak dengan AIDS. (foto:MP/Rizki Fitrianto)

AIDS dan HIV masih dipandang momok di tengah masyarakat. Banyak orang yang menilai bahwa penderita tak bisa memiliki kehidupan normal seperti orang pada umumnya. Hal tersebut diperburuk dengan stigma yang melekat pada diri mereka. Belum lagi ada orang-orang yang enggan berinteraksi dengan mereka karena menganggap virus tersebut bisa tertular begitu saja.

Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) pun tak hanya harus bertarung melawan penyakit tetapi juga melawan anggapan negatif yang beredar di masyarakat. Perjuangan mereka tak selalu berakhir manis. Kadangkala mereka harus menyerah dan tunduk pada kematian.

Yang lebih mengejutkannya lagi, faktor utama kematian mereka ternyata tak selalu berkaitan dengan penyakit. Beberapa di antaranya kalah pada anggapan miring masyarakat. Hal tersebut coba diungkapkan oleh seorang bidan yang meluangkan waktunya mengurus anak-anak pengidap HIV (ADHA), Ropina Tarigan.

"Beberapa di antara mereka dibunuh oleh diskriminasi yang didapat dari masyarakat," tuturnya saat ditemui di kediamannya di Tambora, Jakarta Barat. Ia menilai anggapan miring dari masyarakat membuat ODHA pesimistis dan kehilangan semangat hidup. Mereka tak lagi melihat arti sebuah kehidupan dan masa depan. Akibatnya, mereka enggan meminum obat dan perlahan-lahan virus menggerogoti tubuh.

bidan vina
Memberi tempat dan uluran tangan untuk ADHA. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

"Seorang anak dengan HIV AIDS yang saya kenal pernah mendapat intimidasi dan diskriminasi dari sekolahnya karena ia mengidap HIV AIDS. Kenyataan bahwa ia sudah tidak punya orang tua dan masyarakat tidak menghendaki keberadaanya membuat ia berpikir untuk apa saya hidup?" bebernya dengan rona wajah sedih.

Kenyataan tersebut membuat perempuan yang akrab disapa 'aunty' oleh anak asuhnya tersebut memutuskan untuk mengurus anak-anak dengan HIV AIDS. Selama mengurus anak-anak tersebut, ia mampu menstimulasi semangat anak-anak tersebut agar tetap hidup dengan rutin minum obat.

Ia membuat jadwal khusus minum obat bersama. "Kita saja yang punya daya tahan tubuh kuat biasanya malas minum obat. Apalagi mereka yang harus minum obat sepanjang hidupnya sejak usia muda? Kalau mereka minum bersama-sama biasanya akan terasa lebih ringan," urainya.

bidan vina
Selalu memastikan ADHA mendapatkan obat. (foto: MP/Rizki Fitrianto)

Tak hanya itu, ia juga coba mengajak masyarakat sekitar untuk mau merangkul dan menyayangi mereka. "Awalnya memang sulit, tetapi kita harus berjuang demi kesetaraan hak anak-anak itu," ucapnya.

Langkah pertama yakni dengan menginfomasikan pihak sekolah tempat anak-anak itu mengenyam pendidikan. "Kita ajak mereka melihat dari perspektif berbeda. Dengan begitu sekolah akan lebih menghargai dan menyuport mereka,"jelasnya. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang nyaman dan aman. Dengan begitu anak lebih optimis dalam menjalani hidupnya.

Begitu banyak mitos tentang orang dengan HIV AIDS yang beredar di masyarakat. Mulai dari larangan memeluk, minum dari gelas yang sama hingga berciuman dengan ODHA. Ropima tak henti mengedukasi masyarakat bahwa mitos tersebut tidak benar. Ia mengatakan penyebaran virus hanya bisa terjadi melalui transfusi darah, jarum suntik yang tidak steril dan hubungam seksual.

"Pernah suatu hari ada orang-orang yang takut berinteraksi dengan mereka. Kami tunjukkan bahwa interaksi dengan ODHA juga menyenangkan. Caranya dengan memeluk dan mencium ODHA di depan mereka," jelasnya.(avia)

Kredit : iftinavia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH