BI Pangkas Suku Bunga, Perbankan Diminta Lebih Giat Salurkan Kredit untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Soffi AmiraSoffi Amira - Jumat, 19 September 2025
BI Pangkas Suku Bunga, Perbankan Diminta Lebih Giat Salurkan Kredit untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Logo Bank Indonesia di pintu gerbang Kantor Pusat BI di Jalan Thamrin Jakarta. (ANTARA/BI Dokumentasi/pri)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, mendorong perbankan nasional untuk lebih giat dan kreatif dalam menyalurkan kredit usaha.

Menurutnya, momentum penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 4,75% harus dimanfaatkan sektor perbankan dengan mencari terobosan pembiayaan yang mampu merangsang pertumbuhan ekonomi nasional dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

“Penurunan suku bunga ini harus direspons cepat oleh dunia perbankan. Jangan sekadar menunggu, tapi perlu inovasi dan langkah nyata agar kredit lebih mudah diakses, terutama oleh UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi kita,” ujar Amin di Jakarta, Jumat (19/8).

BI menurunkan suku bunga acuan dengan tujuan menjaga pertumbuhan ekonomi, stabilitas inflasi, dan nilai tukar, sekaligus merespons perlambatan ekonomi global.

Baca juga:

Suku Bunga Acuan Kembali Dipangkas 25 Basis Poin, Ekonomi Masih Melemah

Selain itu, BI juga meluncurkan kebijakan ekspansi likuiditas moneter dan makroprudensial yang longgar guna menurunkan biaya pinjaman, meningkatkan likuiditas, serta mendorong kredit dan pembiayaan.

Kebijakan ini memberi peluang besar bagi dunia usaha, terutama sektor produktif, untuk mendapatkan modal dengan biaya lebih rendah.

“Langkah BI tersebut akan semakin efektif bila perbankan juga membuka akses pembiayaan yang lebih inklusif dan tidak berbelit-belit,” tegasnya.

Amin menekankan, agar perbankan tidak hanya mengandalkan pola konvensional, tetapi juga memanfaatkan transformasi digital serta mengembangkan skema pembiayaan kreatif.

Baca juga:

Perekonomian Masih Dalam Tren Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Masih Akan Rendah

Inovasi tersebut dapat berupa kredit berbasis rantai pasok (supply chain financing), dengan memberikan pinjaman kepada para pemasok kecil dengan jaminan invoice (tagihan) yang sudah diterbitkan industri besar.

“Hal itu untuk mengatasi tersendatnya arus kas mereka, sehingga pemasok bisa segera mendapat dana untuk modal kerja tanpa harus menunggu pembayaran dari pabrik,” ujarnya.

Strategi lainnya dengan bekerja sama dengan fintech untuk memperluas jangkauan pembiayaan dengan skema kredit dengan bunga rendah bagi sektor prioritas pencipta lapangan kerja.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga minta pemerintah memberikan insentif khusus bagi usaha kecil menengah dan sektor riil yang berorientasi ekspor.

Baca juga:

DPR-Pemerintah Sepakati Asumsi RAPBN 2026, Suku Bunga dan Rupiah Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi?

“Dengan kreativitas pembiayaan, perbankan tidak hanya mendukung konsumsi rumah tangga, tetapi juga mampu mendorong investasi dan memperkuat daya saing nasional,” tambahnya.

Lebih lanjut, Amin juga menegaskan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter BI, kebijakan fiskal pemerintah, serta inovasi perbankan.

Sinergi ini akan memperbesar multiplier effect kebijakan suku bunga rendah terhadap perekonomian nasional, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global.

“Penurunan suku bunga adalah peluang, tapi hasilnya baru optimal bila semua pihak bergerak serentak. Perbankan harus berperan aktif sebagai motor penggerak pembiayaan bagi dunia usaha,” pungkasnya. (Pon)

#Suku Bunga Acuan #Bank Indonesia #Komisi XI DPR #Pertumbuhan Ekonomi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Data Transaksi Qris Bakal Jadi Acuan Pengajuan Kredit
Jumlah pengguna QRIS tercatat sebanyak 70,6 juta dengan 49,4 juta merchant. Destry mengatakan sebanyak 97 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 26 Oktober 2026
Data Transaksi Qris Bakal Jadi Acuan Pengajuan Kredit
Indonesia
Rupiah Melemah ke Rp 18.000, Arus Keluar Dana Masih Akan Berlanjut
MSCI mengumumkan untuk membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) ke Standalone Market (pasar mandiri).
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 16 Oktober 2026
Rupiah Melemah ke Rp 18.000, Arus Keluar Dana Masih Akan Berlanjut
Indonesia
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia memiliki waktu terbatas untuk memanfaatkan besarnya penduduk usia produktif sebelum populasi menua dan rasio ketergantungan meningkat
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 13 Oktober 2026
Alasan Kenapa Indonesia Harus Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Indonesia
Ungkap Arah APBN 2027, Menkeu Suahasil: Kejar Pertumbuhan 6 Persen Tetap Jaga Disiplin Fiskal
APBN 2027 menganggarkan belanja Rp 4.106,3 triliun dengan defisit Rp 671,2 triliun atau 2,4 persen PDB untuk mendukung target ekonomi 6 persen.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 08 Oktober 2026
Ungkap Arah APBN 2027, Menkeu Suahasil: Kejar Pertumbuhan 6 Persen Tetap Jaga Disiplin Fiskal
Indonesia
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Bauran kebijakan pemerintah dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun pada saat yang sama berkontribusi terhadap pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 06 Oktober 2026
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Tapi Aktivitas Ekonomi Domestik Tunjukan Pelemahan
Indonesia
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Indonesia
Stabilkan Rupiah, BI Tahan BI Rate di 5,75 Persen
Selain mempertimbangkan dampak ke pertumbuhan, BI memilih menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong aliran modal masuk.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 28 September 2026
Stabilkan Rupiah, BI Tahan BI Rate di 5,75 Persen
Indonesia
67 Juta Orang Indonesia Sudah Pakai QRIS Buat Transaksi
BI menargetkan jumlah pengguna QRIS mencapai 69,32 juta pada akhir tahun ini atau tumbuh sebesar 20,26 persen secara tahunan.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 25 September 2026
67 Juta Orang Indonesia Sudah Pakai QRIS Buat Transaksi
Indonesia
Utang BLBI Lunas, para Obligor Tetap Dikejar
Tugas penagihan kewajiban itu akan dialihkan kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan, melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).
Dwi Astarini - Selasa, 22 September 2026
Utang BLBI Lunas, para Obligor Tetap Dikejar
Indonesia
Utang BLBI 30 Dekade ke BI Lunas, Kemenkeu Ambil Alih Tugas Satgas Tagih Aset Obligor
Pemerintah resmi melunasi utang BLBI Rp218,3 T ke BI setelah 30 tahun. Hak tagih dan penyitaan aset obligor nakal diambil alih Kemenkeu!
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Utang BLBI 30 Dekade ke BI Lunas, Kemenkeu Ambil Alih Tugas Satgas Tagih Aset Obligor
Bagikan