Bervakansi Sambangi Museum Multatuli, Menjelajah Masa Kelam Kolonialisme Nusantara Museum Multatuli Lebak, Banten. (De Sucitra)

BELAJAR anti-kolonialisme kini tak lagi menggunakan kebiasaan lama dengan membalik berjilid-jilid buku berdebu. Cara kekinian menelusuri kisah kelam praktik kolonilalisme di Hindia-Belanda acap dilakukan dengan bervakansi melakukan Wisata Sejarah.

Mungkin Wisata Sejarah masih terdengar asing di telinga sebagian masyarakat, sebab wisata menurut pandangan umum selalu identik dengan rekreasi. Anggapan vakansi sebatas menikmati pemandangan alam atau pergi ke lokasi wisata dan bersuka ria, perlahan mulai memudar seiring munculnya kegiatan wisata alternatif, menggabungkan kenikmatan perjalanan wisata dan menyelami lebih dalam ilmu pengetahuan, salah satunya Wisata Sejarah.

Mengujungi situs bersejarah dengan beragam aktifitas ruang terbuka menjadi semangat baru destinasi pelancong baik, dalam dan luar negeri. Mereka tentu akan dimanjakan tak sekadar cerita sejarah, melihat benda-benda peninggalan masa lampau, tetapi juga berbagi kegiatan dengan beragam komunitas.

Di seberang timur alun-alun, tak jauh dari kantor Bupati Lebak, Rangkasbitung, Banten, terdapat eks bangunan Kawedanan Rangkasbitung dan sempat dijadikan kantor Markas Wilayah Hansip, kini menjadi destinasi wisata alternatif bagi setiap warga untuk belajar anti-kolonialisme. Bagunan itu bernama Museum Multatuli, landmark baru Provinsi Banten.

Edward Douwes Dekker, pemilik nama pena Multatuli, penulis novel Max Havelaar (1860) tidak pernah menyangka bahwa karya sastranya akan menjadi pengobar semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

"Ia hanya bercita-cita sistem kolonial yang lebih adil," kata sejarawan Bonnie Triyana, Kamis (26/10).

Saat menjabat sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 itu menyaksikan praktik-praktik pemerasan Bupati Lebak terhadap rakyat. Multatuli merasakan penderitaan rakyat, dan dari sanalah novel Max Havelaar lahir.

"Karyanya itu menginspirasi generasi muda ketika itu seperti Soekarno dan RA Kartini, muncul kesadaran bahwa bangsa kita sedang dijajah. Sebelum buku itu ditulis, orang Nusantara tidak tahu sedang dijajah, meskipun tidak mengubah arah sejarah secara langsung, namun Max Havelaar menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme yang fenomenal," katanya.

Tidak hanya tokoh-tokoh intelektual di Hindia Belanda (ketika itu), Max Havelaar-pun menginspirasi tokoh pergerakan Filipina Jose Rizal. Karya besarnya, menyadarkan publik Belanda untuk mengakhiri ketidakadilan pemerintahnya terhadap kaum Bumiputera. Maka lahirlah Politik Etis alias Gerakan Balas Budi terhadap rakyat Jajahan, sehingga sebagian rakyat jajahan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan formal.

Berbekal kekayaan sejarah dan semangat anti-kolonialisme, Pemerintah Kabupaten Lebak bekerjasama dengan Multatuli Genotschap (Perkumpulan Multatuli) Belanda mengabadikan nama Multatuli menjadi nama museum di pusat kota Rangkasbitung, sebuah wilayah di selatan Provinsi Banten.

Meski bernama Museum Multatuli, koleksi museum tak seluruhnya memuat sosok Edward Douwes Dekker, malah lenih luas pada sejarah pergerakan anti-kolonialisme, dari periode persinggungan awal berbagai wilayah di Nusantara pada abad 14 dengan Belanda, Portugis, Spanyol hingga berdirinya Republik Indonesia.

"Isinya tentang bagaimana penjajahan masuk Nusantara, dan bagaimana penjajahan turut menyumbang pada bentuk negara bangsa Indonesia," terang salah seroang tokoh pengonsep museum tersebut.

Dokumen-dokumen yang ditampilkan merupakan dokumen duplikat, di antaranya surat menyurat Multatuli dengan pejabat Hindia Belanda, kondisi masyarakat Lebak, foto-foto, serta novel Max Havelaar terbitan pertama.

Museum ini menghubungkan sejarah yang terjadi di Lebak dengan sejarah Nusantara dan dunia, menunjukan keterkaitannya dengan wilayah-wilayah lain. "Sama-sekali bukan untuk mengkultuskan Multatuli. Kita menggunakan Multatuli karena nama ini sudah dikenal di dunia, sehingga diharapkan orang-orang mau mengunjungi Rangkasbitung," pungkas Bonnie. (*) De Sucitra



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH