Berusia di Atas 45 Tahun Diwanti-wanti Tak Keluar dari Rumah Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito dalam jumpa pers di Kantor Presiden, Selasa (15/9/2020). ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden

MerahPutih.com - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengimbau agar masyarakat yang berusia di atas 45 tahun tidak beraktivitas di luar rumah.

Pasalnya, hampir 80 persen kasus kematian akibat COVID-19 di tanah air berasal dari kelompok usia 45 tahun ke atas.

"Kelompok usia ini harus benar-benar menjaga kesehatan dan sebisa mungkin tidak berkegiatan di luar rumah dan tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat," ujar Wiku dalam konferensi pers di Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (17/9).

Baca Juga:

Sasar Usia Produktif, Angka Kematian akibat COVID-19 di Indonesia Tergolong Tinggi

Jika terpaksa keluar rumah, dia meminta agar masyarakat yang berada di usia 45 ke atas betul-betul disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Jika terpaksa keluar rumah harus benar terapkan protokol kesehatan yakni memakai masker, menjaga jarak, dan rajin cuci tangan," ucapnya.

"Hindari menggunakan transportasi umum untuk mencegah penularan," sambung Wiku.

Ia meminta kelompok usia produktif yaitu, 19-45 tahun untuk berhati-hati saat berinteraksi dengan kelompok rentan. Hal ini mengingat 55 persen kasus positif COVID-19 di Indonesia didomonasi oleh kelompok usia produktif.

"Kelompok usia produktif dengan mobilitas yang relatif tinggi dan frekuensi interaksi sosial juga tinggi berpotensi menjadikan mereka sebagai carrier yang dapat menularkan COVID-19 kepada keluarganya, kerabatnya ataupun kelompok orang-orang yang berusia rentan dan tinggal bersama mereka," jelas Wiku.

Isteri dokter Oki Alfin saat melepas jenazah suaminya yang meninggal akibat COVID-19, di RSUD Arifin Achmad Kota Pekanbaru. (ANTARA/FB Anggoro)
Isteri dokter Oki Alfin saat melepas jenazah suaminya yang meninggal akibat COVID-19, di RSUD Arifin Achmad Kota Pekanbaru. (ANTARA/FB Anggoro)

Sementara itu, Wiku menyampaikan bahwa angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia sebesar 4 persen. Jumlah ini masih tinggi dari rata-rata angka kematian dunia yakni, 3,15 persen.

"Ini adalah tugas kita bersama untuk dapat menurunkan jumlah dan persentase kasus meninggal ini agar bisa di bawah rata-rata dunia," kata dia.

Provinsi DKI Jakarta meraih peringkat pertama jumlah kasus positif corona di Indonesia. Bahkan di Ibu Kota sudah tidak ada lagi kota yang masuk zona kuning dan hijau.

"DKI adalah peringkat kedua nasional kenaikan kasus tertinggi. Merupakan peringkat pertama jumlah kasus tertinggi. Tidak ada kota berzona kuning atau hijau di DKI," ucap Wiku.

Wiku menyebut kondisi Jakarta ini menjadi perhatian nasional. Ia berharap kinerja penanganan corona di Ibu Kota bisa diperbaiki.

"Ini jadi perhatian nasional agar kinerjanya bisa diperbaiki," jelasnya.

Baca Juga:

Meski Dinahkodai Luhut, Kasus COVID-19 Terus Melonjak hingga 3.635

Sementara itu, lanjut Wiku, sejumlah kabupaten/kota di Jawa Barat yang menjadi daerah penyangga DKI Jakarta juga menjadi penyumbang kasus tertinggi di Jabar sebesar 70 persen.

"Kabupaten/kota penyangga yakni Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Depok adalah penyumbang kasus tertinggi di Jabar sebesar 70 persen," ucap Wiku.

Lima daerah ini adalah daerah penyangga DKI yang berasal dari Jabar. Di Jabar, tidak ada kabupaten kota yang berzona hijau.

"Kenaikan kasus positif sebesar 9,3 persen selama seminggu terakhir ini. Ini adalah perlu menjadi perhatian agar betul-betul kondisi terutama daerah yang menempel di DKI Jakarta dapat diturunkan kasusnya agar perbaiki kinerja Provinsi Jabar," tuturnya. (Knu)

Baca Juga:

Pasar Kalimati Ditutup Setelah Ditemukan Belasan Pedagang Terinfeksi COVID-19


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH