Berkat Kue Putu Pertemanan Chrisye Menyatu Chrisye pada cover album Sendiri

BEL pulang sekolah berbunyi. Chrisye keluar pagar SMA PSKD, Jalan Diponegoro. Dia bergegas menuju rumah. Salin pakaian. Berangkat menuju tempat ‘nongkrongnya’.

Di pengkolan Jalan Jogja, atau kini dikenal dengan Jalan Penataran, Menteng, teman-temanya antara lain, Dinan, Tan Mahatis, Nahot Sihombing, Fikry Azhari, Yudi Prayudi, Nungky Prayudi, Batara Nainggolan, Ramli, dan lainnya telah menunggu untuk seharian menghabiskan hari denga berbincang lepas atau senda gurau di kedai kue putu.

“Kami punya sebutan khusus, Geng Kue Putu. Lantaran nongkrongnya di tukang kue putu,” ungkap Dinan karib Chrisye. Mereka sebagain merupakan murid SMA PSKD, sebagian lainnya anak SMA 1 Budi Utomo. Satu sama sama lain bisa kenal dan akrab karena tinggal di satu kawasan, Menteng.

Begitu tiba, Chrisye langsung membuka bungkus rokoknya lalu tenggelam berbincang ringan. “Chrisye rokoknya Dunhill merah. Dia punya slop-slopan di rumah. Ngerokoknya kuat banget. Begitu abis sambung lagi,” ungkap Dinan.

Geng Kue Putu selalu nongkrong saban sore hingga malam bahkan bisa sampai tengah malam bila sedang asyik ngobrol. Topiknya apa saja, bisa hal remeh-temeh hingga perkara serius, dan tentu hampir pasti ditemani kue putu dan kopi hitam.

Chrisye, menurut Dinan, paling senang kalau kawan-kawannya mulai berkelakar. Dia pasang muka serius menanggapi saat cerita seorang kawan masih di babak awal, dan berubah merah tertawa cekikikan ketika sampai puncak kelakar atau canda.

“Anehnya, Chrisye enggak pernah ngobrolin musik. Lebih banyak senang-senang dan bercanda aja,” ungkap Dinan mengenang masa-masa Geng Kue Putu berjaya. Chrisye, lanjut Dinan, paling alergi berkonflik dengan sesama teman. Bahkan, dia memilih pulang ke rumah ketika ada teman satu tongkrongan terlibat konflik dengan sesama.

Bila penat mulai menghinggapi, satu di antara mereka bahkan Chrisye sendiri mengeluarkan mobil untuk mengangkut kawan-kawan lainnya liburan singkat ke Puncak, Bogor.

Mereka enggan menginap. Biasanya sampai Puncak, berhenti di suatu tempat, nongkrong sambil gitaran. “Di Puncak dia baru pegang gitar. Kalo di tongkrongan boro-boro genjrang-genjreng,” kenang Dinan.

Sampai Jakarta, bisa ditebak tujuan mereka ke mana? Tentu kedai kue putu. Ibaratnya tempat itu seperti rumah kedua. Sang penjual pun sangat percaya kepada mereka. Saking percayanya, suami-istri penjual putu pun ogah pasang muka kencang bila jawaban anak-anak tar-sok (entar-besok bayarnya) saat akan pulang.

“Kalo udah begini, gue ketempuan. Karena rumah deket. Mau enggak mau gue kena bayar. Tapi pake beras bayarnya,” kenang Dinan. Kebetulan penjual kue putu bersedia menukar dagangannya dengan beras. “Tinggal di ujung bulan aje, ibu gue teriak kok beras cepet abis!”. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH