Berkat Inovasi UKM, Bupati Kulonprogo Diundang Berbicara di Forum PBB Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo. Foto: MP/Teresa Ika

MerahPutih.Com - Upaya Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengembangkan ekonomi kerakyatan yang berbasis usaha kecil dan menengah (UKM) tidak sia-sia. Inovasi sang bupati untuk koperasi dan UKM mendapat pengakuan dunia.

Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengundang Hasto Wardoyo untuk berbicara seputar keberhasilannya dalam mengelola UKM.

Dalam keterangan tertulisnya pada Senin (14/5) di Jakarta, Hasto Wardoyo mengatakan bahwa pengakuan tersebut setelah dirinya dilantik sebagai Special Member of ICSB Indonesia oleh Prof. Kim Kichan, Honorary Founding Chairman of ACSB, President of ICSB 2015/2016 di Markas PBB New York pada tanggal 13 Mei 2018.

Desa Batik di Kulonprogo
Desa Wisata Batik Gulurejo. (MP/Fredy Wansyah)

"Saya mendapatkan kesempatan untuk mewakili Asia berbicara bersama beberapa wali kota lain di dunia dalam forum International Council for Small Business (ICSB) di Kantor Pusat PBB pada tanggal 10 s.d. 12 Mei 2018 dengan tema Humane Entrepreneurship," katanya.

Ia sekaligus diminta untuk berbicara terkait dengan gerakan ekonomi kerakyatan dan pelayanan masyarakat yang dilakukan di wilayahnya.

Seiring dengan itu, berpidato pula dalam forum tersebut Wali Kota Comune Di Morigerati Cono D'Elia (Italy) dan Wali Kota Quebec City Regis Labeaume (Canada).

Terkait dengan pidato yang disampaikannya dalam forum itu, Hasto menegaskan gerakan inovasi di wilayahnya harus bisa menjadi contoh yang direplikasi di daerah lain karena sudah diakui dunia.

"Bahwa kita harus selalu kreatif dalam memajukan ekonomi kerakyatan dan melayani masyarakat," katanya.

Jika dalam bidang bisnis ada kemajuan, menurut dia, tidak sekadar mencari dan memenuhi kebutuhan sebanyak-banyaknya keuntungan material, tetapi harus mencapai nilai-nilai kemanusiaan secara luas.

Jam tangan kayu
Jam tangan kayu karya Iyos Pramana dari Kulon Progo (MP/Istimewa)

"Maka, dalam penyelenggaraan pemerintahan juga ada 'new public management' yang tidak sekadar bisa mewujudkan kesejahteraan secara material dengan banyaknya program tetapi harus bisa membahagiakan masyarakat," katanya.

Menurut Hasto sebagaimana dilansir Antara, para pelaku bisnis tidak cukup dengan kehidupan sejahtera semata, tetapi harus diserta dengan indeks kebahagiaan sebagai ukuran.

"Kami membangun di Kulonprogo dengan pola pikir tersebut sehingga pemberdayaan koperasi dan gotong royong menjadi pilar utama dalam membangun daerah," katanya.

Dalam forum yang dihadiri perwakilan dari berbagai negara di dunia, dia menyampaikan bahwa koperasi di Kulonprogo bahkan bisa menjalin kerja sama denga toko ritel modern.

sentra batik di kulonprogo
Desa Wisata Batik Gulurejo. (MP/Fredy Wansyah)

Bahkan, ritel modern tidak mampu bersaing menyesuaikan diri dan diganti toko milik koperasi/rakyat dengan nama Toko Milik Rakyat (TOMIRA).

"Begitu juga saya sampaikan bahwa perusahaan rakyat, seperti PDAM di Kulonprogo, mampu membuat air minum dalam kemasan sendiri sebagai wujud air rakyat untuk rakyat," katanya.

Selain itu, untuk keperluan beras sejak 2014, Bulog tidak lagi memasok rastra ke Kulonprogo, tetapi memberikannya dalam bentuk uang kepada petani, UMKM, gabungan kelompok tani, serta koperasi petani sebesar Rp47 miliar per tahun.

Kegiatan lain, kata dia, pengembangan batik sebagai produk unggulan rakyat yang diwajibkan agar dikenakan oleh para siswa dan PNS di Kabupaten Kulonprogo.

"Gotong royong bedah rumah mampu mengatasi masalah tanpa serupiah pun dari APBD dan APBN. Gotong royong memang sakti," katanya.

Pada kesempatan itu, dia menyambut baik dengan disematkan namanya sabagai anggota istimewa ICSB.

"Ini menjadi tanggung jawab baru bagi saya untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan lebih baik lagi di Kulonprogo tentunya, ini menambah motivasi yang tidak kecil bagi saya," pungkas Hasto Wardoyo.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Kolombia Belajar Ekonomi Kreatif dari Indonesia



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH