Berjuang untuk Hidup, ODHA Kerap Hadapi Stigma Stigma membuat ODHA dikucilkan dan dijauhi. (foto: voa-gny.org)

PERNAHKAH kamu melihat atau mendengar cerita orang dengan HIV/ADIS (ODHA) diperlakukan tidak pantas? Mereka diusir, dijauhi, dan dikucilkan, bahkan dianiaya. Jika kamu beranggapan hal itu hanya terjadi di film, kamu salah besar.

Faktanya, diskriminasi terhadap ODHA masih kerap terjadi. Adanya stigma terhadap para pengidap AIDS membuat kehidupan ODHA seperti berjuang untuk diterima. Stigma terhadap ODHA telah melekat sejak pertama kali virus ini ditemukan dan menyebar luas.

Penyakit ini sering dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang, perilaku seks bebas, serta hubungan seksual sesama jenis (homoseksual). Karena kaitan tersebut, ODHA pun mendapat cap yang negatif dalam masyarakat.

Padahal, HIV/AIDS bisa ditularkan kepada siapa saja. Termasuk orang yang tidak pernah menggunakan narkoba, tidak pernah menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK), dan tidak pernah berhubungan seks sesama jenis.

Di hari ini, 15 Mei, dijadikan sebagai Hari Renungan HIV/AIDS Nasional. Untuk itu, enggak ada salahnya kamu mengenali mengapa stigma masih melekat pada diri ODHA.


1. Kurangnya pengetahuan dan kesalahan informasi tentang HIV/AIDS

hoax
Informasi yang salah membuat stigma terhadap ODHA makin parah. (foto: pixabay/geralt)


Adanya banyak anggapan bahwa ODHA merupakan pemadat dan pelaku seks bebas membuat masyarakat enggan berdekatan dengan mereka. Padahal, siapa saja bisa terkena HIV/AIDS.

Oleh karena itu, pemberian informasi tentang HIV/AIDS yang benar di kalangan masyarakat bisa membantu dalam upaya mengurangi stigma dan diskriminasi pada ODHA.

2. Takut bersentuhan dengan ODHA

dolls
Akibat pengetahuan yang salah, banyak orang menghindari ODHA. (foto: pixabay/oda-dao)


Pengetahuan yang kurang tentang HIV/AIDS membuat banyak orang enggan bersentuhan dengan ODHA. Hal itu terkait dengan adanya anggapan bahwa HIV/AIDS menular lewat sentuhan atau kontak fisik. Akibatnya, muncul ketakutan masyarakat untuk melakukan kontak fisik dengan ODHA. Mulai dari tak mau berjabat tangan, duduk berdekatan, hingga makan bersama.

Padahal, HIV hanya bisa ditularkan melalui hubungan seksual yang berisiko, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi virus HIV, dan melalui ibu yang positif HIV ke bayi yang dilahirkan.

Faktanya, bersentuhan kulit, berjabat tangan, berpelukan, atau makan bersama seorang ODHA tidak akan menularkan penyakit ini. Berada di dekat ODHA juga tidak akan membuat kamu tertular. Virus ini tak bisa berpindah lewat udara.


3. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang dampak buruk dari stigma pada ODHA

crying girl
Masyarakat tak menyadari stigma bisa berdampak buruk bagi ODHA. (foto: pixabay/RyanMcGuire)

Dalam buku UNAIDS (2007) yang berjudul Reducing HIV Stigma and Discrimination disebutkan banyak orang dengan mudah melakukan diskriminasi pada ODHA karena mereka tidak berpikir lebih jauh seperti apa dampak diskriminasi yang dilakukannya terhadap kehidupan ODHA.

Sebenarnya mudah saja untuk bisa hidup berdampingan dengan ODHA dalam masyarakat atau dalam hubungan pribadi setiap orang. Posisikan dirimu sebagai ODHA. Apakah kamu bisa menerima perlakuan diskriminatif dari orang-orang di sekitar? Pasti tidak bisa, kan.

Jadi kalau ada orang terdekat, rekan kerja, anggota keluarga, atau kenalan kamu ada yang didiagnosis dengan AIDS, jangan malah menjauhinya. Yang perlu dilakukan ialah menggali informasi sebanyak-banyaknya soal HIV/AIDS agar kamu tahu langkah apa yang harus dilakukan agar hubunganmu dengan ODHA tetap akur.(*)



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH