Berangkat dari Hobi Membaca, Eka Kurniawan Kini Jadi Penulis Berprestasi Novelis Eka Kurniawan. (Foto: ANTARA/Lia Santosa)

JANGAN sepelekan hobi membaca. Hobi yang satu ini bisa mengantar Anda menjadi pengusaha sukses seperti Warren Buffet yang setiap hari menyempatkan membaca 600 hingga 1.000 halaman buku. Atau, menjadi penulis berprestasi sebagaimana Eka Kurniawan.

Eka Kurniawan, penulis novel "Lelaki Harimau" memang tak bisa diragukan lagi kemampuan menulisnya. Sejumlah penghargaan pernah ia sabet. Sebut saja penghargaan World Reader's Award untuk novel perdananya, "Cantik itu Luka". Novelnya yang lain, "Lelaki Harimau" juga pernah masuk dalam nominasi penghargaan literatur bergengsi, Man Booker International Prize 2016.

Tak hanya itu. Novel "Seperti Dendam", "Rindu Harus Dibayar Tuntas", dan "0" karya Eka juga menuai pujian dari berbagai pihak. Di balik kesuksesannya, tentu aja sebuah perjalanan panjang. Seperti apa perjalanan Eka hingga akhirnya bersentuhan dengan dunia tulis menulis? Simak hasil wawancaranya.

Sejak kapan terjun ke dunia menulis? Dan masih ingat karya pertama waktu itu?

Waktu SMP, saya menulis puisi lalu dikirim ke majalah lalu dimuat. Ya perasaanya lebih ke, saya anak sekolah, bisa dibilang tidak populer, bukan anak paling pinter di kelas, di sekolah, bukan anak paling gaul yang jago olahraga. So so lah. Mirip-mirip wallpaper. Ada di sana, tetapi orang tidak terlalu perhatiin.

Saya nulis puisi lalu dimuat di majalah, lalu teman-teman satu sekolah dan guru-guru tahu, saya merasa bahwa saya memiliki sejenis keunikan. Saya enggak bisa olahraga, setidaknya saya bisa nulis. Saya melakukan hal yang teman saya tidak bisa lakukan.

Puisi apa yang Anda tulis waktu itu?

Saya enggak inget apa. Dulu saya merasa menulis puisi itu paling gampang. Saya pikirnya nulis pendek, hanya sepuluh baris. Nulisnya pendek-pendek. Makin lama ketika saya sudah mulai banyak baca, mulai belajar menulis, justru saya merasa menulis puisi sulit.

Lalu, bagaimana bisa akhirnya beralih ke novel?

Waktu SMP (Sekolah Menengah Pertama) belum ada bayangan menjadi penulis. Hanya suka baca saja. SMA suka baca. Ketika nulis puisi lalu dimuat di majalah, itu sudah enggak terlalu ingin menulis lagi.

Sama seperti kalau kita penasaran terhadap sesuatu, ya sudah. Sebagai anak remaja, perhatian kepada hal-hal lain misalnya suka musik. Zaman dulu ditanya mau jadi apa, ya lebih ingin jadi anak band.Tapi tahu enggak punya bakat musik, lalu beralih ingin jadi komikus. Enggak ada bayangan jadi penulis sampai pertengahan kuliah.

Saya lalu berpikir kayaknya bagus juga jadi penulis. Enggak ada bayangan mau nulis seperti apa. Tapi kalau waktu SMA ditanya mau nulis novel apa, saya akan jawab mau nulis novel silat. Karena bacaan saya novel silat. Jadi akan sangat tergantung bacaan saya. Ketika memutuskan jadi penulis saat kuliah, saat itu bacaan saya karya Herman Melville. Di antaranya soal petualangan-petualangan di Lautan Selatan.

Siapa penulis favorit Anda?

Dari luar, Abraham Stoker ya. Karena mungkin lebih sering itu buku-buku pertama yang saya baca, zaman masih kuliah. Teringat tulisan dia dan sampai sekarang saya masih merasa itu novel gotik terbaik.

Dia punya karakter. Karakter sangat jahat, tetapi sangat membekas. Membuat saya bisa berempati walau sejahat-jahatnya dia. Saya juga menonton filmnya, yang dimainkan oleh Francis Ford Coppola. Saya rasa itu film adaptasi terbaik yang pernah saya tonton.

Sedang sibuk mengerjakan apa saat ini?

Proyek antologi kumpulan budak setan, kumpulan cerpen horor. Kami semacam tribute saja untuk sesuatu yang sangat berarti untuk karir kepenulisan kami. Ketika kami berbicara dengan penulis lain soal membuat project, cerita pendek dengan karakter horor. Meskipun kami punya kebebasan masing-masing untuk mengartikan apa sih horor.

Dalam sehari ada target membaca?

Tidak tentu sih, kalau saya sih setiap ada waktu luang membaca sih. Enggak pernah memaksakan diri harus berapa halaman. Biasanya seperti hari ini sambil jemput anak. Karena rebutan parkir biasanya minimal setengah jam sebelumnya sudah ada di sana. Waktu setengah jam itu saya pergunakan untik baca. Setiap hari pasti baca.

Kalau sedang stuck menulis, biasanya melakukan apa?

Sering. Kalau stuck ya berhenti dulu, lepasin dulu. Saya merasa menulis bukan sesuatu yang saya harus push. Karena saya nulis novel, beda kalau saya jurnalis. Saya nulis kolom memang itu beda lagi. Novel, kalau sudah menulis 10 halaman lalu stuck, ya saya tinggalin dulu saja. Saya memikirkan ide lain, baca buku atau jalan-jalan, dengar musik, pokoknya lakukan saja sesuatu.

Inspirasi menulis biasanya berasal darimana?

Macam-macam, bisa dari bacaan, mengobrol dengan orang. Biasanya saya duduk, kalau merasa ada waktu, mood enak, buka laptop coba-coba mau nulis apa. Sampai kebentuk idenya misalnya asyik kalau begini-begini. (*)

Sumber: ANTARA

Cari tahu kebiasaan membaca Warren Buffet pada artikel Intip Kebiasaan Baca 3 Orang Sukses Ini, Jangan Mau Kalah Ya.


Tags Artikel Ini

Rina Garmina

YOU MAY ALSO LIKE