Benyamin Davnie Jadi Sasaran Kritik saat Debat Cawalkot Tangsel Pasangan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali kota Tangerang Selatan. Foto ANTARA/lukman Hakim.

MerahPutih.com - Debat publik putaran pertama Pilkada Tangerang Selatan, menjadi ajang adu gagasan soal pembangunan kawasan tersebut di masa depan.

Calon Wali Kota nomor urut satu, Muhamad menilai, Tangsel membutuhkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan untuk masyarakat.

Baca Juga

Debat Cawalkot Tangsel, Tiga Kandidat Beberkan Program Atasi Kesenjangan Sosial

"Betapa sulit membangun sekolah, betapa sulit kita membangun rumah sakit dan Puskesmas," ucap Muhamad dalam debat secara daring ini, Minggu (22/11).

Muhammad yang pernah menjabat sebagai Sekda ini ingin Tangsel punya Puskesmas di setiap kelurahan dan sekolah SMP Negeri. Hal itu menurutnya penting agar akses warga terhadap pendidikan dan kesehatan bisa lebih maksimal.

"Program saya, satu kelurahan satu Puskemas. Ini yang harus kita jawab juga, SMP juga setiap tahun masyarakat ribut," ungkapnya

Ia menceritakan bagaimana dirinya sampai demo dan dicaci-maki ibu-ibu karena anaknya tidak diterima di sekolah negeri. Kata dia ini adalah persoalan yang harus dipecahkan

Muhammad juga menyoroti terkait persampahan yang menjadi permasalahan Tangsel klasik selama ini. Masalah persampahan jadi sesuatu yang diselesaikan.

"Kalau perlu kita jadikan ruang terbuka hijau, suapaya sampah bisa dialihkan ke teknologi lain yang ramah lingkungan dan pelayanan masyarakat juga masih kurang," ucapnya.

Baca Juga

Target Pemilih di Pilkada 2020 Dinilai Terlalu Tinggi

Sementara itu, paslon Siti Nur Azizah-Ruhamaben menyoroti soal penanganan COVID-19 di Tangsel. Ia mengatakan, banyak orang mengatakan pemerintah gagal menangani masalah pandemi COVID-19 ini.

Itu bisa dilihat dari penanganan soal kesehatan, seperti rumah sakit di Tangerang Selatan grade nya turun dari C ke D. Azizah, ia beranggapan layanan kesehatan bagi masyarakat belum maksimal. Bahkan menurut Azizah, pengalihan anggaran untuk COVID-19 di Tanggerang Selatan belum maksimal.

"Apa yang disampaikan kita akan melihat secara de facto, bahwa layanan kesehatan yang dirasakan masyarakat masih belum maksimal dan kalau kita lihat anggaran dalam kenangan COVID-19. Saya lihat belum maksimal keberpihakannya," jelas Azizah.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie. - Antara/Achmad Irfan

Ucapan Azizah langsung ditanggapi calon nomor urut 3 Benyamin Davnie yang juga petahanan Wakil Wali kota. Menurut Benyamin, dia sebagai calon petahana sudah berupaya mengatasi pandemi COVID-19 di Tangsel secara maksimal.

"Selama COVID-19 kami sudah menangani, bahkan sudah mengalihkan anggaran lebih dari Rp 77 miliar APBD. Kami gelontorkan sejak awal tahun anggaran melalui berbagai dinas untuk menangani COVID-19 di Tangerang Selatan," kata Benyamin.

Kemudian terkait penurunan grade rumah sakit dari C ke D, pihaknya akan terus menambah rumah sakit lainnya sebagai infrastruktur kesehatan bagi masyarakat.

"Rumah sakit yang sedang dibangun oleh Pemerintah Tanggerang Selatan yang dibangun di Pondok Betung dan Pakulonan akan melengkapi rumah sakit yang ada di RSU Kota Tanggerang Selatan," papar dia.

Wakil Benyamin, Pilar Saga Ichsan juga turun memberikan tanggapan terkait keberadaan fasilitas kesehatan di Tanggerang Selatan. Saat ini Tanggerang Selatan memiliki rumah sakit tipe C. Menurut Pillar, ke depannya dengan adanya rumah sakit tipe C yang akan dibuat di Serpong Utara dan Pondok Aren.

"Mudah-mudahan akan menambah fasilitas kesehatan di Tangerang Selatan," kata Pilar yang juga keponakan Wali kota Airin Rachmy ini. (Knu)

Baca Juga

Ini Alasan 'Relawan Muda Melangkah' Dukung Muhamad-Saraswati di Pilkada Tangsel

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Dibolehkannya Road Bike di Sudirman-Thamrin Bentuk Kesetaraan Pemprov DKI?
Indonesia
Dibolehkannya Road Bike di Sudirman-Thamrin Bentuk Kesetaraan Pemprov DKI?

Pemprov DKI mencarikan solusi terbaik dengan perluas jalur sepeda

Kebijakan Gas dan Rem Bawa Optimisme Pada Pemulihan Ekonomi
Indonesia
Kebijakan Gas dan Rem Bawa Optimisme Pada Pemulihan Ekonomi

Langkah ini, tercermin pada pemulihan ekonomi yang mulai terlihat pada kuartal III yaitu minus 3,49 persen dari minus 5,32 persen pada kuartal II

Ini Alasan Polisi Tak Tahan Keponakan JK
Indonesia
Ini Alasan Polisi Tak Tahan Keponakan JK

Sadikin Aksa menjalani pemeriksaan selama 10 jam

Alasan Polisi Belum Tetapkan 47 Gay yang Ditangkap sebagai Tersangka
Indonesia
Alasan Polisi Belum Tetapkan 47 Gay yang Ditangkap sebagai Tersangka

Sedangkan, 47 pria lainnya yang merupakan peserta masih saksi.

Operator Legislator PDIP Ikhsan Yunus Disebut Punya Power Atur Kuota Bansos
Indonesia
Operator Legislator PDIP Ikhsan Yunus Disebut Punya Power Atur Kuota Bansos

Juliari didakwa menerima suap dengan total Rp 32,48 miliar secara bertahap

Peti Jenazah Dipasang di Beberapa Titik Jakarta Pusat
Indonesia
Peti Jenazah Dipasang di Beberapa Titik Jakarta Pusat

Pemasangan replika peti jenazah ini untuk mengingatkan warga masyarakat agar selalu berhati-hati saat beraktivitas di luar.

Saatnya Membangun KPK yang Baru
Indonesia
Saatnya Membangun KPK yang Baru

Pengajar Hukum Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada Zainal Arifin Mochtar menilai perlu membangun KPK baru yang berbeda dari lembaga saat ini.

Presiden Jokowi Berkurban Seekor Sapi Seberat 1,3 Ton untuk Warga Kalteng
Indonesia
Presiden Jokowi Berkurban Seekor Sapi Seberat 1,3 Ton untuk Warga Kalteng

sapi jenis limousin dengan berat sekitar 1,3 ton dan harganya sekitar Rp75 juta

KPK Soroti Pengembang di Jabar Yang Minim Serahkan Fasum dan Fasos
Indonesia
KPK Soroti Pengembang di Jabar Yang Minim Serahkan Fasum dan Fasos

"Hal ini harus menjadi perhatian bersama dan pemda perlu melakukan langkah-langkah inovasi percepatan," kata Perwakilan Satgas V Koordinasi Pencegahan KPK Tri Budi Rochmanto.

Ini Sejumlah Menteri yang "Tak Bisa Tidur" Gegara Gertakan Jokowi
Indonesia
Ini Sejumlah Menteri yang "Tak Bisa Tidur" Gegara Gertakan Jokowi

Terawan sempat disinggung Jokowi dalam sidang kabinet paripurna pada 11 hari lalu karena lambat mencairkan insentif bagi tenaga kesehatan.