Bendung Radikalisme, Ormas Islam Harus Bersatu dan Tinggalkan Ego Masing-Masing Diskusi publik terkait ancaman radikalisme di Jakarta, Jumat (25/10) (MP/Kanu)

MerahPutih.Com - Ancaman terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi bangsa disinyalir masih bergulir hingga kini, satu salah satunya bahaya radikalisme.

Oleh karenanya, unsur bangsa yakni TNI-Polri dan ormas Islam yakni Nahdlatul Ulama (NU) - Muhammadiyah yang turut melahirkan Indonesia harus bersatu melawan kelompok anti Pancasila dan mengawal ideologi bangsa tersebut sampai kapan pun.

Baca Juga:

Tugas Baru Jenderal Tito di Kabinet Jokowi Bersihkan ASN Radikal?

Pengamat intelijen dan teroris Stanislaus Riyanta mengatakan, perlu ada kerjasama antara Kemendagri dan bagian di bawahnya seperti TNI dan Polri untuk mengatasi ancaman nyata di negara Pancasila.

Oleh karena itu fungsi intelijen yang ada di Polri dan TNI serta BIN untuk mengumpulkan data guna ditanggapi aparat keamanan. Selain itu ormas - ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah juga harus bersatu untuk melawan radikalisme.

"Hal ini dilakukan agar kejadian seperti yang dialami Pak Wiranto tidak terulang. Oleh karena itu informasi intelijen dari Polri, TNI dan BIN disatukan untuk dijadikan satu basis data untuk penanganan terorisme," ujar Stanilaus Riyanto dalam Ngobrol Santai bertema "Ancaman Nyata di Negara Pancasila" di Jakarta, Jumat (25/10).

Semua orma Islam bersatu bendung ancaman radikalisme di Indonesia
Radikalisme dinilai sebagai salah satu ancaman nyata di Indonesia (MP/Kanu)

Stanilaus menuturkan, kerjasama antara pemerintah dan masyarakat perlu dilibatkan lagi. Karena ada oknum yang memanfaatkan agama sebagai daya tarik untuk menggalang massa melakukan radikalisme.

Oleh karena itu radikalisme bukan perbuatan agama tapi suatu pemikiran untuk motivasi sesuai kepentingan oknum tersebut. Adanya agama yang dimanfaatkan oknum tertentu merupakan pekerjaan rumah dari Kementerian Agama (Kemenag).

"Radikalisasi ini berbahaya. Oleh karena itu peran Kominfo juga cukup penting perannya untuk mengeblok konten-konten atau narasi-narasi radikalis, "ujarnya.

Sementara itu, mantan narapidana tindak pidana teroris (napiter) Sofyan Tsauri mengakui, radikalisme dan ekstrimisme masih menjadi ancaman karena memang ekstalasi politik yang berkembang. Oleh karena itu apa yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri dengan menangkap sejumlah terduga teroris merupakan fenomena gunung es. Sehingga jumlahnya akan lebih banyak lagi dari pada yang berhasil diungkap.

"Pada dasarnya terorisme tidak ada kaitannya dengan agama. Tetapi ada oknum yang memanfaatkan agama. Tapi sejatinya orang yang beragama secara tidak akan tega melakukan kekerasan dan kejahatan. Jadi dalam hal ini ada yang salah dalam memahami literasi agama," ujarnya.

Pengamat politik dari Indonesia Politic Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, ancama Pancasila yang nyata adalah dari trans liberalisme, kolonialisme, ekstrismisme agama, kapltalisme dan sparatisme. Ini menjadi ancaman dan ada di depan mata. Ancama nkapitalisme dan liberalime menciptakan kesenjangan ekonomi. Kesenjangan itu menjadi ancsman nyata bagi Pancasila.

Baca Juga:

Waspadai Penyebaran Paham Radikal di Kalangan Mahasiswa Baru

"Antisipasinya jangan jadikan Pancasila sebagai dogma tapi Pancasila harus dipraktekan dalam kehidupan sehari- hari. Sebagaimana bunyi sila ke 5, "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tandasnya.

Karyono menambahkan Pancasila harus menjadi the working ideologi, dan the living ideologi. Sehingga Pancasila tidak hanya sebagai dogma tapi juga harus bisa menghapus adanya kesenjangan ekonomi dan kemiskinan. Padahal di era Sukarno, Pancasila dijadikan acuan dalam kehidupan sehingga menolak masuknya ideologi kapitalisme dan liberalisme.

"Baru pada era Orde Baru, kapitalisme dan liberalisme masuk," tandasnya.

Turut hadir juga narasumber lainnya Ketua PMII DKI Daud Gerung, Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghofur dan Aktivis Muhammadiyah Amirullah.(Knu)

Baca Juga:

Berantas Radikalisme, Kemenag Dinilai Jangan Hanya Fokus Urus Haji



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH