Benarkah Universitas Brawijaya Terpapar Radikalisme, Begini Jawaban Rektor Rektor Universitas Brawijaya Nuhfil Hanani

MerahPutih.com - Rektor Terpilih Universitas Brawijaya Nuhfil Hanani mengaku langsung mengonfirmasi mahasiswanya melalui organisasi ekstra seperti PMII, HMI, GMNI dan IMM ketika mendengar kampus itu terpapar radikalisme.

Setelah mengonfirmasi kepada mahasiswa yang tergabung di organisasi ekstra maupun intra kampus, Nuflil meyakini tidak ada mahasiswanya yang terpapar radikalisme.

"Artinya kaderisasi di organisasi ekstra tidak ada. Kemudian saya coba organisasi intra, Insya Allah tidak ada yang sifatnya radikal. Masjid-masjid Insya Allah tidak ada. Memang dulu ada HTI, tapi sekarang sementara minggir dulu," kata Nuhfil dalam diskusi bertajuk "Strategi Kebangsaan Mengatasi Radikalisme di Universitas," di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Senin (11/6).

Nuhfil menyatakan bakal menyaring benar mahasiswa baru yang masuk ke kampus Unibraw. Buku-buku yang masuk dan menjadi pegangan mahasiswa pun akan benar-benar disaring.

Universitas Brawijaya

"Itu mahasiswa baru yang dicegat, difasilitasi segala macamnya. Tapi ada juga organisasi halaqah yang bawa mahasiswa baru yang carikan kosan macam-macam. Itu buku jadi sangat penting disaring," ujarnya.

Nuhfil menjelaskan, dua penyebab yang menjadi latar belakang mewabahnya radikalisme di lingkungan kampus. Pertama, lunturnya nilai nasionalisme pada generasi muda. Kedua, adanya pemahaman Islam yang keliru tentang jihad.

"Kita bangga dengan negara-negara lain. Ini sudah mulai luntur pada generasi kita. Kita lihat mahasiswa di Jepang selalu diajarkan bagaimana heroiknya pahlawan mereka. Kedua, ada pemahaman Islam yang keliru tentang jihad. Jihad adalah berdimensi waktu. Disesuaikan," jelas dia.

Menurut Nuhfil faktor eksternal juga turut mempengaruhi merebaknya radikalisme, salah satunya adalah penindasan yang kerap dilakukan Amerika Serikat terhadap bangsa Palestina.

"Bangsa Palestina diinjak terus sama Amerika, benci kita. Kemudian, ada doktrin jihad dari luar negeri, ada beberapa orang datang ke sini," tuturnya.

Sedangkan faktor internal, lanjut dia, adanya kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat. Menurut dia, radikalisme tidak selalu berkaitan dengan fundamentalis agama.

"Teori mengatakan, tidak harus radikalisme dari Islam, bisa lain karena kesenjangan ekonomi. Ada juga yang mengatakan, tidak terlepas dari latar belakang orang tersebut. Kalau latar belakangnya tidak bahagia sangat mudah jadi radikalisme," pungkasnya.

Universitas Brawijaya

Untuk menanggulangi hal itu, Polisi harus melakukan pendekatan yang berbeda di lingkungan kampus. Menurut dia, pendekatan sosiologis sangat penting dalam menanggulangi paham radikal tersebut.

"Pendekatan keamanan tolong deteksi dini, pelatihan bela negara. indonesia itu kan salah satu yang selalu bela negara," ujarnya.

Pendekatan kedua, sambung dia, melalui pendekatan akademik. Namun bukan kurikulum yang bersifat doktriner seperti Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pada zaman Orde Baru.

"Sekarang eranya sudah beda, diajak diskusi dan sebagainya. Kemudian pendekatan psikologis bagi yang mereka rawan kejiwaannya, ini perlu ada konseling. Unbraw sedang siapkan peraturan rektor. Mahasiswa adalah anak-anak yang kita bina," pungkas dia.

Sebelumnya, BNPT membeberkan setidaknya ada tujuh kampus PTN yang terpapar radikalisme. Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) disebut BNPT sudah disusupi paham radikal. (Pon)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH