Benarkah Tan Malaka Pernah Bertunangan? Tan Malaka. (Foto, Poeze, Tan Malaka, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia; Agustus 1945-Maret 1946)

PESERTA seminar Tan Malaka di Bukittinggi, Januari 2005, mendadak ketus. Mereka menggerutui pertanyaan 'usil' seorang sejarawan. "Apakah Tan Malaka itu seorang gay?" tanya Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI, "karena ia tidak menikah sampai akhir hayatnya dan terkesan tidak tertarik terhadap perempuan".

Pertanyaan itu menggantung hingga dua tahun berselang, Sejarawan Belanda Harry Poeze memberi titik terang ketika menerbitkan buku Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949.

Asvi, juga masyarakat luas termasuk peserta seminar nan ketus itu, lantas beroleh jawaban mengapa Tan Malaka jadi 'Jomblo Revolusi'.

Tan Malaka tak benar-benar jomblo. Ia selaik manusia biasa juga pernah jatuh cinta. Saat remaja, pemuda bernama Ibrahim pernah jatuh hati pada 'kembang' di desanya. Perempuan itu bernama Syarifah Nawawi, teman sekelasnya di Kweekschool Bukittinggi.

"Tetapi rasa cinta Syarifah nan rupanya timbul di dalam hatinya bagi Ibrahim, kawan sekelasnya itu, tidak terjawab," tulis Poeze pada Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik.

Selepas itu, mereka terpisah. Syarifah kemudian menikah dengan RAA Wiranatakusumah, Bupati Cianjur, sementara Ibrahim melanjutkan sekolah di Belanda.

Ibrahim, kelak dikenal Tan Malaka, pernah pula jatuh cinta pada beberapa perempuan di tanah rantau selagi sekolah maupun menjadi seorang revolusioner.

Meski begitu, desas-desus justru santer terdengar 'Pria Seribu Nama" itu pernah bertunangan dengan seorang perempuan di tanah air. Benarkah seorang 'Jomblo Revolusi' bertunangan?

Tan Malaka
Jo atau Paramitha Abdurrachma. (Foto: Poeze, Tan Malaka, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia; Agustus 1945-Maret 1946)

Setelah jadi pelarian politik di luar negeri, Tan Malaka pulang ke tanah air menjelang proklamasi kemerdekaan. Ia menyamar sebagai seorang tokoh pejuang bernama Hussein. "Ia tidak kawin, karena perkawinan akan membelokannya dari perjuangan," kenang SK Trimurti saat bertemu Hussein, dikutip dalam Poeze, Gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946.

Hussein telah membuka kedoknya kepada Ahmad Soebardjo, kawan lama seperjuangannya. Ia tinggal di halaman rumah Soebardjo. Dari kawannya itu pula, Hussein tak lain Tan Malaka, diperkenalkan kepada seorang gadis dengan nama sapaan Jo.

Jo memperkenalkan diri kepada Tan Malaka sebagai tetangga Soebardjo. Gadis berumur 25 tahun itu merasa senang bisa berkenalan dengan tokoh paling misterius selama bulan paling menengangkan, Agustus-September 1945. Tan Malaka, menurut Jo, dikutip Poeze, seorang jujur dan dalam tertentu terlalu naif.

Di masa itu, lanjut Jo, tak banyak orang dikenalnya, namun di antara sedikit itu Tan Malaka menaruh kepercayaan besar. Menahun sebagai orang buangan membuatnya selalu dihantui perasaan selalu dibuntuti. Setiap melihat orang baru, ia selalu mengendanp-endap lalu menghilang. Ia bahkan hanya mau berkenalan melalui orang telah dikenal dan dipercayanya.

Pada Jo, Tan Malaka justru semakin hangat. Ia sangat senang musik dan menikmati saat Jo bermain piano dengan sangat bagus, terutama repertoar Schubert. Meski begitu, Tan Malaka malah tak setuju saat Jo ingin menepuh karir di bidang musik. "Musik akan menuntut korban cita-cita revolusioner," kata Tan Malaka menyitir Napoleon Bonaparte.

Bagi Jo, menurut Poeze, ikatannya terhadap Tan Malaka berarti penyerahan sebagaian besar kepribadiannya sendiri. Tan Malaka menuntut kepasrahan tanpa syarat. Ia tak melihat Jo sebagai individu, melainkan sebagai personifikasi perempuan Indonesia. Ia meminta Jo meneladani Rosa Luxemburg, tokoh anarkis, dan Henriette Roland Holst, penyair kiri berkebangsaan Belanda.

"Tapi Tan Malaka sendiri seorang tangkas, brilian, tajam, terbuka, dan sama sekali Barat," kata Jo.

Bunga-bunga asmara itu terjeda dengan hiruk-pikuk kabar kekalahan Jepang atas Sekutu, lalu desakan para pemuda kepada Sukarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Tan Malaka kembali sibuk. Ia meninggalkan rumah Soebardjo dan kembali melakoni jalan revolusi.

Soebardjo, menurut Maroeto Nitimihardjo dikutip Asvi Warman Adam pada Menguak Misteri Sejarah, sempat akan menjodohkan Tan Malaka dengan Jo.

Kedekatan hubungan Tan Malaka dengan Jo, lanjut Asvi, menyebabkan teman-teman dekatnya menganggap keduanya telah bertunangan meski selisih usia mereka lebih dari 20 tahun.

"Jo mengakui mencintai Tan Malaka, namun hubungan mereka tidak sampai ke jenjang pernikahan," tulis Asvi.

Pernah suatu hari Adam Malik bertanya tentang kepada Tan Malaka, "Apakah Bung pernah jatuh cinta?"

"Pernah. Tiga kali malahan," jawab Tan Malaka. "Sekali di Belanda. Sekali di Filipina, dan sekali lagi di Indonesia. Tapi semuanya hanya katakanlah cinta tidak sampai, perhatian saya terlalu besar untuk perjuangan". (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH